• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 26 September 2022

Metropolis

Istiqamah dengan Amalan, Kisah Santri Berjuang Selesaikan Skripsi saat Pandemi

Istiqamah dengan Amalan, Kisah Santri Berjuang Selesaikan Skripsi saat Pandemi
Yusi Nisfu Syabana, alumni Pondok Pesantren Modern Amanatul Ummah, Siwalankerto, Surabaya. (Foto: NOJ/ dokumen Yusi)
Yusi Nisfu Syabana, alumni Pondok Pesantren Modern Amanatul Ummah, Siwalankerto, Surabaya. (Foto: NOJ/ dokumen Yusi)

Sidoarjo, NU Online Jatim

Setiap orang hampir pasti memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya. Termasuk dalam menyelesaikan tugas skripsi seperti Yusi Nisfu Syabana, mahasiswa semester akhir program S-1 Pendidikan Akuntasi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya.

 

Alumni Pondok Pesantren Modern Amanatul Ummah, Siwalankerto, Surabaya ini menyebut bahwa meskipun menyelesaikan skripsi harus tetap istiqamah melaksanakan amalan ibadah dan wirid. Supaya bisa selesai dengan lancar serta sesuai harapan.

 

Putri pertama dari dua bersaudara ini menceritakan, dirinya tertarik untuk mengembangkan bahan ajar sebagai tugas akhir.

 

Hingga akhirnya ia memilih judul skripsi “Pengembangan Bahan Ajar Modul Berbasis Flipbook pada Mata Pelajaran Komputer Akuntansi Transaksi Perusahaan Dagang Kelas XII di SMKN 1 Jombang”.

 

Yusi, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa saat pandemi Covid-19 berlangsung moda perkuliahan tatap muka atau luar jaringan (luring) berubah total menjadi dalam jaringan (daring) atau secara online.

 

Pertemuan dan pembahasan materi berlangsung dengan memakai aplikasi jarak jauh, demikian juga proses pengerjaan skripsinya. Proses konsultasi juga berlangsung tanpa bertemu dengan dosen pembimbing secara fisik.

 

“Kendala yang saya alami saat mengerjakan skripsi di kala pandemi ini adalah saat proses pembimbingan yang tidak bisa berkomunikasi secara tatap muka dengan pembimbing,” ungkap gadis berkulit putih tersebut.

 

Santri yang bercita-cita menjadi guru ini cukup aktif mengikuti berbagai kegiatan sejak di pesantren.

 

“Saya belajar di pesantren selama enam tahun. Dan selama itu saya banyak ditempa dengan bekal pondasi iman dan keistiqamahan dalam ibadah,” ujarnya kepada NU Online Jatim, Rabu (02/06/2021) malam.

 

Gadis berkacamata yang menyukai pelajaran akuntansi tersebut mengatakan bahwa bekal yang didapatkan di pesantren sangatlah bermanfaat ketika menghadapi masa perkuliahan. Padahal di perguruan tinggi sangat berbeda drastis dengan budaya pesantren.

 

“Amalan ibadah dan wirid selama di pesantren sebaiknya tetap istiqamah dijalankan saat kita menyelesaikan pendidikan dari pesantren dan berpindah di perguruan tinggi,” ujarnya berpesan.

 

 

Yusi mengisahkan bahwa salah satu kebiasannya di pesantren adalah membaca serangkaian bacaan wirid setelah sholat Maghrib dan di pagi hari.

 

 

“Saat saya sedang banyak tugas di perkuliahan, tetap saya sempatkan amalan tersebut, minimal baca ayat kursi ba’da maktubah,” pungkasnya.

 

Editor: Romza


Editor:

Metropolis Terbaru