• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 30 September 2022

Metropolis

Menteri BUMN Sampaikan Tiga Tekanan Besar di Indonesia

Menteri BUMN Sampaikan Tiga Tekanan Besar di Indonesia
H Erick Thohir, Menteri BUMN memberikan penjelasan di Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto. (Foto: NOJ/Yulia NH)
H Erick Thohir, Menteri BUMN memberikan penjelasan di Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto. (Foto: NOJ/Yulia NH)

Mojokerto, NU Online Jatim

Saat menghadapi Covid-19 yang sangat berat, pertanyaannya apakah kita rebahan atau bangkit? Pasti bangkit. Itulah yang saat ini dilakukan pemerintah, alim ulama dan lainnya. Berkat kebersamaan, Indonesia membuktikan menjadi salah satu negara yang terbaik dalam menangani Covid-19.
 

Hal itu disampaikan H Erick Thohir selaku Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Republik Indonesia (RI). Hal itu disampaikan saat sambutan dalam rangka ‘Istighotsah dan Doa Keselamatan untuk Indonesia’ di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto. Acara dipusatkan di masjid pesantren setempat, Ahad (02/01/2022).
 

“Tidak cukup di situ, yang terpenting juga kebangkitan ekonomi adalah menjadi kunci untuk kita semua,” katanya.
 

Menurutnya, sampai saat ini dirinya mengimbau kepada masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan, apalagi dengan kemunculan Omicron.  “Pemerintah juga menggulirkan vaksin booster atau vaksin ketiga yang memang harus dilakukan,” katanya. 
 

Erick mengatakan, era sekarang sedang dihadapkan pada tekanan yang tidak pernah dihadapi manusia sebelumnya. Ada tiga tekanan sekaligus. Pertama, tekanan kesehatan yang musuhnya tidak kelihatan, tiba-tiba langsung sakit. Kedua, tekanan perlunya sumber daya alam (SDA) di Indonesia harus dibuka sebesar-besarnya.
 

“Menurut saya tidak setuju, karena zaman Belanda SDA diambil untuk memperkaya negara lain. Kita tidak mau adanya pasar bebas sehingga SDA kita harus dikirim ke luar negeri sebebas-bebasnya. SDA kita harus dipastikan untuk kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi kita,” ungkapnya.
 

Yang ketiga yakni tekanan digitalisasi internet, dimana banyak pekerjaan yang akan hilang dan banyak yang tumbuh tapi akan hilang. “Contohnya pada gelombang pertama ini ada jualan online, barang-barangnya asing semua. Akhirnya sendi-sendi produksi di desa terkena dampaknya,” tegasnya.
 

Karena itu, dirinya ingin menawarkan solusi bersama dan bergotong royong untuk menghadapi tiga tekanan tadi. Yaitu kesempatan untuk meningkatkan dan berusaha, hingga kesempatan untuk membuka lapangan kerja.
 

Dirinya menyatakan kedatangannya membawa misi presiden untuk terus menjaring kekuatan bergotong royong menghadapi tekanan yang memang harus dihadapi bersama. “Saya berharap, kita harus terus untuk meningkatkan kerja sama, karena ini kesempatan kita bersama, jangan takut sampai tahun 2045 ekonomi kita akan terus tumbuh,” harapnya.


Editor:

Metropolis Terbaru