• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 27 Juni 2022

Metropolis

Pemberitaan terkait Covid-19 di Pesantren Cenderung Menyudutkan

Pemberitaan terkait Covid-19 di Pesantren Cenderung Menyudutkan
Santri di pesantren harus patuh protokol kesehatan. (Foto: NOJ/Ig)
Santri di pesantren harus patuh protokol kesehatan. (Foto: NOJ/Ig)

Surabaya, NU Online Jatim

Kesan bahwa pesantren membatasi diri dalam mewartakan kondisi terkait Covid-19 tentu saja tidak berdiri sendiri. Banyak alasan yang membenarkan hal tersebut. Salah satunya adalah stigma negatif yang diberikan kepada pesantren apabila diketahui kiai, ustadz dan santri ternyata terpapar virus Corona.

 

Penegasan ini disampaikan Satgas Penanganan Covid-19 Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ulin Nuha.

 

Dijelaskannya bahwa hampir semua pesantren berusaha menutup-nutupi informasi masuknya Covid-19. “Pihak pesantren, memiliki pengalaman traumatik menjadi korban informasi perundungan,” katanya, Selasa (22/9/2020).

 

Dirinya kemudian menceritakan kasus pesantren di Wonogiri yang babak belur dihajar informasi yang sesat atau sengaja disesatkan.

 

“Soal jumlah santri yang terpapar adalah salah satunya. Sempat santer diberitakan jumlah santri yang terpapar lebih banyak dari jumlah santri yang sebenarnya,” sesal Ulin.

 

Pengasuh Pesantren Afkaaruna, Cilacap ini menyayangkan jika ada klaster di pesantren, pemberitaan media dan komentar pengguna media sosial cenderung menyalahkan.

 

“Banyak yang menyatakan pesantren tidak mengikuti protokol, nekat buka kelas di masa pandemi, pembawa virus dan semacamnya,” keluhnya. Pesantren tentu tidak nyaman distigmatisasi semacam itu, lanjut dia.

 

Selain pemberitaan media yang cenderung menyudutkan, alasan lain mengapa pesantren lebih menutup diri disebabkan karena ingin menjaga kekhawatiran orang tua santri.

 

“Pesantren yang terpapar akan membuat wali santri dan banyak pihak cemas. Pesantren tidak berharap menjadi sumber kecemasan apalagi bagi wali santri,” sergahnya.

 

Stereotipe negatif terhadap Covid-19 sebagai aib juga membawa dampak mengapa para pengasuh pesantren cenderung tertutup.

 

“Stigma Covid-19 adalah aib, pembawa virus menular, penyebab masalah masyarakat dan cap buruk lainnya,” sambung dia.

 

Selain karena stigma Covid-19 sebagai penyakit menular dan cap buruk lain, masih ada beberapa kiai yang hingga kini tidak percaya dengan adanya pandemi ini.

 

“Kiai dari pesantren tersebut terlanjur dikenal ‘tidak beriman pada Covid-19’ dengan mengatakan tidak perlu takut pada virus Corona, itu konspirasi kafir, dan sebagainya,” sesal Ulin.

 

Di akhir paparan, dirinya berharap masyarakat pesantren terus menerapkan protokol kesehatan secara disiplin. “Hal itu guna mencegah munculnya klaster baru,” pungkasnya.


Editor:

Metropolis Terbaru