• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 5 Desember 2022

Pantura

Perayaan Maulid Nabi dibalut Kesenian Tradisional Lamongan

Perayaan Maulid Nabi dibalut Kesenian Tradisional Lamongan
Pawai Ukhuwah yang digelar oleh Pengurus Ranting NU Sumuran, Lamongan.
Pawai Ukhuwah yang digelar oleh Pengurus Ranting NU Sumuran, Lamongan.

Lamongan, NU Online Jatim

Peringatan Maulid Nabi Muhammad akan selalu menarik perhatian kalangan masyarakat Nahdlatul Ulama (NU). Warga nahdliyin seakan tak pernah kehabisan ide untuk merayakan hari lahir baginda Muhammad SAW. Hal tersebut juga dilakukan oleh oleh Pengurus Ranting (PR) beserta Badan Otonom (Banom) NU Sumuran, Lamongan.


Perayaan Maulid Nabi Muhammad digelar selama dua hari sejak Kamis (12/11/2020) hingga Jumat (13/11/2020). Musyafin, Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sumuran memaparkan bahwa acara tersebut adalah bentuk nyata dari kecintaan kepada Rasulullah.


“Acara tersebut tak lain adalah salah satu bentuk bukti cinta kita kepada Rasulullah Muhammad SAW,” ujarnya.

 

Selain itu, agenda tersebut merupakan agenda tahunan PR NU Sumuran, Lamongan. Diharapkan perayaan Maulid Nabi bisa merangkul segenap elemen masyarakat khususnya jamiyah NU serta mempererat ukhuwah islamiyah.

 

“Kami mengedepankan ukhuwah islamiyah dan ingin merangkul semua masyarakat,” ungkap Musyafin.

 

Ukhuwah islamiyah tersebut diwujudkan dengan menyelenggarakan pawai ta’aruf yang menghadirkan kesenian tongklek. Tongklek adalah salah satu kesenian tradisional yang menggunakan alat-alat musik sederhana seperti gambang, simbal, angklung hingga alat musik yang terbuat dari bahan bekas seperti drum bekas dan galon bekas. Musyafin mengungkapkan bahwa penampilan tongklek merupakan bentuk ikhtiaar dalam menyatukan seluruh elemen masyarakat.

 

“Kesenian ini adalah bentuk usaha kami agar banyak yang hadir, banyak yang ikut, dan tentunya tidak lupa sebagai bentuk usaha merangkul seluruh elemen masyarakat,” jelasnya.

 

Lebih lanjut, Musyafin juga menyatakan musik tradisional Lamongan tersebut diharap mampu merefleksikan bentuk cinta Nabi tanpa menghilangkan kesenian khas Indonesia.

 

“Kami berharap pemuda tidak lupa dengan sejarah, tapi juga tanpa mengurangi rasa cinta kepada Rasulullah,” lanjutnya.

 

Acara yang dipersiapkan selama 15 hari tersebut nyatanya mampu menarik antusiasme warga. Hal ini disampaikan Musyafin bahwa acara tersebut dihadiri hampir 700 orang.

 

“Acara dihadiri sekitar 250 orang yang berkumpul di halaman Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mambaul Ulum, serta ada yang menunggu di pinggir jalan raya yang masuk dalam lintasan pawai ta’aruf. Kurang lebih sekitar 450 orang,” pungkasnya.

 

 

Penulis: Anita

Editor: Risma Savhira


Pantura Terbaru