Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Kali Pertama, Unusida Terima Kunjungan Studi Tiru Unugiri Bojonegoro

Kali Pertama, Unusida Terima Kunjungan Studi Tiru Unugiri Bojonegoro
BPP Unusida menerima kunjungan dari BPP Unugiri, di gedung baru ruang Fakultas Ekonomi Unusida, Sabtu (20/02/2021). (Foto: NOJ/Yuli Riyanto)
BPP Unusida menerima kunjungan dari BPP Unugiri, di gedung baru ruang Fakultas Ekonomi Unusida, Sabtu (20/02/2021). (Foto: NOJ/Yuli Riyanto)

Sidoarjo, NU Online Jatim

Sekretaris Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) H Sholehuddin mengatakan, bahwa hari Sabtu (20/02/2021) merupakan hari bersejarah bagi BPP Unusida.

 

“Pasalnya, untuk kali pertama badan khusus yang dibentuk Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sidoarjo sebagai perpanjangan tangan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang mengelola pendidikan tinggi itu menerima kunjungan silaturahim. Kegiatan tersebut dikemas dalam studi tiru dari BPP Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro,” kata H Sholehuddin kepada NU Online Jatim, Senin (22/02/2021).

 

Lebih lanjut, Ketua Pengurus Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Sidoarjo tersebut menerangkan, acara ini dihadiri oleh Ketua BPP Unusida H Arli Fauzi, Wakil Ketua H Zainul Arifin dan H Zainal Abidin, serta Sekretaris.

 

“Sedangkan dari Rektorat tampak hadir Wakil Rektor I Hadi Ismanto dan H Khoifulloh. Turut hadir bersama rombongan dari BPP Unugiri, yakni Ketua H Saifuddin Idris didampingi oleh tiga pengurus lain dan satu staf,” terangnya.

 

Dijelaskannya, acara studi tiru dilangsungkan di ruang Fakultas Ekonomi Unusida kampus baru. Acara diawali dengan pembacaan Iftitah oleh H Zainul Arifin, dilanjutkan sambutan selamat datang oleh H Zainal Abidin.

 

“Wakil Rektor I H Ismanto dalam sambutannya mewakili rektor yang masih berada di Jakarta, memaparkan tentang pencapaian Unusida dari sisi ketenagaan, prestasi akademik, maupun non akademik,” jelasnya.

 

Dalam paparannya, H Sholehuddin menyampaikan sejarah singkat tentang Unusida dan BPP Unusida. Menurut pandangannya, yang terpenting adalah adanya pembagian peran antara Unusida dan BPP, serta yang tidak kalah penting yakni fungsi mekanisme kerja BPP.

 

“Karena BPP mempunyai peran pengawasan dan pertimbangan, merupakan perpanjangan tangan PBNU sebagai penyelenggara pendidikan tinggi secara yuridis. Sedangkan Badan Hukum Perkumpulan dan PCNU bersama PC Muslimat NU Sidoarjo sebagai pemilik (owner) secara de facto dan  de jure, karena PCNU dan Muslimat NU merupakan bagian dari PBNU,” paparnya.

 

Lebih jauh H Sholehuddin mengemukakan, acara ini semakin hangat dengan dibukanya dialog. Semua pertanyaan dari tim BPP Unugiri secara tuntas dijawab oleh Ketua BPP Unusida H Arli Fauzi. Dengan sedikit guyonan ala NU, dialog pun berjalan semakin intens tapi cair.  

 

“Mantan ketua DPRD Sidoarjo itu menceritakan kondisi awal Unusida dengan beban hutang yang tidak sedikit. Beli banner saja tidak ada biaya saat itu, apa lagi bayar honor dosen yang kala itu nunggak selama enam bulan,” ungkapnya.

 

Menurut H Arli Fauzi, dengan kerja keras, sinergitas, saling percaya dan mendukung sesuai peran masing-masing, lambat laun kondisi keuangan Unusida makin sehat. Beban hutang sudah tidak ada selain dengan pihak internal.

 

“Tentu ini adalah capaian yang luar biasa, dirinya juga memberikan kiat-kiat penggalian dana. Mencari terobosan dan negosiasi dengan berbagai pihak terutama untuk pembangunan pusat gerakan NU yang salah satunya sebagai pusat pendidikan termasuk kampus Unusida,” tutur H Arli Fauzi.

 

Setelah menyimak paparan dan dialog, BPP Unugiri mengaku terkesan dengan adanya harmoni dan sinergitas sebagai kunci kesuksesan pengelolaan Unusida bersama BPP. Termasuk keterlibatan Badan Otonom (Banom) yang menginspirasi.

 

H Saifuddin Idris selaku ketua rombongan menyampaikan keinginan bagaimana tata cara pengelolaan Unusida baik secara administrasi, kewenangan, maupun hubungan dengan PBNU dan PCNU Sidoarjo.

 

“Unugiri Bojonegoro merupakan hasil merger dua perguruan tinggi yang sebelumnya berbentuk yayasan. Atas inisiatif Institut Agama Islam (IAI) Sunan Giri, setelah melakukan konsultasi dengan PBNU, maka berdirilah Unugiri yang kemudian disusul bergabungnya IAI Sunan Giri,” jelasnya.

 

Menurut pandangannya, tentu tidak mudah mengelola perguruan tinggi berbadan hukum NU selain dari sisi pendanaan.

 

“Dalam mengelola hubungan antar personal di tubuh NU juga masih perlu banyak belajar kepada BPP Unusida yang sudah lebih dulu ada, meski secara usia lebih tua IAI Sunan Giri,” pungkasnya.

 

Di akhir sesi ditutup dengan saling bertukar cindera mata antar kedua lembaga, selain itu BPP Unusida juga berjanji akan melakukan kunjungan balasan ke BPP Unugiri.

 

Editor: Risma Savhira

Iklan promosi NU Online Jatim