Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Saleh Digital, Cara Tangkal Hoaks di Era Disrupsi

Saleh Digital, Cara Tangkal Hoaks di Era Disrupsi
Kajian rutin yang dilaksanakan secara virtual oleh PK MATAN UIN Sunan Ampel Surabaya, Rabu (11/11/2020). (Foto: NOJ/ Anita).
Kajian rutin yang dilaksanakan secara virtual oleh PK MATAN UIN Sunan Ampel Surabaya, Rabu (11/11/2020). (Foto: NOJ/ Anita).

Surabaya, NU Online Jatim

Fenomena hoaks atau penyebaran berita bohong marak di masyarakat, utamanya di era disrupsi. Melihat realitas sosial tersebut, Pengurus Komisariat Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (PK MATAN) UIN Sunan Ampel Surabaya mengadakan kajian secara virtual, Rabu (11/11/2020). Kajian rutin ini mengusung tema “Pentingnya Kesalehan Digital untuk Menangkal Hoax di Era Disrupsi”.

 

Kegiatan yang menghadirkan Risma Savhira D L, Sekretaris PK MATAN UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut dihadiri pembina, senior, dan anggota MATAN kampus setempat, serta muhibbin MATAN dari berbagai daerah.

 

Savhira memaparkan, perkembangan kehidupan masyarakat terjadi begitu cepat. Hal ini dapat terjadi tanpa adanya batasan ruang maupun waktu. Selain itu, dinamika kehidupan bermasyarakat tersebut juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang semakin pesat.

 

“Dinamika kehidupan masyarakat berkembang begitu cepat, sehingga mempengaruhi perubahan kehidupan di masyarakat.  Hal itu disebabkan oleh adanya perkembangan teknologi yang sangat cepat,” ujarnya.

 

Perempuan yang juga pengurus Lumbung Kreasi Asta Santri (LKAS) Pimpinan Wilayah (PW) Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Jawa Timur ini mengungkapkan, keberadaan media sosial adalah tunas dari kemajuan teknologi. Lahirnya media sosial merupakan angin segar bagi masyarakat.

 

Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial lebih memudahkan aktivitas banyak orang. Kemudahan tersebut antara lain untuk berkomunikasi, mencari berita terkini maupun informasi, bahkan dengan perkembangan teknologi yang pesat tersebut mampu menghadirkan kebiasaan baru yang lebih mudah. Yakni mengaji atau belajar secara online tanpa harus datang ke lokasi.

 

Kendati demikian, Savhira juga mengungkapkan, hal tersebut berbanding lurus dengan dampak negatif dari media sosial. Hal ini bisa dilihat dari mudahnya penyebaran informasi maupun berita hoaks, mudahnya akses untuk melakukan ujaran kebencian, hujatan, memfitnah hingga menghina. Oleh sebab itu, hal tersebut mampu memecah belah masyarakat.

 

“Adanya media sosial menimbulkan dampak positif dan negatif. Dampak positif seperti halnya kita saat ini melakukan kajian secara online, kemudian dampak negatifnya adalah dengan mudahnya tersebar berita atau informasi hoaks, hujatan, hinaan, dan fitnah yang hal ini akan mengakibatkan pecah belah masyarakat,” papar perempuan yang juga aktif di MATAN Media Official ini.

 

Savhira juga menambahkan, untuk menjadi saleh digital seharusnya melakukan tabayyun (mencari asal muasal, sumber yang jelas) terlebih dahulu. Ini harus dibarengi dengan sikap santun dalam penyampaian.

 


 

 “Ada dua macam etika dalam bermedia sosial. Etika tertulis yaitu seperti yang tertuang dalam UU ITE, kemudian etika tidak tertulis yakni seperti norma-norma atau adat-istiadat yang berlaku di masyarakat. Kemudian untuk menjadi saleh digital adalah dengan melakukan tabayyun terlebih dahulu sebelum menyebarkan berita atau informasi, dan memiliki kesantunan dalam berbahasa,” ujarnya.

 

Penulis: Anita

Editor: Romza

PWNU Jatim Harlah