• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 17 Agustus 2022

Rehat

Kasih Sayang Hadratussyekh saat Dikerjai Santri

Kasih Sayang Hadratussyekh saat Dikerjai Santri
Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari. (Foto: NOJ/NU Network)
Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari. (Foto: NOJ/NU Network)

Hari ini, Senin (14/02/2022), warga Nahdlatul Ulama (NU) atau Nahdliyin tengah memperingati hari lahir KH M Hasyim Asy’ari. Sosok yang kemudian sebagai pendiri NU dan kiprahnya demikian mengagumkan.
 

Juga di bulan ini bersamaan dengan Rajab, waktu di mana NU juga didirikan pada 16 Rajab 1344 H. Dengan demikian, usia NU telah memasuki 99 tahun, sebuah umur yang segera memasuki 1 abad.
 

Menyayangi Santri
Di luar itu semua, dalam sebuah kisah disampaikan bahwa KH M Hasyim Asy’ari atau Hadratussyekh memiliki seorang santri bernama Sulam Syamsun. Ia adalah ayah dari Munyati Sulam, penyiar di TVRI yang biasanya disuruh qiraah. Sulam Syamsun ini adalah santri yang tergolong bandel. Saking bandelnya, ia sampai memiliki banyak utang. 
 

Pada suatu ketika usai hari raya, setelah musim liburan, Sulam tidak berani kembali ke pondok. Ia kemudian berkirim surat kepada kiainya, KH M Hasyim Asy’ari yang kurang lebih isinya:  Teruntuk Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Ini saya ayahanda Sulam. Mengabarkan, bahwa Sulam tidak bisa kembali ke pondok, karena Sulam telah meninggal dunia. Jika ada salahnya mohon dimaafkan. Jika ada utangnya mohon untuk diikhlasakan. 

  

Mendapat surat seperti itu, Kiai Hasyim menangis (muwun), karena salah satu santrinya meninggal dunia. Kemudian mengumpulkan para santri untuk diajak shalat ghaib (shalat yang dilakukan tatkala seorang muslim meninggal dunia pada tempat yang jauh dan tidak memungkinkan didatangi). 
 

Setelah shalat ghaib, Hadratussyekh mengumumkan: Hadirin sekalian, ini Sulam telah meninggal dunia. Maafkan kesalahannya, ya? Dimaafkan, ya?,” pinta Kiai Hasyim, dalam bahasa Jawa. Semua santri menjawab: “Nggih...” (Iya) 
 

Kemudian yang agak berat, soal utang. “Kalau ada utangnya, diikhlaskan, ya?” 
 

Karena Kiai Hasyim yang berbicara, semua santri menjawab kompak: “nggih...”   
 

“Halal?” 
 

“Halal,” jawab santri, serempak. 
 

Tak dinyana, tiba-tiba kemudian, dari pintu pondok, Sulam berlari mendekat sambil berteriak: “Matur nuwuuun” (terima kasih....!) 
 

Melihat kelakuan santrinya yang “kurang ajar” seperti itu, Kiai Hasyim bukannya marah, malah justru menangis, merangkul Sulam. “Alhamdulillah, Lam, kamu masih hidup. Aku kira meninggal dunia beneran. Ya sudah, aku sudah terlanjur mengikrarkan: Kamu di sini sudah tidak punya salah dan tidak punya utang. Adapun yang masih belum ikhlas dengan utangmu, karena kamu masih hidup, Lam, dan aku sudah berbicara, aku yang menanggungnya sekarang. Jadi kalau ada yang punya utang di Sulam, atau yang diutangi Sulam, tagihlah aku,” tutur Kiai Hasyim. 
 

Itulah, sekelumit kisah kearifan sosok KH Hasyim Asy’ari. Juga salah satu potret kenyonyolan santri sekaligus keteladanan kiai dalam balutan kultur pesantren. Kekonyolannya jelas, bahwa Sulam mencari akal agar bagaimana utangnya bisa lunas dengan caranya yang seorang ‘santri nakal’. 
 

Di sisi lain, kita melihat bagaimana sang pendiri NU, yang kini ekspansi kulturalnya diekspor ke berbagai negara itu, tak mudah marah. Kiai Hasyim memperlakukan santri yang nakal di luar batas kewajaran pun – dengan mengaku telah meninggal sekalipun – dengan penuh kasih sayang dan cinta. Membalas kekonyolan dengan harum kebaikan. Ini baru akhlak seorang ulama Kiai Hasyim Asy'ari, belum Baginda Nabi Muhammad SAW yang akhlaknya tak ada tandingannya. 
 


Rehat Terbaru