• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Juli 2022

Tapal Kuda

Aksi Buang Sesajen, NU Lumajang: Kontraproduktif dengan Moderasi Beragama

Aksi Buang Sesajen, NU Lumajang: Kontraproduktif dengan Moderasi Beragama
KH Fanandri Abdussalam, Wakil Rais Syuriyah PCNU Lumajang. (Foto: NOJ/Sufyan Arif)
KH Fanandri Abdussalam, Wakil Rais Syuriyah PCNU Lumajang. (Foto: NOJ/Sufyan Arif)

Lumajang, NU Online Jatim

Viral aksi membuang sesajen oleh salah seorang pria yang tak dikenal di kawasan erupsi Semeru di Lumajang banyak mendapat sorotan. Di antaranya dari KH Fanandri Abdussalam, Wakil Syuriah NU Lumajang. Dia menganggap aksi yang dilakukan oleh oknum yang disebut-sebut salah satu relawan itu kontraproduktif dengan prinsip moderasi beragama.

 

Kiai Fanandri mengatakan, Lumajang yang dikenal memiliki penduduk terdiri dari berbagai macam suku dan agama selama ini hidup berdampingan. Bahkan, Lumajang mempunyai Pura Mandara Giri Semeru yang menjadi pura jujukan ibadah umat Hindu di Bali karena dianggap sebagai pura tertua.

 

"Jika yang membuat sajen adalah orang-orang Muslim, hal itu tentu sangat bergantung kepada komitmen batin pelakunya, tidak serta-merta syirik. Jika yang membuat sajen saudara Hindu, maka hal itu merupakan bentuk intoleransi. hal ini amat merugikan cita-cita Kabupaten Lumajang yang ingin menjadi Kabupaten Moderasi Beragama," kelas Kiai Fanandri kepada NU Online Jatim pada Senin (10/01/2022).

 

Dia lantas menyinggung sejarah tersebarnya Islam di Indonesia. Wali Songo sebagai penyebar agama Islam di Indonesia, khususnya Pulau Jawa, harus dijadikan panutan dalam berdakwah. Dalam praktiknya, Wali Songo tidak serta-merta menghilangkan tradisi budaya yang berlaku, melainkan menyisipkan nilai-nilai keislaman di dalamnya.

 

"Yaitu dengan cara yang santun lagi bijaksana, bukan memukul tapi merangkul, bukan bertanding tapi bersanding, bukan bertengkar tapi berkelakar, bukan memusuhi tapi menemani. Bak sikap terpuji Nabi yang dengan lembut menyuapi Yahudi yang buta meski terus dicaci-maki," ujar kiai yang dikenal dengan ceramahnya yang penuh humor ini.

 

Karena itu, Kiai Fanandri berpesan umat Islam harus belajar dari masa lalu. Pendekatan budaya dalam berdakwah dengan akhlaqul karimah menjadi kunci diterimanya Islam di tengah masyarakat sehingga bisa lestari di bumi Allah.

 

"Sehingga kini Indonesia menjadi negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Rasanya fakta ini sudah cukup untuk menjadi i’tibar bagi kita semua," pungkas Kiai Fanandri.


Tapal Kuda Terbaru