• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 26 November 2022

Tapal Kuda

Wakil Ketua PBNU Katakan Belajar dari Google Tidak Transfer Akhlaq dan Ketaqwaan

Wakil Ketua PBNU Katakan Belajar dari Google Tidak Transfer Akhlaq dan Ketaqwaan
Wakil Ketua PBNU, KH Zulfa Musthofa. (Foto: NOJ/Faisol)
Wakil Ketua PBNU, KH Zulfa Musthofa. (Foto: NOJ/Faisol)

Pasuruan, NU Online Jatim
Wakil Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Zulfa Musthofa menjelaskan perbedaan orang yang belajar melalui google, youtube dan pesantren. Menurutnya, perbedaan itu terletak pada akhlak, ketaqwaan dan keikhlasan. Hal itu diungkapkan dalam tayangan YouTube NU Online, Jum'at malam (15/07/2022).

 

"Secerdas-cerdasnya google tetap tidak bisa mentransfer akhlak, ketaqwaan dan keikhlasan kepada manusia," ujarnya.

 

Menurutnya, ngaji di youtube itu diperbolehkan, namun ruhiyahnya tidak ada. Contohnya ketika belajar al-Qur'an dan tajwid melalui youtube tidak bisa mengetahui apakah bacaan pembaca benar atau salah. Hal itu dikarenakan pengajarnya tidak tatap muka.

 

"Jika guru dan murid tatap muka, maka sang guru akan mengingatkan jika bacaan tersebut salah atau kurang tepat," terangnya.

 

Kiai Zulfa menjelaskan bahwa hari ini banyak sekali para da'i, penceramah dan ustadz youtube yang mudah menjelaskan hukum-hukum hanya karena melihat fenomena yang dilihat, tanpa merujuk kitab kitab dan refrensi yang ada.

 

"Mereka berani berfatwa karena banyaknya subscriber, sehingga dianggap panutan. Apalagi menjadikan google dan youtube sebagai sebab untuk belajar agama sehingga, termasuk orang yang rugi," ujarnya.

 

Lebih lanjut Kiai Zulfa mengatakan, pada zaman dahulu ulama-ulama mencari ilmu itu diimlak bukan ditulis, sehingga menempatkan ilmunya di dalam hatinya. Berbeda dengan zaman sekarang ilmu bukan hanya di imlak, tetapi ditulis dan bahkan ada di google.

 

"Jika ilmu ada di hati kapan aku butuh dia akan datang, hatikulah tempat ilmuku bukan lemari lemari kitabku, walaupun kitab kitab sudah ditulis dibuku kuncinya tetap dipara ulama ulama," katanya menirukan perkataan Imam Syafi'i.

 

Ia mengungkapkan, google tidak bisa mengidentifikasi orang yang sedang mencari info darinya seberapa kualitas ilmunya. 

 

"Jika yang bertanya kepada para ulama mesti jawabnya berbeda-beda karena dilihat dari kapasitas, mazhab dan kebiasaannya," tutupnya.


Tapal Kuda Terbaru