• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 6 Desember 2022

Tokoh

Kisah KH Zaini Mun'im Membasmi PKI di Wilayah Probolinggo

Kisah KH Zaini Mun'im Membasmi PKI di Wilayah Probolinggo
KH Zaini Mun'im, Pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo. (Foto: NOJ/Nurul Jadid)
KH Zaini Mun'im, Pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo. (Foto: NOJ/Nurul Jadid)

Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan peristiwa tragis bagi bangsa Indonesia. Banyak nyawa rakyat tak berdosa melayang, tetapi juga menjadi noktah hitam bagi demokrasi yang menjujung nilai-nilai kemanusiaan. Di sini masyarakat Indonesia perlu mencatat perjuangan para kiai pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU) dalam mencegah pergerakan PKI, di antaranya adalah perjuangan KH Zaini Mun'im Pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolingo.

 

Zaini Mun’im lahir tahun 1906 di Desa Galis, Pamekasan dari pasangan KH Abdul Mun’im dan Nyai Hamidah. Sewaktu kecil, sang ayah memberinya nama Abdul Mughni, namun setelah menunaikan ibadah haji, namanya diganti menjadi Zaini. Ia merupakan tokoh yang terlibat dalam pembasmian orang PKI wilayah Probolinggo.

 

KH Zaini Munim merupakan panglima perang Probolinggo yang membasmi orang PKI di daerah tersebut. Kiai Zaini telah menjalin kerja sama dengan tokoh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur dan pemerintah. 

 

Untuk membasmi PKI, Kiai Zaini mengajak santrinya membaca istighosah dan belajar bela diri setiap malam. Dirinya sudah mengisyaratkan bahwa akan terjadi pertempuran yang membahayakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang disimbolkan dengan pakaian maduraan atau sakeraan setiap harinya.

 

Pada tanggal 27 September 1965, Kiai Zaini secara tiba tiba melakukan konsolidasi kepada seluruh santri senior, tokoh NU dan masyarakat di Pondok Pesantren Nurul jadid.

 

Dirinya mengatakan, situasi dan kondisi semakin parah, oleh karena itu harus meningkatkan mujahadah kepada Allah dan harus siap siaga dalam mengadapi gerakan yang membahayakan kehidupan agama, negara dan bangsa ini.

 

“Situasi dan kondisi semakin parah. Oleh karena itu, mari kita tingkatkan mujahadah kepada Allah dan siap siaga menghadapi gerakan yang membahayakan agama dan bangsa ini,”ujarnya.

 

Setelah selesai pertemuan itu, ia memberikan sebuah senjata kepada para santri dan masyarakat yakni berupa rotan (penjalin) yang sudah diisi wirid dan asma' oleh Kiai Zaini sendiri dan memperingatkan agar mulai bergerak.

 

" Mulai besok kita harus bergerak menumpas dan membasmi PKI,” terangnya.

 

Menurutnya, senjata rotan bisa membantu untuk melawan PKI, karena PKI juga memiliki ilmu kekebalan, artinya senjata rotan itu merupakan senjata yang dapat menghilngkan kekebalan. Jadi setelah dipukul dengan rotan mereka akan pingsan, setelah pingsan mereka dibunuh mengunakan senjata tajam.

 

Pada 28 September 1965 PBNU dan Presiden Soeharto belum memberikan perintah, namun Kiai Zaini telah memerintahkan KH Badri Masduqi untuk memimpin gerakan penumpasan PKI di daerah Kraksaan dan Kiai Zaini yang memeberikan petunjuk kepada masyarakat dan para santri yang terjun ke lapangan dengan dibekali senjata rotan.

 

Pada saat meletusnya gerkan 30 september 1965, santri Nurul Jadid, tokoh NU dan masyarakat kawasan sekitar Karang Anyar tidak merasa terkejut, karena sudah diberi informasi oleh KH Zaini Mun'im. Jadi tidak heran jika Pondok Pesantren Nurul Jadid dijadikan penumpasan G 30 SPKI di kawasan Probolinggo dan Kraksaan.

 

Dalam memutuskan orang PKI yang layak dibunuh atau tidak, Kiai Zaini berpesan jika orang itu terlibat gerakan PKI namun masih melaksanakan sholat maka jangan dibunuh.

 

“Jadi PKI halal darahnya akan tetapi harus menyelidikki terlebih dahulu apakah masih mau sholat atau tidak jika masih mau sholat jangan membunuhnya melainkan melindunginya,” katanya.

 

Berangkat dari prinsip tersebut, ketika anggota aksi penumpasan PKI menemukan kepala desa yang terlibat dalam PKI tetapi mau melaksanakan sholat maka orang tesebut lolos dari ganyangan.


Tokoh Terbaru