• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 29 September 2022

Keislaman

Dalil Anjuran serta Keutamaan Puasa Tasu'a dan Asyura

Dalil Anjuran serta Keutamaan Puasa Tasu'a dan Asyura
Sejumlah dalil berupa hadits dan kalam ulama membenarkan anjuran dan keutamaan puasa Tasu'a dan Asyura. (Foto: NOJ/NU Network)
Sejumlah dalil berupa hadits dan kalam ulama membenarkan anjuran dan keutamaan puasa Tasu'a dan Asyura. (Foto: NOJ/NU Network)

Hari ini, sebagian umat Islam utamanya Nahdliyin atau warga Nahdlatul Ulama menjalankan puasa Tasu'a dan dilanjutkan besok dengan puasa Asyura. Banyak dalil yang menyebutkan bahwa puasa Tasu’a dan Asyura sangat dianjurkan dan sarat dengan keutamaan.


Puasa Tasu’a adalah puasa yang dilaksanakan tanggal 9 Muharram (tasu'a), sedangkan Asyura adalah puasa yang dilaksanakan pada 10 Muharram (asyura). 


Terkait hal ini, ada yang berpendapat bahwa ibadah puasa sunah ini tidak memiliki dalil yang kuat. Terhadap tuduhan tersebut, Nahdliyin hendaknya tetap sabar. Termasuk pandangan kalangan yang ektrem menyebut bahwa puasa di dua hari itu dianggap tidak memiliki dasar dan bukan ajaran Islam. 


Dalam kitab Irsyadul 'Ibad karya Syaikh Zainuddin al-Malibari dibahas secara khusus tentang kemuliaan hari Asyura. Ada empat hadits shahih dan satu pendapat berdasar kesepakatan ulama. 


Hadits pertama diriwayatkan oleh Imam Nasai yang menjelaskan mengenai Rasulullah yang melaksanakan puasa di bulan Muharram setelah bulan Ramadhan. Kemudian Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa Muharram. Nabi Muhammad SAW bersabda: Sesungguhnya Muharram adalah bulannya Allah yang di dalamnya tepat menjadi hari bertobat umat Islam atas dosa-dosa yang terdahulu


Hadits kedua, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang berasal dari Ibnu Abbas yang mengisahkan keberadaan Nabi Muhammad saat di Madinah. Di mana penduduk Madinah yang beragama Yahudi berpuasa para hari Asyura. Salah satu dasar yang dipakai oleh Yahudi karena Nabi Musa puasa di hari itu sebagai ungkapan terima kasih karena Allah menenggelamkan Fira'un dan Musa beserta kaumnya selamat. Kemudian Nabi Muhammad bersabda: Kami lebih memiliki hak dan lebih memuliakan Nabi Musa daripada Anda. Maka Nabi berpuasa Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa Asyura. 


Hadits ketiga, diriwayatkan dari Imam Muslim dari Abi Qatadah bahwa Rasulullah pernah ditanya oleh sahabat tentang puasa Asyura. Nabi menjawabnya: Puasa Asyura dapat melebur dosa satu tahun sebelumnya. 


Hadits keempat, diriwayatkan Imam Baihaqi di mana Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa di tanggal 9 dan 10 Muharram dengan niat tidak menyamakan dengan ibadah sunah puasanya umat Yahudi. 


Sedangkan pendapat para ulama terdahulu menyebutkan bahwa pahala puasa Asyura adalah mendapatkan pengampunan tujuh puluh tahun dari dosa-dosa yang pernah dilakukan. Dan tentunya masih banyak sekali keutamaan hari Asyura yang dijelaskan dalam kitab Irsyadul 'Ibad berdasarkan sejumlah hadits Nabi Muhammad. 


Di sini hanya dijelaskan empat hadits yang sudah cukup menjadi dasar puasa sunnah 9 dan 10 Muharram. Dalam kitab Fadlilati Muharram wa Rajab wa Sya'ban karya Syaikh Muhammad Sholih bin Umar Assamarani (dikenal dengan KH Sholeh Darat) juga dijelaskan mengenai keutamaan hari Asyura. 


KH Sholeh Darat mengambil keterangan dari kitab Tarikhul Khamis karya Syaikh Husain bin Muhammad bin Hasan Addayyari Bakri dijelaskan mengenai perintah Nabi Muhammad kepada para sahabat melaksanakan puasa Asyura. Selain itu, Nabi Muhammad juga bersabda: Barang siapa puasa tanggal 10 Muharram, maka mendapatkan pahala 10.000 malaikat, 10.000 orang yang haji dan umrah dan 10.000 orang yang mati syahid. 


Semestinya puasa sunah di bulan Muharram tidak semata-mata ada di tanggal 9 dan 10 Muharram. Syaikh Abdul Hamid al-Qudsi dalam kitab Kanzun Najah Wassurur menjelaskan bahwa Muharram merupakan bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT dan di dalamnya terdapat banyak amalan sunah, termasuk puasa. 


Imam Ibnu Hajar menyebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Hafsah, Nabi bersabda: Barang siapa yang berpuasa di akhir bulan Dzulhijjah dan awal bulan Muharram, maka Allah akan menjadikannya penebus dosanya selama 50 tahun. Dan puasa satu hari di bulan Muharram sama dengan puasa tiga puluh hari. 


Sedangkan Imam Ghazali menjelaskan dalam kitab Ihya' Ulumiddin menyebutkan: Barang siapa berpuasa tiga hari di bulan mulia (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Rajab dan Muharram) di hari Kamis, Jumat dan Sabtu, maka Allah akan mencatat baginya ibadah 700 tahun. 

 

Artikel diambil dariDalil Puasa Tasu'a dan Asyura

 

Melihat kemuliaan bulan Muharram ini, alangkah baiknya jika sebagai umat Islam melaksanakan amalan-amalan baik sebagaimana ajaran Rasulullah. Dan sudah jelas bahwa puasa sunah di bulan Muharram mendapatkan pahala yang sangat besar. Di antara sunah berpuasa di bulan Muharram dapat dikategorikan menjadi lima, yakni puasa awal Muharram, puasa 1 hari Muharram, puasa 3 hari Muharram (Kamis, Jumat dan Sabtu), puasa 9 Muharram dan puasa 10 Muharram.


Keislaman Terbaru