• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 4 Desember 2022

Keislaman

Dalil Disunahkan Puasa di Bulan Muharram

Dalil Disunahkan Puasa di Bulan Muharram
Puasa sangat dianjurkan saat memasuki bulan Muharram. (Foto: NOJ/NU Online)
Puasa sangat dianjurkan saat memasuki bulan Muharram. (Foto: NOJ/NU Online)

Umat Islam akan segera memasuki bulan Muharram 1444 H. Dan pada waktu yang juga disebut sebagai tahun baru Islam tersebut, ada beberapa ibadah yang disunahkan, termasuk puasa. 


Puasa Muharram adalah puasa yang dilakukan di bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender hijriah. Hukum puasa Muharram adalah sunah, bahkan lebih utama dari puasa bulan Sya’ban dan merupakan waktu kerap dilakukan Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut sebagaimana hadits berikut: 


   عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ. (رواه مسلم) 


Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam. (HR Muslim).   


Imam an-Nawawi menjelaskan, hadits shahih ini merupakan dalil sharîh atau sangat jelas yang menunjukkan kesimpulan hukum bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadhan adalah Muharram. 


Selain itu, meskipun Nabi Muhammad SAW memang lebih banyak berpuasa di bulan Sya’ban, namun hal itu tidak menafikan keutamaan Muharram daripada Sya’ban. Sebab bisa jadi Nabi SAW baru mendapatkan kabar keutamaan Muharram yang melebihi Sya’ban di masa-masa akhir hidupnya. Atau bisa jadi Nabi SAW sudah mengetahuinya namun tidak sempat memperbanyak puasa di bulan Muharram karena berbagai halangan, seperti sakit, bepergian, dan lainnya. (Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Al-Minhâj Syarhun Shahîh Muslim bin al-Hajjâj, [Bairut, Dârul Ihyâ-it Turâtsil ‘Arabi, 1392 H], cetakan kedua, juz VIII, halaman: 55).   


Dengan keterangan di atas, selama bulan Muharram sangat dianjurkan mengisinya dengan memperbanyak puasa. Bisa puasa sehari, dua hari, tiga hari, atau bahkan sepanjang Muharram apabila memang tidak memberatkan. 


Di luar itu, hari-hari bulan Muharram yang lebih utama untuk dipuasai berdasarkan hadits dan penjelasan ulama adalah 10 hari pertama Muharram—termasuk di dalamnya hari Tasu’a (9 Muharram), hari ‘Asyura (10 Muharram)—dan tanggal 11 Muharram. (An-Nawawi, al-Minhâj Syarhu Shahîh, juz VIII, h. 55; Ibnu Hajar al-Haitami, Al-Fatâwal Kubrâl Fiqhiyyah, [Dârul Fikr], juz II, halaman: 54; Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi, Nihâyatuz Zain fî Irsyâdil Mubtadi’în, [Bairut, Dârul Kutubil ‘Ilmiyyah, cetakan pertama: 1422 H/2002 M], halaman: 192; dan Abdullah Abdirrahman Bafadhal al-Hadlrami, al-Muqaddimatul Hadlramiyyah, [Damaskus, ad-Dârul Muttahidah: 1413 H], halaman: 139).   


Hikmah Puasa Muharram 
Hikmah puasa Muharram sebagai puasa yang paling utama setelah Ramadhan sangat banyak. Di antaranya, karena Muharram merupakan awal tahun hijriah maka sangat pantas dibuka dengan puasa yang merupakan amal paling utama. 


Imam al-Qurthubi mengatakan: 


   إِنَّمَا كَانَ صَوْمُ الْمُحَرَّمِ أَفْضَلَ الصِّيَامِ مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ أَوَّلَ السَّنَةِ الْمُسْتَأْنَفَةِ، فَكَانَ اسْتِفْتَاحُهَا بِالصَّوْمِ الَّذِي هُوَ أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ   


Artinya: Puasa Muharram menjadi puasa yang paling utama karena Muharram merupakan awal tahun baru, maka pembukaannya adalah dengan puasa yang merupakan amal paling utama. (Jalaluddin as-Suyuthi, Ad-Dîbâj ‘ala Muslim, [Arab Saudi, Dârubnu ‘Affân, cetakan pertama: 1416 H/1996 M], juz III, halaman: 251).  

 


Dengan sejumlah keterangan di atas, sudah selayaknya umat Islam dapat menyiapkan diri di ujung bulan Dzulhijjah. Harapannya, ketika telah memasuki bulan Muharram dapat mengisi dengan ibadah yang disarankan, seperti puasa, sedekah dan ibadah lain.


Editor:

Keislaman Terbaru