• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 24 Februari 2024

Keislaman

Menyikapi Hadits Seputar Amalan pada 10 Muharram

Menyikapi Hadits Seputar Amalan pada 10 Muharram
Umat Islam banyak yang mengisi 10 Muharram dengan puasa. (Foto: NOJ/KHt)
Umat Islam banyak yang mengisi 10 Muharram dengan puasa. (Foto: NOJ/KHt)

Hari Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram (berasal dari kata ‘asyr yang berarti sepuluh). Dalam sebuah hadits shahih dikatakan, pada hari itu dahulu Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya. Sebagian masyarakat Jawa menyebut bulan Muharram dengan nama bulan ‘Suro’ dengan mengambil nama hari penting pada bulan Muharrram tersebut: Asyura.

   
Bulan Muharram adalah satu di antara empat bulan mulia yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada masa Rasulullah, peperangan pun harus dihentikan demi menghormati bulan-bulan itu, termasuk Muharram. Barangsiapa yang melakukan kebaikan pada bulan-bulan tersebut, pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah Subhanahu Wa Taala, dan sebaliknya, perilaku maksiat pada bulan-bulan itu, siksanya juga dilipatgandakan.   


وَمَعْنَى الْحُرُمِ: أَنَّ الْمَعْصِيَةَ فِيهَا أَشَدُّ عِقَابًا، وَالطَّاعَةَ فِيهَا أَكْثَرُ ثَوَابًا 

Artinya: Yang dimaksudkan dengan bulan-bulan yang dimuliakan di sini, sesungguhnya maksiat dalam bulan ini siksanya lebih berat, dan menjalankan ketaatan di dalam bulan ini pahalanya dilipatgandakan. (Fakhruddin ar-Razi, Tafsir Ar-Râzi, [Daru Ihya’ at-Turats al-Arabiy: Beirut, 1420 H], juz 16, halaman: 14).

  

Dengan adanya pelipatgandaan pahala seperti ini, dalam rangka menghormati bulan Muharram, misalnya, sebagian masyarakat menelan mentah-mentah informasi tentang keutamaan-keutamaan beribadah pada hari Asyura’, sehingga terkadang ada hadits yang munkar sekalipun disebarkan kepada masyarakat. Ini tidak benar. Ada pula yang karena saking anti terhadap hadits lemah, seluruh informasi hadits walaupun itu dhaif, ditolak semuanya.   
 

Ahlussunah tidak terlalu ceroboh sebagaimana kelompok yang pertama dan tidak ekstrem sebagaimana yang kedua. Ahlussunnah berpandangan bahwa dalam menentukan halal-haram (hukum agama) harus berdasarkan hadits shahih. Namun apabila untuk pendorong amal ibadah, hadits dhaif boleh digunakan asalkan tidak sampai maudlu’ (palsu).    

 

Mengisi bulan Asyura dengan berbagai macam ibadah sebagai bentuk kebahagiaan atas kenikmatan-kenikmatan yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Taala pada orang-orang shalih terdahulu, selama tidak bertentangan dengan syariat tentu hukumnya sah-sah saja. Yang tidak boleh adalah meyakini jika amalan tersebut dianjurkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW sedangkan Nabi tidak mengajarkannya. Namun pada prinsipnya beramal baik di hari yang baik nilainya akan baik asalkan tidak sampai meyakini bahwa hal ini dicontohkan secara khusus oleh Nabi Muhammad SAW apalagi sampai menyebarkannya kepada masyarakat. Kedua hal terakhir tersebut tidak diperbolehkan.    

 

Contoh hadits tidak shahih seputar Muharram adalah tentang memakai celak (penggaris mata) pada hari Asyura yang masyhur di tengah masyarakat. Kaum Ahlussunah harus fair bahwa sumber hadits tersebut tidak jelas alias maudlu’ sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Muhammad Mahmud al-Hanafi dalam Umdatul Qari’ syarah Shahih al-Bukhari menyebutkan: 


النَّوْع السَّادِس: مَا ورد فِي صَلَاة لَيْلَة عَاشُورَاء وَيَوْم عَاشُورَاء، وَفِي فضل الْكحل يَوْم عَاشُورَاء لَا يَصح، وَمن ذَلِك حَدِيث جُوَيْبِر عَن الضَّحَّاك عَن ابْن عَبَّاس رَفعه: (من اكتحل بالإثمد يَوْم عَاشُورَاء لم يرمد أبدا) ، وَهُوَ حَدِيث مَوْضُوع

Artinya: Nomor enam: Hadits yang menjelaskan tentang malam Asyura dan hari Asyura, dan dalam keutamaan memakai celak pada hari Asyura tidak shahih. Di hadits tersebut terdapat informasi dari Juwaibir dan al-Dhahhak dari Ibnu Abbas yang dianggap marfu’ dengan konten ‘Barangsiapa memakai celak pada hari Asyura’ tidak akan terjangkiti penyakit beleken selamanya’. Hadits ini maudlu’ (palsu).   

 

Dengan adanya hadits-hadits demikian, masyarakat perlu menyeleksi mana hadits yang shahih, dlaif maupun yang maudlu’.Yang perlu diberikan pemahaman secara utuh kepada masyarakat bahwa dlaif itu bukan maudlu’ dan maudlu' bukan dlaif. Apabila derajatnya baru dlaif, sebagaimana yang masyhur dalam ilmu hadits. Ahlussunnah berpendapat tetap boleh diamalkan untuk hal-hal yang berkaitan dengan keutamaan amal (fadlailul a’mal). Namun jika sudah dinyatakan palsu, harus dibuang jauh-jauh.    

 

Tentang Asyura, penulis menemukan tiga kriteria hadits. Ada yang sepakat shahih karena diriwayatkan dalam kitab Shahih Bukhari, ada yang dlaif, ada pula yang maudlu’. Yang sepakat shahih adalah tentang disunahkannya puasa Asyura tapi tidak dengan bumbu pahala yang bombastis. Misalnya puasa sehari mendapatkan pahala sekian ratus tahun puasa. Penulis belum menemukan dalil pahala yang bombastis tersebut. Dari keshahihan hadits puasa Asyura, bahkan Imam Bukhari dalam kitabnya Shahih al-Bukhari sampai membuat satu bab khusus yang menyebutkan hadits-hadits puasa Asyura dengan judul Bab Shiyam Yaumi Asyura. Berarti puasa Asyura sunahnya tidak perlu diperdebatkan lagi. 

 

Berikut contoh hadits di dalam shahih Bukhari dari Ibnu Abbas yang juga masyhur di tengah masyarakat:


    قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِينَةَ فَرَأَى اليَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: «مَا هَذَا؟»، قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى، قَالَ: «فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ»، فَصَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Artinya: Nabi Muhammad datang ke kota Madinah. Beliau kemudian melihat orang Yahudi puasa pada hari Asyura. Lalu Rasul bertanya: Ada kegiatan apa ini? Para sahabat menjawab: Hari ini adalah hari baik yaitu hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka kemudian Nabi Musa melakukan puasa atas tersebut. Rasul lalu bersabda: Saya lebih berhak dengan Musa daripada kalian. Nabi kemudian berpuasa untuk Asyura tersebut dan menyuruh pada sahabat menjalankannya. (HR Bukhari: 2004)    

 

Puasa Asyura awalnya diperintahkan Nabi sebelum ada kewajiban puasa Ramadlan. Setelah disyariatkannya puasa Ramadlan, Nabi memberi kebabasan bagi siapa saja yang ingin menjalankan maupun meninggalkan. Hadits ini diriwayatkan dari Aisyah, istri Nabi Muhammad:


    كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ صَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

Artinya: Puasa Asyura adalah puasa yang dilakukan oleh orang Quraisy pada zaman jahiliyah dan Rasulullah juga melakukan puasa pada hari itu. Ketika Nabi datang ke Madinah juga melakukan puasa dan menyuruh para sahabat menjalankan puasa Asyura. Namun ketika puasa Ramadlan mulai diwajibkan, Nabi meninggalkan puasa Asyura. Maka barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan, dan siapa saja yang ingin meninggalkan, juga silakan. (HR Bukhari: 2002). 

 

Masih ada beberapa hadits yang menyebutkan tentang puasa Asyura. Namun, sekali lagi, jangan salah paham bahwa bila tak bersumber dari hadits shahih, maka sudah pasti haram dilaksanakan, apalagi seolah-olah tindakan kriminal. Kriminalisasi ibadah seperti hal tersebut tidak tepat. Hadits dlaif itu tidak selalu dlaif sesuai kesepakatan ulama. Terkadang, dlaif menurut ulama ahli hadits satu, tapi shahih menurut ulama ahli hadits lainnya. Jadi, urusan dlaif-tidaknya sendiri kita tidak bisa gegabah memberi penilaian.    

 

Kesimpulannya, amalan yang dilaksanakan masyarakat di Indonesia sangat beragam. Selama amalan tersebut baik, tidak bertentangan syariat, dan terlebih apabila tidak ada dasarnya dari hadits shahih maupun dlaif, asalkan tidak diyakini sebagai perilaku khusus bulan Muharram yang dicontohkan Nabi, hukumnya tetap boleh dijalankan. 

 

Tradisi amalan baik itu seperti santunan yatim piatu, mengunjungi orang tua, membahagiakan keluarga. Dari segi substansi kegiatannya itu sendiri, semua amalan tersebut adalah sunah. Sebab, tanpa menunggu 10 Muharram pun, amalan itu sudah disunahkan. Lalu mengapa kalau dilaksanakan pada 10 Muharram dihukumi bid’ah? Sebuah vonis aneh yang terkadang dilancarkan oleh sebagian kelompok. Namun apabila amalan yang dilakukan jelas-jelas bertentangan dengan syariat, sudah seharusnya ditinggalkan.     

 

Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang
 


Editor:

Keislaman Terbaru