• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 29 September 2022

Keislaman

Besok Sempatkan Puasa Tasu’a, Berikut Lafal Niatnya

Besok Sempatkan Puasa Tasu’a, Berikut Lafal Niatnya
Disarankan membaca niat puasa Tasu'a untuk kemantapan hati. (Foto: NOJ/LKo)
Disarankan membaca niat puasa Tasu'a untuk kemantapan hati. (Foto: NOJ/LKo)

Kaum muslimin diharapkan pada 9 Muharram 1443 H yang bertepatan Rabu (18/08/2021) menyempatkan untuk berpuasa. Disebut dengan puasa Tasu’a yang pahalanya demikian besar dan tentu saja sayang bila dilewatkan.

 

Puasa Tasu’a dianjurkan oleh agama karena mengandung keutamaan besar. Rasulullah SAW sendiri dalam riwayat Muslim mengatakan bahwa akan menunaikan puasa tersebut sekiranya ada umur pada tahun mendatang.


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ وَفِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ قَالَ يَعْنِي يَوْمَ عَاشُورَاءَ 

Artinya: Dari Abdullah bin Abbas RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: Kalau sekiranya aku hidup hingga tahun depan, niscaya aku kan puasa pada hari sembilan (Muharram). Pada riwayat Abu Bakar disebutkan: Pada hari sepuluh (Muharam). (HR Muslim). 

 

Dalam konteks puasa sunah Tasu‘a (9 Muharram), ulama berbeda pendapat perihal ta‘yin (penyebutan nama ibadahnya). Sebagian ulama menyatakan bahwa seseorang harus mengingat ‘puasa sunah Tasu’a’ saat niat di dalam batinnya. Sedangkan sebagian ulama lain menyatakan bahwa tidak wajib ta’yin. 

 

Hal ini dijelaskan oleh Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami sebagai berikut:


 وْلُهُ نَعَمْ بَحَثَ إلَخْ ) عِبَارَةُ الْمُغْنِي وَالنِّهَايَةِ وَالْأَسْنَى فَإِنْ قِيلَ قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ هَكَذَا أَطْلَقَهُ الْأَصْحَابُ وَيَنْبَغِي اشْتِرَاطُ التَّعْيِينِ فِي الصَّوْمِ الرَّاتِبِ كَعَرَفَةَ وَعَاشُورَاءَ وَأَيَّامِ الْبِيضِ وَسِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ كَرَوَاتِبِ الصَّلَاةِ أُجِيبُ بِأَنَّ الصَّوْمَ فِي الْأَيَّامِ الْمَذْكُورَةِ مُنْصَرِفٌ إلَيْهَا بَلْ لَوْ نَوَى بِهِ غَيْرَهَا حَصَلَ أَيْضًا كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ ؛ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ وُجُودُ صَوْمٍ فِيهَا ا هـ زَادَ شَيْخُنَا وَبِهَذَا فَارَقَتْ رَوَاتِبَ الصَّلَوَاتِ ا ه 

 

Artinya: Perkataan ‘Tetapi mencari…’ merupakan ungkapan yang digunakan di Mughni, Nihayah, dan Asna. Bila ditanya, Imam An-Nawawi berkata di Al-Majmu‘, ‘Ini yang disebutkan secara mutlak oleh ulama Syafi’iyah. Semestinya disyaratkan ta’yin (penyebutan nama puasa di niat) dalam puasa rawatib seperti puasa Arafah, puasa Asyura, puasa bidh (13,14, 15 setiap bulan hijriyah), dan puasa enam hari Syawal seperti ta’yin dalam shalat rawatib’. Jawabnya, puasa pada hari-hari tersebut sudah diatur berdasarkan waktunya. Tetapi kalau seseorang berniat puasa lain di waktu-waktu tersebut, maka ia telah mendapat keutamaan sunah puasa rawatib tersebut. Hal ini serupa dengan sembahyang tahiyyatul masjid. Karena tujuan dari perintah puasa rawatib itu adalah pelaksanaan puasanya itu sendiri terlepas apa pun niat puasanya. Guru kami menambahkan, di sinilah bedanya puasa rawatib dan sembahyang rawatib. (lihat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj

 

Untuk memantapkan hati, ulama menganjurkan seseorang untuk melafalkan niatnya. Dan berikut ini contoh lafal niat puasa Tasu‘a.


 نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء لِلهِ تَعَالَى 
 

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatit Tasû‘â lillâhi ta‘âlâ. 

 

Artinya: Aku berniat puasa sunah Tasu‘a esok hari karena Allah SWT. 
 

 

Wallahu a‘lam. 
 


Editor:

Keislaman Terbaru