• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Desember 2023

Keislaman

Dicaci Maki Orang, Jangan Membalasnya

Dicaci Maki Orang, Jangan Membalasnya
Sebaiknya abaikan dan tinggalkan orang yang suka mencaci maki (Foto:NOJ/soloensis)
Sebaiknya abaikan dan tinggalkan orang yang suka mencaci maki (Foto:NOJ/soloensis)

Manusia hidup berdampingan dengan sesama. Perbedaan pendapat dan konflik adalah niscaya. Tak jarang mereka yang bertikai, khususnya mereka yang mudah terbawa emosi berujung membalas caci maki pula. Padahal dalam ajaran Islam dianjurkan untuk sabar dan tidak membalas cacian tersebut.


Terdapat sebuah riwayat bersumber dari Abu Hurairah yang dicatat dalam Musnad Ahmad bin Hanbal, tentang seseorang yang mencaci maki Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq.


 حدثنا يحيى عن ابن عجلان قال حدثنا سعيد بن أبي سعيد عن أبي هريرة: أن رجلا شتم أبا بكر والنبي صلى الله عليه وسلم جالس، فجعل النبي صلى الله عليه وسلم يعجب ويتبسم، فلما أكثر رد عليه بعض قوله، فغضب النبي صلى الله عليه وسلم وقام، فلحقه أبو بكر، فقال: يا رسول الله، كان يشتمني وأنت جالس، فلما رددت عليه بعض قوله غضبت وقمت. قال: إنه كان معك ملك يرد عنك، فلما رددت عليه بعض قوله، وقع الشيطان، فلم أكن لأقعد مع الشيطان. ثم قال: يا أبا بكر، ثلاث كلهن حق: ما من عبد ظلم بمظلمة فيغضي عنها لله عز وجل، إلا أعز الله بها نصره، وما فتح رجل باب عطية يريد بها صلة، إلا زاده الله بها كثرة، وما فتح رجل باب مسألة يريد بها كثرة، إلا زاده الله عز وجل بها قلة


Artinya: Yahya menceritakan kepada kami dari Ibnu ‘Ajlan, Sa’id bin Abi Sa’id menceritakan kepada kami dari Abu Hurairah, bahwa seorang laki-laki mencela Abu Bakar, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam duduk. Kejadian itu membuat Nabi terheran-heran dan tersenyum. Kemudian saat Abu Bakar banyak membantah sebagian perkataan (celaan) laki-laki tersebut, Nabi Muhammad marah dan berdiri untuk pergi. Abu Bakar pun menyusul Nabi, lalu berkata: Wahai Rasulullah, orang itu mencelaku, anda hanya duduk saja (tidak ikut membalas). Ketika aku membantah sebagian perkataannya, anda berdiri dan marah. Rasulullah menjawab: Sesungguhnya ada malaikat bersamamu yang akan membantahnya untukmu. Ketika engkau  membantah sebagian perkataannya, setan datang. Aku tidak ingin duduk bersama setan.


Kemudian Rasulullah berkata: Wahai Abu Bakar, ada tiga hal yang menjadi hak seorang hamba: (1) Tidaklah seorang hamba Allah yang terzalimi dengan kezaliman, lalu dia pasrahkan kepada Allah kecuali Allah pasti memenangkannya dengan pertolonganNya, (2) Tidaklah seseorang yang membuka pintu pemberian yang dia harapkan menjadi penyambung persaudaraan, kecuali Allah pasti tambahkan pemberian yang banyak kepadanya, dan (3) Tidaklah seseorang yang membuka pintu permintaan yang dia harapkan untuk mendapatkan pemberian yang banyak, kecuali Allah pasti tambahkan kekurangan kepadanya. (Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad  Ahmad bin Hanbal, Beirut: Mu’assasah al-Risalah, tt, juz 15, h. 39)


Riwayat ini menunjukkan betapa pentingnya seseorang untuk bersabar tidak membalas caci maki dan celaan orang lain. Sebab ketika dia mulai terpancing emosi, biasanya setan akan bersorak gembira menyulut pertikaian tersebut.


Dalam salah satu maqalah Ali bin Abi Talib yang dikutip oleh Imam Syafi’i terkait anjuran agar tidak membalas caci maki orang lain disebutkan: 


قَد قيلَ إِنَ الإِلَهَ ذو وَلَدٍ
وَقيلَ إِن الرَسولَ قَد كَهنا
ما نَجا اللَهُ وَالرَسولُ مَعاً
مِن لِسانِ الوَرى فَكَيفَ أَنا


Artinya: Dikatakan bahwa Allah mempunyai anak, dan dikatakan pula Rasulullah adalah penyihir
Allah dan Rasulullah tidak lepas dari lisan (perkataan caci-maki) manusia. Lantas bagaimana dengan diriku?


Dari sini tampak jelas bahwa perkataan buruk seperti cercaan, caci maki, hinaan itu akan selalu ada, tanpa pandang bulu, termasuk ditujukan kepada Allah, Rasulullah. Apalagi diri kita. Sebaiknya abaikan saja cacian, perkataan negatif yang ditujukan kepada kita, agar pikiran bisa lebih tenang dan selamat dari letupan emosi yang dapat terjerumus dalam jebakan setan.


Editor:

Keislaman Terbaru