• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 30 Januari 2023

Keislaman

Makna Hari Tarwiyah dan Arafah serta Keutamaannya

Makna Hari Tarwiyah dan Arafah serta Keutamaannya
Hari Tarwiyah dan Arafah yang berada di bulan Dzulhijjah memiliki makna dan keutamaan. (Foto: NOJ/MDc)
Hari Tarwiyah dan Arafah yang berada di bulan Dzulhijjah memiliki makna dan keutamaan. (Foto: NOJ/MDc)

Tanggal 8 di bulan Dzulhijjah disebut dengan hari Tarwiyah. Sedangkan tanggal 9 di bulan Dzulhijjah disebut hari Arafah. Pada dua hari tersebut, umat Islam yang tidak menjalankan ibadah haji disarankan untuk puasa sunah. 
Dzulhijah selain sebagai puncak ibadah haji, juga merupakan hari-hari yang sangat bersejarah. Terutama pada hari Tarwiyah dan Arafah, semua umat Islam yang sedang melaksanakan ibadah haji berkumpul di tanah suci Makkah. 


Pada hari itu pula, jamaah haji semua melebur menjadi satu, menghilangkan semua perbedaan dunia, dan menghapus segala sisa-sisa kemusyrikan dan kesombongan. Mereka berkumpul dari segala penjuru dunia sebagai manifestasi diri sebagai hamba Allah yang taat. Mereka yang sudah memenuhi segala ketentuan haji berbondong-bondong untuk memulai ibadah haji pada hari tersebut, dan puncaknya bertepatan pada 10 Dzulhijah.


Namun, apa alasan di balik penamaan hari Tarwiyah dan hari Arafah? Bagaimana sejarahnya?  


Penamaan Hari Tarwiyah 
Imam Fakhruddin Ar-Razi (544-606 H) dalam salah satu masterpiece-nya mengatakan bahwa hari Tarwiyah merupakan hari kedelapan Dzulhijah yang mempunyai makna berpikir atau merenung. Karenanya, hari Tarwiyah identik dengan keadaan berpikir dan merenung tentang peristiwa yang masih dipenuhi keraguan.   


Fakhruddin Ar-Razi mengutip beberapa pendapat ulama perihal alasan di balik penamaan hari tersebut dalam kitabnya: 


   فَفِيهِ ثَلَاثَةُ أَقْوَالٍ أَحَدُهَا: أَنَّ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَمَرَ بِبِنَاءِ الْبَيْتِ، فَلَمَّا بَنَاهُ تَفَكَّرَ فَقَالَ: رَبِّ إِنَّ لِكُلِّ عَامِلٍ أَجْرًا فَمَا أَجْرِي عَلَى هَذَا الْعَمَلِ؟ قَالَ: إِذَا طُفْتَ بِهِ غَفَرْتُ لَكَ ذُنُوبَكَ بِأَوَّلِ شَوْطٍ مِنْ طَوَافِكَ، قَالَ: يَا رَبِّ زِدْنِي قَالَ: أَغْفِرُ لِأَوْلَادِكَ إِذَا طَافُوا بِهِ، قَالَ: زِدْنِي قَالَ: أَغْفِرُ لِكُلِّ مَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الطَّائِفُونَ مِنْ مُوَحِّدِي أَوْلَادِكَ، قَالَ: حَسْبِي يَا رَبِّ حَسْبِيي. وَثَانِيهَا: أَنَّ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ رَأَى فِي مَنَامِهِ لَيْلَةَ التَّرْوِيَةِ كَأَنَّهُ يَذْبَحُ ابْنَهُ فَأَصْبَحَ مُفَكِّرًا هَلْ هَذَا مِنَ اللَّهِ تَعَالَى أَوْ مِنَ الشَّيْطَانِ؟ فَلَمَّا رَآهُ لَيْلَةَ عَرَفَةَ يُؤْمَرُ بِهِ أَصْبَحَ فَقَالَ: عَرَفْتُ يَا رَبِّ أَنَّهُ مِنْ عِنْدِكَ وَثَالِثُهَا: أَنَّ أَهْلَ مَكَّةَ يَخْرُجُونَ يَوْمَ التَّرْوِيَةِ إِلَى مِنًى فَيَرْوُونَ فِي الْأَدْعِيَةِ الَّتِي يُرِيدُونَ أَنْ يَذْكُرُوهَا فِي غَدِهِمْ بِعَرَفَاتٍ   


Artinya: Ada tiga pendapat di balik penamaan hari Tarwiyah, (1) karena Nabi Adam ‘Alaihis Salâm diperintah untuk membangun sebuah rumah, maka ketika membangun, ia berpikir dan berkata: Tuhanku, sesungguhnya setiap orang yang bekerja akan mendapatkan upah, maka apa upah yang akan saya dapatkan dari pekerjaan ini? Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ menjawab: Ketika engkau melakukan tawaf di tempat ini, maka Aku akan mengampuni dosa-dosamu pada putaran pertama tawafmu. Nabi Adam memohon: Tambahlah (upah)ku. Allah menjawab: Saya akan memberikan ampunan untuk keturunanmu apabila melakukan tawaf di sini. Nabi Adam memohon, Tambahlah (upah)ku. Allah menjawab: Saya akan mengampuni (dosa) setiap orang yang memohon ampunan saat melaksanakan tawaf dari keturunanmu yang mengesakan (Allah). (2) Sesungguhnya Nabi Ibrahim Alaihis Salâm bermimpi ketika sedang tidur pada malam Tarwiyah, seakan hendak menyembelih anaknya. Maka ketika waktu pagi datang, ia berpikir apakah mimpi itu dari Allah Subhânahu Wata’âlâ atau dari setan? Ketika malam Arafah mimpi itu datang kembali dan diperintah untuk menyembelih, kemudian Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salâm berkata: Saya tahu wahai Tuhanku, bahwa mimpi itu dari-Mu. (3) Sesungguhnya penduduk Makkah keluar pada hari Tarwiyah menuju Mina, kemudian mereka berpikir tentang doa-doa yang akan mereka panjatkan pada keeseokan harinya, di hari Arafah. (Fakhuddin Ar-Razi, Tafsîr Mafâtîhul Ghaib, [Bairut, Darul Fikr: 2000], juz V, halaman: 324). 


Syekh Nidhamuddin al-Hasan bin Muhammad bin Husein an-Naisaburi dalam kitab Tafsîr an-Naisabûri menyatakan bahwa hari Tarwiyah mempunyai sejarah yang sangat luar biasa, yaitu menjadi hari persiapan untuk bekal menuju ibadah haji. Orang-orang mengumpulkan air yang sangat banyak untuk dibagikan kepada calon jamaah haji. Mereka akan memberikan kepada jamaah setelah merasakan lelah dan dahaga ketika menempuh perjalanan menuju Kota Makkah, atau mereka akan membagikan air-air yang telah mereka kumpulkan kepada para jamaah saat melaksanakan ibadah haji, mengingat gersangnya tanah Arab dan sedikitnya air saat itu. Ibaratnya, yang sedang melaksanakan ibadah haji merupakan orang yang sangat haus atas rahmat Allah. Karenanya, Allah telah mempersiapkan rahmat-Nya kepada mereka semua setelah melakukan ibadah, dengan diampuninya dosa-dosa mereka. (Nidhamuddin An-Naisaburi, Tafsîr an-Naisabûri , [Bairut, Dârul Kutub: 1999], juz I, halaman: 489). 


Penamaan Hari Arafah 
Hari Arafah merupakan hari kesembilan Dzulhijah. Sedangkan berkaitan dengan makna kata Arafah, ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan Arafah diambil dari kata i’tiraf (pengetahuan), karena pada hari Arafah umat Islam mengetahui dan membenarkan Al-Haqq (Allah) sebagai satu-satunya Dzat yang harus disembah, Allah merupakan Dzat Yang Agung. 


Ada juga ulama yang berpendapat bahwa Arafah diambil dari kata Arafa yang mempunyai makna bau yang harum. Artinya, dengan melaksanakan ibadah haji di Arafah, menunjukkan bahwa orang ingin bertobat kepada-Nya. Melepas semua kesalahan yang pernah dilakukan, dan menghindar dari perbuatan dosa.


Dengan demikian, secara tidak langsung orang sedang berusaha untuk mendapatkan surga di sisi Allah, dan kelak akan memiliki bau yang harum di dalam surga.


Allah berfirman: 


   يُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَها لَهُمْ (محمد: 6) 


Artinya: Dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenankan-Nya kepada mereka. (Muhammad: 6)   


Maksud ayat di atas sebagaimana yang disampaikan Imam Fakhruddin Ar-Razi adalah, sesungguhnya orang-orang yang berdosa ketika bertobat di tanah Arafah, sungguh mereka telah terlepas dari kotoran dosa, dan berusaha dengan (ibadah)nya di sisi Allah  sehingga akan menjadi jiwa yang harum (terbebas dari dosa dan kesalahan). 


Menurut Ar-Razi, ada delapan alasan di balik penamaan tanggal sembilan Dzulhijah disebut hari Arafah adalah sebagai berikut: 


1. Sesungguhnya hari itu merupakan momentum dipertemukannya dua pasangan suami istri yang sudah bersama dalam surga kemudian diusir ke dunia, dan akhirnya oleh Allah pada hari itu dipertemukan di tanah Arafah, Makkah, yaitu pertemuan Nabi Adam ‘Alaihis Salâm dengan Sayyidah Hawa. Dengan pertemuan itu, keduanya menjadi tahu (arafa) antara satu dengan lainnya. 


2. Malaikat Jibril mengajarkan tatacara melakukan ibadah haji pada Nabi Adam ‘Alaihis Salâm, dan ketika sampai di tanah Arafah, Jibril berkata kepadanya: Apakah engaku sudah tahu? Nabi Adam ‘Alaihis Salâm menjawab: Iya, tahu.  Karenanya, hari itu dikenal dengan hari Arafah (tahu).   


3, Karena pada hari itu Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salâm mengetahui (Arafah) kebenaran mimpi menyembelih putranya Ismail, yang ia alami dan membingungkan itu. 


4. Pada hari itu malaikat Jibril mengajarkan tentang tatacara melaksanakan ibadah haji kepada Nabi Ibrahim ‘Alaimas Salam, dan membawanya menuju Arafah. Sesampainya di sana, Jibril bertanya: Apakah engkau tahu tentang cara tawaf dan di mana tawaf dilakukan? Nabi Adam ‘Alaihis Salâm menjawab: Iya, tahu.  


5. Nabi Ibrahim  ‘Alaihis Salâm pergi menuju Syam dan meninggalkan anaknya Nabi Ismail ‘Alaihis Salâm dan istrinya Sayyidah Hajar di Makkah. Mereka tidak pernah bertemu selama beberapa tahun, kemudian oleh Allah keduanya dipertemukan tepat pada hari Arafah. 


6. Disebabkan peristiwa mimpi Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salâm untuk menyembelih putranya Nabi Ismail ‘Alaihis Salâm, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.     


7. Karena pada hari itu orang-orang yang sedang melakukan ibadah haji menamainya dengan kata Arafah ketika berhenti di tanah Arafah. 


8. Karena pada hari itu Allah memberitahukan (yata’arrafu) dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang sedang melaksanakan ibadah haji dengan ampunan (maghfirah) dan rahmat. (Ar-Razi, Tafsîr Mafâtîhul Ghaib, juz V, halaman: 325).   


Keutamaan Hari Tarwiyah dan Arafah 

Membahas keutamaan dan keagungan hari Tarwiyah dan Arafah atas tentu juga menjadi sangat penting dan perlu dipahami oleh semua umat Islam. Tentang keutamaan dan keagungannya, kedua hari tersebut mempunyai nilai yang sangat besar di sisi Allah. 


Terbukti dalam Al-Qur’an Allah berfirman: 


وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ (الفجر: 3)   


Artinya: Demi yang genap dan yang ganjil. (Al-Fajr: 3)   


Syekh Abu Hafs Umar bin Ali bin ‘Adil Ad-Dimisyqi mengutip pendapat Ibnu ‘Abbas Radhiyallâhu ‘Anhumâ yang berpendapat, maksud ayat di atas adalah hari Tarwiyah dan hari Arafah. Dalam kitabnya disebutkan: 


   قَالَ ابْنُ عَبَّاس (الشَّفْعِ) يَوْمُ التَّرْوِيَةِ وَعَرَفَةَ (وَالْوَتْرِ) يَوْمُ النَّحْرِ   


Artinya: Ibnu Abbas berkata: (Maksud ayat) wassyaf’i yaitu hari Tarwiyah dan hari Arafah, dan maksud ayat wal watri, yaitu hari kurban. (Abu Hafs Ad-Dimisyqi, Al-Lubâb fi Ulûmil Kitâb [Bairut, Dârul Fikr: 2005), juz III, halaman: 418).   

  

Kemuliaan dan keagungan kedua hari tersebut sangat nyata, di mana pada ayat di atas Allah bersumpah secara langsung atas nama kedua hari mulia itu. Wallâhu a’lam.


Editor:

Keislaman Terbaru