• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 1 Oktober 2022

Keislaman

Perlukah Bertobat jika Tidak Berbuat Dosa?

Perlukah Bertobat jika Tidak Berbuat Dosa?
Ilustrasi bertobat kepada Allah (Foto:NOJ/Islami.co)
Ilustrasi bertobat kepada Allah (Foto:NOJ/Islami.co)

Manusia berpotensi untuk berbuat salah itu adalah sebuah kewajaran, sebab ia memiliki nafsu yang cenderung mengarah pada foya-foya, kesenangan sesaat. Akan tetapi ketika tergelincir, maka Allah menyediakan pintu untuk bertobat.


Perlu diketahui bahwa di antara jalan yang akan menuntun seseorang meraih ketakwaan adalah dengan jalan tobat. Siapa saja yang bertobat dari segala macam perbuatan buruk  pastilah akan meraih ketakwaan. Karena dari ketakwaan itu ia menuntut dirinya agar menghindar dari kemaksiatan.


Term tobat sudah menjadi bahasa keseharian dan selalu diidentikkan dengan para pendosa. Tobat sering disandarkan kepada mereka yang bergelimang dalam dunia ‘gelap’ penuh  kemaksiatan, sehingga para pelaku dosa itu harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan. Memang secara pemaknaan tobat cocok dengan arti kembali.


Lantas bagaimana bila ia tidak melakukan kesalahan atau berbuat dosa tapi membiasakan bertobat? Dalam kitab Minahussaniyah karya Syekh Abd Wahhab al-Sya’rani disebutkan:


التوبة فى اللغة الرجوع، يقال  : تاب، اى رجع، وفى الشرع : الرجوع عما كان مذموما فى الشرع إلى ما هو محمود فى الشرع


Artinya: Tobat, menurut bahasa adalah kembali. Dan menurut istilah syara’ yaitu, kembali dari perbuatan yang tercela menurut syariat menuju perbuatan yang terpuji menurut syariat.


Redaksi ini mempertegas bahwa tobat adalah kembali meninggalkan perkara yang tercela menuju perkara yang terpuji dalam pandangan agama. Perkara yang tercela sangat banyak ragam dan tingkatannya. Bagi mereka yang berkecimpung dalam kehidupan yang sarat akan kemaksiatan maka tobat itu harus dilakukan untuk menghindarkan diri dari kemaksiatan tersebut. Bagi mereka yang kesehariannya selalu mengerjakan dosa-dosa kecil, maka tobatnya adalah menghindar dari dosa-dosa kecil tersebut. 


Mengapa demikian? karena jika dosa terus-menerus ditumpuk, maka yang kecil akan menjadi besar juga. Demikian juga bagi mereka yang hiruk-pikuknya dalam kubangan kemakruhan (perkara yang dibenci agama) maka pertobatannya dengan menghindar dari kemakruhan. Setiap pribadi harus selalu bertaubat menurut kapasitas masing-masing.


Bahkan Rasulullah dalam sebuah riwayat mencontohkan kepada umatnya bahwa setiap hari bertobat kepada Allah sebanyak seratus kali. Dalam hadits Shahih Muslim disebutkan:


توبوا الى الله فإني أتوب اليه كل يوم مائة مرة
 

Artinya: Bertobatlah kalian semua kepada Allah. Maka sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya setiap hari sebanyak seratus kali. (Syeikh Abu Bakar Syatha, Kifayah al-Itqiya’ wa Minhaj al-Ishfiya, (Beirut, DKI, 2015, halaman: 45)


Dari sini sangat jelas bahwa bertobat adalah jalan khusus bagi siapa saja yang ingin kembali kepada Allah, meskipun ia tidak melakukan dosa. Rasulullah yang notabene terjaga, terhindar (ma’shum) dari perbuatan dosa dengan membiasakan untuk bertobat sejatinya mengajarkan kepada umat Islam agar senantiasa taubat meskipun tidak berbuat dosa. Sebab manusia pada umumnya tidak ada yang bisa menjamin dalam kesehariaannya untuk tidak melakukan kesalahan sama sekali.


Editor:

Keislaman Terbaru