• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 2 Desember 2022

Keislaman

Siapakah yang Dimaksud dengan Salafus Shalih?

Siapakah yang Dimaksud dengan Salafus Shalih?
Dengan mengikuti manhaj ahlussunnah wal jamaah, maka sama halnya ikut pada salafus shalih. (Foto:NOJ/almunawwir)
Dengan mengikuti manhaj ahlussunnah wal jamaah, maka sama halnya ikut pada salafus shalih. (Foto:NOJ/almunawwir)

Perilaku keagamaan generasi salaf meniscayakan bangunan aqidah, praktik pengamalan syariah dan tasawuf (akhlaq qalbiyyah). Sejak awal berdirinya, Nahdlatul Ulama (NU) menyatakan diri sebagai pelestari dan pendakwah cara beragama generasi salafusshalih.
 

Di pihak lain muncul kelompok yang mengklaim dirinya konsisten pada perilaku keagamaan generasi salaf. Bersamaan dengan itu mereka menganggap umat Islam yang tidak sejalan dengannya sudah menyimpang bahkan jauh dari perilaku keamaaan keagamaan generasi salaf menurut versi mereka.
 

Menyikapi fenomena tersebut, Multaqo Bu Nyai Nusantara dan Muslimat NU se-Jawa Timur dalam forum Bahtsul Masail menegaskan bahwa generasi salafus shalih yang dimaksud oleh NU adalah tiga generasi pertama, yaitu sahabat, tabi’in, dan tabi’ tabi’in sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW.
 

Penegasan Nabi tentang hal itu menyimpulkan bahwa generasi inilah yang benar-benar mewarisi ajaran Nabi Muhammad SAW secara utuh yang mesti diteladani oleh generasi umat sepanjang masa.
 

قَالَ فِيْهِمْ رَسُوْلُ اللّٰهِ :خَيْرُالنَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ وَلِذَا فَالصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُوْنَ أَحَقُّ بِالْإِتْبَاعِ مِنْ غَيْرِهِمْ وَذَلِكَ لِصِدْقِهِمْ فِي إِيْمَانِهِمْ، وَإِخْلَاصِهِمْ فِي عِبَادَتِهِمْ، وَهُمْ حِرَاسُ الْعَقِيْدَةِ، وَحِمَاةُالشَّرِيْعَةِ الْعَامِلُوْنَ بِهَاقَوْلاً وَعَمَلاً، وَلِذَلِكَ اخْتَارَهُمُ اللّٰهُ تَعَالَى لِنَشْرِدِيْنِهِ وَتَبْلِيْغِ سُنُّةِ نَبِيِّهِ ... وَيُطْلَقُ عَلَى كُلًِّ مَنْ اقْتَدَى بِالسَّلَفِ الصَّالِحِ وَسَارَعَلَى نَهْجِهِمْ فِي سَائِرِالْعُصُوْرِسَلَفِيٍّ نِسْبَةٔاِلَيْهِمْ، تَمْيِيْزٌا بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَنْ يُخَالِفُوْنَ مَنْهَجَ السَّلَفِ وَيَتَّبِعُوْنَ وَغَيْرَسَبِيْلِهِمْ، قَالَ تَعَالَى: وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْ بَعْدِمَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَسَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّم وَسَاءَتْ مَصِيْرًا وَلَايَسَعُ أَيْ مُسْلِمٌ إِلَّا أَنْ يَفْتَخِرَبِالْاِنْتِسَابِ إِلَيْهِمْ. ولَفْظُ السَّلَفِيَّةِ أَصْبَحَ عَلْمًاعَلَى طَرِيْقَةِ السَّلَفِ الصَّالِحِ فِي تَلَقِّي الْإِسْلَامِ وَفَهْمِهِ وَتَطْبِيْقِهِ، وَبِهَذَا فَإِنَّ مَفْهُوْمَ السَّلَفِيَّةِ يُطْلَقُ عَلَى الْمُتَمَسِّكِيْنَ بِكِتَابِ اللّٰهِ، وَمَا ثَبَتَ مِنْ سُنَةِ رَسُوْلِ اللّٰهِ تَمَسُّكًا كَامِلًا بِفَهْمِ السَّلَفِ (الوجيزفي عقيدة السلف الصالح علي أهل السنة والجماعة، ج 1 ص 21)
 

Artinya: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya dalam diri (Salafussalih) itu dimaksudkan, sebaik-baik manusia adalah kurun saya (sahabat), kemudian orang orang yang mengiringinya (tabi’in), lalu orang-orang yang mengiringi berikutnya (tabi’it tabi’iin). Maka dengan demikian, sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in adalah orang-orang yang paling berhak (paling tepat) diikuti daripada lainnya, karena mereka paling jujur dalam keimanannya, dan paling ikhlas dalam ibadahnya dan amalannya. Mereka penjaga aqidah, dan penopang syariah yang mengamalkannya dengan ucapan dan perbuatan.
 

Oleh sebab itu Allah SWT, memilih (mengutamakan) mereka untuk menyebarkan agama-Nya, dan menyampaikan (tabligh) sunnah-sunnah-Nya. Lebih lanjut maksud dari al-salaf (orang-orang terdahulu) adalah tiga kurun waktu (sahabat nabi, tabi’in, dan tabi’it tabi’iin). Maka sudah seharusnya generasi muda mengikuti jejak mereka dalam paradigma berfikir. Ada tiga alasan mendasar yang disandang oleh mereka:
 

1. Alim ‘allamah (ilmu yang sempurna) dalam segala bidang.
 

2. Berkepribadian wara’ (senantiasa menjaga terhadap hal yang kurang pantas diucapkan atau dilakukannya), dan teruji.
 

3. Berwawasan ke depan dengan cakrawala yang sangat luas.

 

Al-salafiyyah menurut Dr. Mustafa Hilmiy dijelaskan sebagai berikut:
 

وَالسَّلَفِيَّةُ كَمَايَعْرِفُهَا الشَّيْخُ الْغَزَالِي لَيْسَتْ فِرْقَةً مِنَ النَّاسِ تَسْكُنُ بَقَاعًا مِنْ جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ وَتُحْيِ عَلَى نَحْوِاجْتِمَاعِيٍّ مُعَيَّنٍ. إِنَّ السَّلَفِيَّةَ نَزْعَةٌ عَقْلِيَّةٌ وَعَاطِفِيَّةٌ تَرْتَبِطُ خَيْرَ الْقُرُوْنِ وَتَعْمَلُ وَلَهُ كِتَابُ اللّٰهِ وَسُنَّةُ رَسُوْلِهِ، وَتَحْشِدُ جُهُوْدَ الْمُسْلِمِيْنَ الْمَادِيَّةِ وَالْأَدَبِيَّةِ لِإِعْلَاءِ كَلِمَةِ اللّٰهِ دُوْنَ نَظْرٍ إِلَى عِرْقٍ وَلَوْنٍ (السلفية بين عقيدة الاسلامية والفلاسفة الغربية للمصطفى حلمي ص 50)
 

Artinya: Al-salafiyah (salafuna/pendahulu-pendahulu) itu sebagaimana yang didefinisikan oleh Imam Al-Ghazali, adalah bukan firqah (aliran, kelompok) manusia dari jazirah (sepenanjung) Arab dan hidup dalam sekte khusus. Namun salafiyah adalah paradigma berfikir yang berkaitan dengan  masa yang baik, dan berkreasi, atau berbuat kebaikan. Dia berpegang teguh dengan kitabullah dan sunnah rasul-Nya, dan menguatkan jihad dan dakwahnya kaum muslimin dengan konsep dan implementasi demi tegaknya kalimatillah al ‘ulya, tanpa memandang suku maupun ras.
 

Dari sini, dapat dipahami bahwa sebagian yang harus (wajib) dilakukan bagi setiap orang mukalaf, muslim adalah ittiba’ dan mengikuti langkah-langkah orang-orang shalih, yaitu para sahabat Nabi, dalam ucapannya, tindakannya, dan cara memahami dalil dan mengambilnya.
 

Jelasnya, keharusan mengikuti langkah ulama salaf adalah keniscayaan, meskipun mereka adalah seorang mujtahid, sebagaimana pendapat Imam Malik dan pengikutnya, ada lagi pendapat yang mengkhususkan ittiba’ salaf itu bagi selain mujtahid, atau orang yang belum sampai pada derajat seorang mujtahid, sedang mujtahid harus berijtihad sendiri.
 

Dengan demikian tampak bahwa al-salaf yang dianut oleh ulama NU adalah mengikuti (ittiba') Nabi, sahabat, tabi' tabi'in, dan para ulama yang kurunnya berdekatan dengan tabi' tabi'in dan seterusnya. Kesemuanya membentuk sebuah genealogi keilmuan dan keteladanan yang terbingkai dalam ahlussunnah wal jamaah.


Keislaman Terbaru