Home Metropolis Warta Pendidikan Malang Raya Pemerintahan Madura Parlemen Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Mitra Pustaka

Khutbah Gerhana Bulan Praktis: Memaknai Perubahan Alam Raya

Khutbah Gerhana Bulan Praktis: Memaknai Perubahan Alam Raya
Khutbah gerhana bulan dengan tema memaknai perubahan alam raya. (Foto: NOJ/Viva)
Khutbah gerhana bulan dengan tema memaknai perubahan alam raya. (Foto: NOJ/Viva)

Salah satu keagungan Allah SWT adalah peredaran alam raya yang sesuai dengan ketentuan. Keteraturan tersebut di antaranya adalah kemunculan gerhana bulan. 

Umat Islam hendaknya tidak semata memandang hal ini sebagai keteraturan semata, namun mampu menangkap makna di balik gerhana bulan yang ada. Menyadari kekuasaan Allah dengan melaksanakan shalat gerhana bulan atau khusuf, juga terus berupaya meningkatkan takwallah. 

Para khatib dapat mencetak naskah khutbah dengan memilih tombol print. Berikut naskah lengkap khutbah gerhana bulan berjudul: Memaknai Perubahan Alam Raya, dan semoga memberikan manfaat. (Redaksi)



Khutbah Pertama

 

 أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِـيْمَ  ×٩  الَّذِيْ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ. الحَمْدُ للهِ الّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّوْرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن. اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَالشَّمْسُ تَجْرِيْ لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ 

 

Allahu Akbar 7 X
Jamaah Shalat Gerhana Bulan Rahimakumullah

Sungguh, bisa menyaksikan kebesaran kuasa Allah SWT yakni gerhana bulan adalah kurnia yang demikian bermakna. Karenanya, marilah kesempatan tersebut kita jadikan sebagai sarana meningkatkan takwallah yakni menjalankan perintah dan menjauhi yang dilarang.

 

Allahu Akbar 3 X
Jamaah Rahimakumullah

Kita yang hadir dalam majelis ini tentu mengimani bahwa keberadaan alam semesta beserta segenap isinya adalah salah satu bukti kemahakuasaan Allah Subhanahu Wa Taala. Mulai dari skala makrokosmos hingga mikrokosmos. Struktur skala makro alam semesta tercermin melalui galaksi, gugusan bintang-gemintang hingga sistem keplanetan atau tata surya. Semuanya berukuran sangat besar namun sangat jauh sehingga banyak yang hanya bisa dilihat melalui teleskop-teleskop raksasa berteknologi tercanggih pada saat ini. 

 

Berkas cahaya yang mereka pancarkan membutuhkan waktu ratusan ribu, jutaan, ratusan juta, dan bahkan ada yang sampai bermiliar tahun untuk tiba di bumi. Padahal seberkas cahaya mampu menempuh jarak 300.000 kilometer dalam setiap detiknya. Demikian pula struktur skala mikro alam semesta yang meliputi proton, elektron, atom, proton, molekul hingga benda-benda renik lainnya. 

 

Termasuk virus, yang sedang merebak di sekitar kita akhir-akhir ini sebagai wabah penyakit Covid-19 yang telah menjadi pandemi di segenap penjuru bumi. Kita tak bisa menyaksikan langsung sebuah virus, karena ukurannya jauh lebih kecil dari ketebalan sehelai rambut. Membutuhkan mikroskop khusus yang dinamakan mikroskop elektron untuk melihatnya. 

 

Namun gejala-gejala yang ditimbulkannya dapat dirasakan terutama pada saudara-saudara kita yang telah terjangkiti penyakit ini. Semuanya adalah makhluk Allah dan tak satu pun yang lepas dari sunatullah. Inilah makna Allah sebagai rabbul ‘alamin, pemilik sekaligus penguasa dari seluruh keberadaan; al-Khaliqu kullasyai’, pencipta segala sesuatu. Apa pun dan siapa pun, baik yang sudah kita ketahui hingga saat ini maupun yang belum. 

 

Allah menciptakan segala sesuatu adalah tak lain sebagai ayat atau tanda akan keberadaan-Nya. Dalam Al-Qur’an dijelaskan:


 سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ 

 

Artinya: Kami (Allah) akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (ayat) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri…. (QS Fushshilat: 53). 

 

 

Allahu Akbar 3X

Hari ini, Jumat tanggal 14 Rabiul Awal 1443 atau 19 November 2021 terjadi lagi gerhana bulan. Gerhana hari Jumat nanti akan diawali dengan fase Awal Penumbra. Ini terjadi pada pukul 13.00.20 WIB/14.00.20 WITA/15.00.20 WIT. Seluruh Indonesia tidak dapat menyaksikan fase Awal Penumbra dikarenakan bulan masih di bawah ufuk dan belum terbit. Berikutnya adalah fase awal sebagian terjadi pukul 14.18.21 WIB/15.18.21 WITA/16.18.21 WIT. Sama seperti sebelumnya, fase ini tidak akan terlihat di seluruh Indonesia.

 

Peristiwa gerhana bulan yang sedang terjadi dan sedang disaksikan sebagian manusia pada saat ini, sesungguhnya juga tak lebih sebagai tanda atau ayat. Patut disyukuri pada saat ini kita telah memiliki pengetahuan lebih baik dalam memahami gerhana bulan, yang termaktub dalam ilmu falak. Kini kita mengetahui bahwa gerhana bulan merupakan produk kesejajaran sebagai buah pergerakan bulan mengelilingi bumi dan pergerakan bumi mengelilingi matahari secara ritmis, mengikuti sunatullah (hukum Allah). 

 

Demikian pula pandemi Covid-19 yang sedang kita alami pada saat ini, juga merupakan tanda. Tanda keberadaan Allah melalui virus baru yang tak pernah dikenali sebelumnya sepanjang sejarah.  Pada saat ini ilmu kedokteran mulai berhasil menguak sebagian sifat virus dan menemukan vaksin yang tepat dan obat yang cocok untuk menanganinya. 

 

Allahu Akbar 3X
Gerhana matahari atau gerhana bulan hanyalah salah satu tanda kebesaran dan kekuasaan Allah. Dengan sains, kita bisa lebih banyak mempelajari ayat-ayat-Nya di alam ini. Justru dengan terjadinya gerhana, memberi banyak bukti bahwa alam ini ada yang mengaturnya. Allah yang mengatur peredaran benda-benda langit sedemikian teraturnya sehingga keteraturan tersebut bisa diformulasikan untuk prakiraan. 

 

Allah berfirman dalam surat Ibrahim, sebagai berikut:


 وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَاۤىِٕبَيْنِۚ وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ 

 

Artinya: Dia telah menundukkan bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah pula menundukkan bagimu malam dan siang. (QS Ibrahim: 33). 

 

Allahu Akbar 3X

Matahari dan bulan beredar pada orbitnya masing-masing, bagaimana bisa menyebabkan gerhana? Pada awalnya orang-orang menganggap bumi diam, bulan dan matahari yang mengitari bumi dalam konsep geosentris. Kemudian berkembang pemahaman, matahari yang diam sebagai pusat alam semesta, semantara itu, benda-benda langitlah yang mengitarinya, dalam konsep heliosentris. Bulan dan matahari juga dianggap punya cahayanya masing-masing. 

 

Tetapi Al-Qur’an memberi isyarat, bahwa walau terlihat sama bercahaya, sesungguhnya bulan dan matahari berbeda sifat cahayanya dan gerakannya. Matahari bersinar dan bulan bercahaya. 
Allah berfirman:


 هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِالْحَقِّۗ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ 

 

Artinya: Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Dialah pula yang menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu, kecuali dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada kaum yang mengetahui. (QS Yunus: 5). 

 

Ayat Al-Qur’an ini bukan hanya mengungkapkan perbedaan sifat sinar matahari dan cahaya bulan, tetapi juga perbedaan geraknya. Perbedaan orbitlah yang menyebabkan matahari tampak tidak berubah bentuknya, sedangkan bulan berubah-ubah bentuknya sebagai perwujudan perubahan tempat kedudukannya (manzilah-manzilah) dalam sistem bumi-bulan-matahari. Kini sains bisa mengungkapkan sifat gerak dan sumber cahaya bulan dan sinar matahari. 

 

Gerak harian matahari dan bulan, terbit di timur dan terbenam di barat, hanyalah merupakan gerak semu. Karena sesungguhnya bumilah yang bergerak. Bumi berputar pada porosnya sekali dalam sehari sehingga siang dan malam silih berganti dan benda-benda langit pun tampak terbit dan terbenam, seperti halnya matahari dan bulan. 

 

Sesungguhnya gerak yang terjadi bukan hanya bumi yang berputar pada porosnya, tetapi juga matahari dan bulan beredar pada orbitnya. Bulan mengorbit bumi, sementara bumi mengorbit matahari, dan matahari pun tidak diam, tetapi bergerak juga mengorbit pusat galaksi. Sinar matahari berasal dari reaksi nuklir di intinya, sedangkan cahaya bulan berasal dari pantulan sinar matahari. Efek gabungan sudut datang sinar matahari dan sudut tampak dari permukaan bumi menyebabkan bulan tidak selalu tampak bulat, tetapi berubah-ubah dari bentuk sabit ke purnama yang bulat, dan kembali lagi ke sabit tipis, seperti pelepah kering. 

 

Inilah yang diisyaratkan Allah dalam firman-Nya:


 وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الَّيْلُۖ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَاِذَا هُمْ مُّظْلِمُوْنَۙ وَالشَّمْسُ تَجْرِيْ لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَاۗ ذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِۗ وَالْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِۗ وَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ 

 

Artinya: Suatu tanda juga (atas kekuasaan Allah) bagi mereka adalah malam. Kami pisahkan siang dari (malam) itu. Maka, seketika itu mereka (berada dalam) kegelapan. (Suatu tanda juga atas kekuasaan Allah bagi mereka adalah) matahari yang berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. (Begitu juga) bulan, Kami tetapkan bagi(-nya) tempat-tempat peredaran sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir,) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya. 

 

Allahu Akbar 3X 
Walau tampak matahari dan bulan berjalan pada jalur yang sama, tidak mungkin keduanya bertabrakan atau saling mendekat secara fisik, karena orbitnya memang berbeda. Perjumpaan bulan dan matahari saat gerhana matahari, atau perjumpaan bulan dan bumi pada saat gerhana bulan, hanyalah ketampakkannya, ketika matahari tampak terhalang bulan, yang berada di antara matahari dan bumi. Begitu juga, pada saat gerhana bulan, bulan dan matahari berada pada posisi yang berseberangan sehingga cahaya matahari yang mestinya mengenai bulan, terhalang bumi. Bulan purnama menjadi gelap karena bayangan bumi. 

 

Allahu Akbar 3X
Sains menjelaskan fenomena yang sesungguhnya. Sains menghilangkan mitos dan meneguhkan keyakinan akan kekuasaan Allah. Allah menunjukkan kebesaran dan kekuasaan-Nya dengan fenomena gerhana itu. Keteraturan yang luar biasa yang Allah ciptakan, memungkinkan manusia menghitung peredaran matahari untuk digunakan dalam perhitungan waktu dan digunakan untuk memprakirakan gerhana. 

 

Kita sekarang membuktikan bahwa sains telah memprediksi gerhana bulan malam ini. Ketika kita menyaksikan kebenaran prakiraan sains, bukan kebanggaan intelektual yang kita tunjukkan melainkan ungkapan:

 

 الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ 

 

Artinya: (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka. (QS Ali Imran: 191). 

 

Sejatinya, gerhana matahari maupun gerhana bulan itu terjadi setiap tahun, tetapi pada tahun 2021 ini Indonesia hanya terlintasi gerhana bulan, tidak terlintasi gerhana matahari. Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan oleh Allah sehingga dapat menikmati tanda kebesaran Allah melalui gerhana bulan yang akan datang. 

 

Allahu Akbar 3X

Menutup khutbah ini, marilah kita merenungkan firman Allah dalam surat Al-Qiyamah ayat 6-12:


 يَسْـَٔلُ اَيَّانَ يَوْمُ الْقِيٰمَةِۗ فَاِذَا بَرِقَ الْبَصَرُۙ وَخَسَفَ الْقَمَرُۙ وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُۙ يَقُوْلُ الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍ اَيْنَ الْمَفَرُّۚ كَلَّا لَا وَزَرَۗ اِلٰى رَبِّكَ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْمُسْتَقَرُّ 

 

Artinya: Dia bertanya: Kapankah hari kiamat itu? Apabila mata terbelalak (ketakutan), bulan pun telah hilang cahayanya, serta matahari dan bulan dikumpulkan. Pada hari itu manusia berkata: Ke mana tempat lari? Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. (Hanya) kepada Tuhanmu tempat kembali pada hari itu. 

 

Allah Akbar 3X

Jamaah yang Berbahagia

Setelah kita melaksanakan shalat gerhana dan merenungi hikmah di balik itu, marilah kita akhiri khutbah ini dengan mohon ampunan dan mohon kekuatan kepada Allah SWT.


 أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ 

 

Khutbah Kedua

 

 أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِـيْمَ  ×٩  الَّذِيْ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ. اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ  


 

Terkait

Khutbah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

Terkini