• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 8 Agustus 2022

Khutbah

Khutbah Jumat Terbaru: 7 Adab Menjaga Keselamatan Lisan

Khutbah Jumat Terbaru: 7 Adab Menjaga Keselamatan Lisan
Ada 7 adab yang bisa dilakukan untuk keselamatan lisan. (Foto: NOJ/MSd)
Ada 7 adab yang bisa dilakukan untuk keselamatan lisan. (Foto: NOJ/MSd)

Keselamatan manusia sangat ditentukan bagaimana mengatur dan memastikan dalam menjaga lisannya. Betapa banyak pertengkaran dalam keluarga maupun permusuhan teman maupun tetangga hingga berujung perang antarnegara karena gagal menjaga lisan.   

Oleh sebab itu, Islam sangat menganjurkan untuk terus menjaga lisan demi kemaslahatan dan keselamatan bersama. Bahkan bila dirasa tidak penting, hendaknya tidak berujar dan berkata-kata. Dengan demikian, kalimat yang keluar dari mulut demikian dijaga, tidak asal ngomong.

Jumat seperti ini adalah di antara waktu terbaik untuk mengingatkan jamaah akan pentingnya menhjaga lisan. Hal tersebut sebagai pintu masuk menjadi hamba bertakwa.

Untuk mencetak naskah khutbah, jamaah utamanya khatib dapat menekan tombol print sehingga bisa menggandakan dan digunakan untuk khutbah Jumat. Berikut naskah lengkap khutbah Jumat berjudul: 7 Adab Menjaga Keselamatan Lisan, dan semoga memberikan manfaat. (Redaksi) 

 

Khutbah Pertama

 

    اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأيُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ

 

Jamaah Rahimakumullah
Adalah nikmat yang demikian berharga bila di kesempatan Jumat ini kita dipertemukan di rumah Allah yang demikian istimewa. Apalagi bonus yang dapat diterima adalah berjumpa dengan tetangga, sahabat, rekan bisnis dan mungkin juga saudara baru sesama muslim yang tidak didapat di kesempatan lain. Karenanya, mari kesempatan yang ada dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Termasuk Bersama saling mengingatkan untuk meningkatkan takwallah yakni menjalankan perintah dan menjauhi yang dilarang. Dengan demikian diharapkan kita termasuk insan yang beruntung.

 

Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah
Sebuah pepatah bahasa Arab menyatakan bahwa keselamatan seseorang bergantung pada cara bagaimana ia menjaga lisannya. Pepatah itu menyatakan:


 سَلَامَةُ اْلإِنْسَانِ فِي حِفْظِ اللِّسَانِ   

 

Artinya: Keselamatan manusia terletak dalam menjaga lisannnya.   

  

Pepatah itu mengingatkan sedemikian kuat hubungan antara keselamatan seseorang dengan kemampuan menjaga lisannya. Dalam kaitan ini, allamah Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitabnya yang berjudul: Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudhâharah wal Muwâzarah (Dar Al-Hawi, 1994, halaman: 83-84) menasihatkan tujuh adab menjaga lisan sebagai berikut:   

 

1. Hendaklah tidak melibatkan diri dalam hal yang tidak ada gunanya.   

Bergaul adalah baik dan dianjurkan, tetapi dalam pergaulan harus dihindari hal-hal yang tak ada gunanya dan apalagi mendatangkan madharat, seperti ghibah atau menggunjing. Mencampuri urusan orang lain yang jelas-jelas bukan kewenangan kita juga termasuk hal-hal yang semestinya dihindari sebab tidak jarang menimbulkan ketidak-senangan dari pihak yang merasa dilangkahi atau dicampuri urusannya.   

 

Kadang-kadang kita menerima curhat dari seseorang. Kita tentu saja boleh memberikan masukan-masukan agar permasalahan yang dihadapi segera terselesaikan. Tetapi kita harus sadar sejauh mana kita boleh memberikan masukan agar tidak terlalu jauh masuk ke wilayah orang lain. Hal seperti ini bisa menimbulkan masalah baru jika ada pihak-pihak yang merasa telah diganggu wilayah kewenangannya.   

 

Jamaah yang Berbahagia

2. Jangan bersumpah demi Allah kecuali mendesak   
Sering menyebut nama Allah tentu saja baik sebab merupakan dzikir. Tetapi jika penyebutannya merupakan sumpah yang bersifat main-main, hal ini tentu saja tidak baik. Sumpah dengan berucap والله atau demi Allah dapat dibenarkan jika bersifat sungguh-sungguh. 

 

Imam al-Harits al-Muhasibi dalam kitabnya berjudul Risâlah al-Mustarsyidin halaman 136 mengingatkan kita untuk tidak sering-sering bersumpah sebagaimana kutipan berikut:


   وَلَا تُكْثِرِ الْأَيْمَانَ وَإِنْ كُنْتَ صَادِقًا   

 

Artinya: Dan janganlah sering bersumpah meskipun engkau benar.   

 

Jadi, sekalipun kita jujur dan dalam posisi benar, janganlah kita mengobral sumpah apalagi disertai dengan ucapan والله atau demi Allah. Namun dalam keadaan genting atau mendesak, seperti dalam proses hukum di pengadilan, bersumpah demi Allah adalah tepat.   

 

Jamaah Rahimakumullah
3. Hindarilah segala kebohongan karena berlawanan dengan iman   

Secara umum berbohong adalah dosa kecuali keadaan memaksa demi kemaslahatan bersama yang lebih luas. Artinya sebagian besar kebohongan adalah haram sehingga sebanyak mungkin harus dihindari.   

 

Sudah banyak terbukti kebohongan sebetulnya tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga kepada orang lain yang mempercayainya. Kekacauan bisa timbul akibat kebohongan berupa fitnah yang tersebar dan dipercayai masyarakat. Tidak jarang terjadi kerusuhan dalam masyarakat bermula dari maraknya kabar bohong atau hoaks. 

 

Rasulullah bersabda bahwa kebohongan merupakan salah satu tanda orang munafik sebagaimana hadits berikut:

 

 آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ 

 

Artinya: Pertanda orang munafik ada tiga: Apabila berbicara bohong, apabila berjanji mengingkari janjinya dan apabila dipercaya berbuat khianat. (HR al-Bukhari).     

 

Jamaah Hafidhakumullah
4. Jauhkan dari pergunjingan dan fitnah serta bercanda secara keterlaluan   

Menggunjing, memfitnah, dan bercanda yang kelewatan adalah tidak baik. Seorang muslim hendaklah selalu berusaha menghindari ketiga hal ini karena berpotensi besar menimbulkan ketidak-nyamanan dan bahkan permusuhan.   

 

Dalam Islam menggunjing diibaratkan memakan bangkai saudara sendiri yang telah mati. Fitnah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, adalah lebih kejam dari pada pembunuhan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:


   وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِۚ   

 

Artinya: Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. (Al-Baqarah: 91).   

 

Demikian pula bercanda yang keterlaluan atau kelewat batas tidak hanya sia-sia tetapi juga bisa membuat orang lain marah karena merasa tersinggung.   

 

5.  Hindarilah setiap ucapan keji   

Dan hal kelima yang harus diingat adalah bahwa berbicara kepada orang lain adalah salah satu cara berkomunikasi dalam kerangka silaturrahim. Hal ini tentu saja baik. Tetapi jika dalam pembicaraan itu mengandung ucapan-ucapan keji sudah pasti tidak baik. Sebab Islam justru menganjurkan supaya kita berbicara yang baik.   

 

Oleh karena itu, ucapan-ucapan keji seperti misuh-misuh dan hujatan-hujatan dengan menggunakan kata-kata kotor harus dihindari sebanyak mungkin demi kerukunan dan perdamaian bersama. Hal ini berlaku untuk semua pihak karena pada dasarnya persoalan kerukunan dan perdamaian menjadi tanggung jawab bersama.   


Jamaah yang Berbahagia

6. Menjaga dari ucapan kurang baik apalagi tercela

Ucapan yang kurang baik, apalagi yang tercela harus dihindari sebanyak mungkin. Contoh dari ucapan yang kurang baik adalah penggunaan kata-kata yang menghina atau merendahkan orang lain. Atau ungkapan-ungkapan yang menampakkan kesombongan baik di mata manusia, dan apalagi di hadapan Allah Subhanahu Wa Taala.   

 

Untuk menghindari hal seperti itu, sebaiknya kita membiasakan diri tawadhu atau rendah hati kapanpun dan di manapun kita berada. Kebiasaan yang baik seperti itu akan lebih menjamin keselamatan dan nama baik kita baik hadapan manusia maupun di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di akhirat pun kita akan selamat dari ancaman api neraka karena neraka adalah tempat yang sesuai bagi orang-orang sombong.   


Jamaah yang Dirahmati Allah

7. Pikirkan baik-baik yang akan diucapkan 

Dengan demikian jika hal yang akan disampaikan itu baik, katakanlah. Akan tetapi jika tidak, hendaknya diam. Karena sebuah pepatah menyatakan: Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna. Pepatah ini sejalan dengan apa yang dinasihatkan oleh allamah Sayyid Abdullah al-Haddad di atas. Jadi pada prinsipnya kita tidak boleh grusa-grusu dalam berucap atau mengucapkan sesuatu tanpa mempertimbangkan tentang manfaat dan madharatnya.   

 

Harus pula kita pertimbangkan sebelumnya tentang dampak atau risiko terhadap diri sendiri atau orang lain dari apa yang akan kita katakan. Sekiranya tidak ada manfaat dan bahkan membawa madharat baik bagi diri sendiri maupun orang lain, maka sebaiknya kita urungkan niat kita untuk mengatakan sesuatu tersebut. Sikap memilih diam demi menjaga semua pihak seperti ini sangat berharga karena diam adalah emas sebagaimana kata pepatah.   

 

Hadirin Rahimakumullah

Demikianlah ketujuh adab menjaga lisan sebgaimana nasihat Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad yang patut kita perhatikan baik-baik. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat rahmat dan pertolongan dari Allah Subhanahu Wa Taala sehingga dapat melaksanakan ketujuh adab tersebut dengan sebaik-baiknya. Dengan cara ini insyaallah lisan kita akan terjaga dari hal-hal yang dapat mengancam keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Amin ya rabbal alamin.
 

 

 بارَكَ اللهُ لِي ولَكُمْ فِي الْقُرْءانِ الْعَظِيمِ  ونَفَعَنِي وإِيَّاكُمْ مِنَ الْآياتِ  وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ أَقُلُ قَوْلِي  هذا وَأَسْتَغفِرُ اللهَ لِيْ ولَكُمْ ولِجَمِيعِ الْمٌسلِمِين فاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّه تعالى جَوادٌ كَرِيمٌ مَلِكُ بَرٌّ رَءُوْفٌ رَحِيمٌ. 

 

Khutbah Kedua


 اَلحمْدُ للهِ حَمْدًا كما أَمَرَ.وأَشْهدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ إِرْغامًا لِمَنْ جَحَدَ بِه وكَفَرَ. وأَشْهَدُ أَنَّ سَيّدَنا محمَّدًا عَبدُهُ ورسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ والْبَشَرِ.اللَّهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ على سيِّدِنا على عَبْدِكَ  ورَسُولِك محمَّدٍ وآلِه وصَحْبِه مَااتَّصَلَتْ عَينٌ بِنَظَرٍ وأُذُنٌ بِخَبَرٍ. ( أمّا بعدُ ) فيَآايُّهاالنّاسُ اتَّقُوا اللهَ تعالى وَذَرُوا الْفَواحِشَ ما ظهَرَ مِنْها وما بَطَنَ وحافَظُوا على الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمُعَةِ والجَماعَةِ . وَاعْلَمُوا  أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ  فِيه بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلائكةِ قُدْسِهِ. فَقالَ تعالى ولَمْ يَزَلْ قائِلاً عَلِيمًا: إِنَّ اللهَ وَملائكتَهُ يُصَلُّونَ على النَّبِيِّ يَآ أَيّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا اللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على سيِّدِنا محمَّدٍ وعلى آلِ سيِدِنَا محمَّدٍ  كَما صَلَّيْتَ على سيِّدِنا إِبراهِيمَ وعلى آلِ سيِّدِنَا إِبراهِيمَ في الْعالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاء الرّاشِدِينَ الَّذينَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكانُوا بِهِ يَعْدِلُونَ أَبي بَكْرٍ وعُمرَ وعُثْمانَ وعلِيٍّ وَعَنِ السَتَّةِ الْمُتَمِّمِينَ لِلْعَشْرَةِ الْكِرامِ وعَنْ سائِرِ أَصْحابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعينَ وَعَنِ التَّابِعِينَ وتَابِعِي التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسانٍ إِلَى يَومِ الدِّينِ. اللَّهمَّ لا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ فِي عُنُقِنَا ظَلَامَة ونَجِّنَا بِحُبِّهِمْ مِنْ أَهْوالِ يَومِ الْقِيامَةِ. اللَّهمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ والمُسلمينَ وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ والمُشْركِينَ. ودَمِّرْ أَعْداءَ الدِّينِ. اللَّهمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنا وأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنا. وَاجْعَلِ اللَّهمَّ وِلَايَتَنا فِيمَنْ خافَكَ وَاتَّقَاكَ. اللَّهمَّ اغْفِرْ لِلمُسلِمينَ والمُسلماتِ والمُؤْمنينَ والمُؤْمِناتِ الْأَحْياءِ مِنْهُمْ والْأَمْواتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اللَّهمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ والوَباءَ والزِّنا والزَّلَازِلَ وَالمِحَنَ وَسُوءَ الفِتَنِ ما ظَهَرَ مِنْها وما بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا هَذا خاصَّةً وعَنْ سائِرِ بِلَادِ الْمُسلمينَ عامَّةً يا رَبَّ الْعَالَمِينَ.رَبَّنا آتِنا في الدّنيا حَسَنَةً وَفي الآخرة حَسَنَةً  وقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ والْإِحْسان وإِيتاءَ ذِي الْقُرْبَى  ويَنْهَى عَنِ الْفَحْشاءِ والْمُنْكَرِوَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ على نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَكْبَرُ


 


Editor:

Khutbah Terbaru