• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 1 Desember 2022

Madura

Ikhlas Kunci Peradaban, Begini Penjelasan Kiai Azaim Ibrohimy

Ikhlas Kunci Peradaban, Begini Penjelasan Kiai Azaim Ibrohimy
R KH Azaim Ibrohimy (dua dari kanan) saat Simposium Peradaban NU di Keraton Sumenep, Sabtu (05/03/2022). (Foto: NOJ/ Firdausi)
R KH Azaim Ibrohimy (dua dari kanan) saat Simposium Peradaban NU di Keraton Sumenep, Sabtu (05/03/2022). (Foto: NOJ/ Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim
R KH Azaim Ibrohimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo mengimbau untuk mempelajari dan menggali manuskrip kuno. Hal ini disampaikan di acara Simposium Peradaban Nahdlatul Ulama (NU) di Keraton Kerajaan Sumenep, Sabtu (05/03/2022).
 

“Sementara manuskrip yang tercatat ada di Keraton Cirebon dan Mataram Yogyakarta. Saat Sunan Ampel menempuh pendidikan di Madinah bertemu dengan Rasulullah SAW secara yaqdhatan. Pesan nabi pada Raden Rahmatullah adalah sebuah perintah membawa Islam Ahlussunnah wal Jamaah ke Indonesia,” kata Kiai Azaim.
 

Artinya sumbu damar kambang yang diisyarahkan KH R As’ad Syamsul Arifin sanad keguruan dengan Wali Songo. Secara faktual, lanjutnya, riwayat yang masyhur dan terpopuler bahwa wali songo menjadi pelita keislaman di negeri ini.
 

“Kesambungan sanad ini melahirkan santri-santri para wali yang pada akhirnya mendirikan jam’iyah. Dulu, para ulama berkumpul di Surabaya untuk mendirikan Ormas Keislaman, namun tidak ada keputusan. Ada yang mengusulkan cukup mengembangkan Ormas yang sudah ada, seperti Sarekat Islam (SI). Namun usulan tersebut ditolak hingga akhirnya berkumpul di Bangkalan, tepatnya di kediaman Kiai Muntaha. Hanya saja tidak berani sowan ke Syaikhona Muhammad Kholil,” ungkap putra Ny Hj Zainiyah As’ad.
 

Kiai Azaim melanjutkan, musyawarah tersebut diketahui oleh Mbah Kholil. Hingga ia memerintahkan santrinya untuk menyampaikan isyarah kepada para kiai yang berkumpul di situ. Berangkat dari fenomena itu, muncul kata kunci sehingga para kiai semakin yakin untuk membangkitkan nilai-nilai kebangsaan dan kenegaraan dengan kekuatan agama.
 

“Cahaya Allah adalah agama. Cahaya pelita adalah pengetahuan, ilmu, moral dan sejenisnya. Maka warisan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah yang mengajarkan moderasi dalam beragama semakin jelas lewat isyarah lentera. Tanpa menafikan lentera lain, sumbu yang menyambungkan pohon adalah guru kita,” sergahnya.
 

Putra KH Dhofier Munawwar itu menegaskan, tradisi tahlilan sudah ada sejak dulu, bahkan dituangkan manuskrip yang dinisbatkan oleh Sunan Giri. Hanya saja manuskrip tersebut hilang atau diambil Belanda. Untuk mengembalikan peradaban ini, manuskrip itu harus dibawa ke negeri yang kelak akan mengembalikan peradaban ini.
 

 

“Ketika lentera ini terus dirawat, begitu ada sumbu yang gosong dan mati, kemudian diganti secara berkelanjutan, maka lentera itu terus memancarkan cahaya. Sumbu yang banyak dalam lentera menggambarkan kiai. Lentera terbesar adalah NU. Jika redup, butuh perawatan agar tidak bergantung pada duniawi dan materi. Ingat, jangan sampai keikhlasan hilang. Karena ikhlas kata kunci peradaban,” pungkasnya.​​​


Editor:

Madura Terbaru