• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Risalah Redaksi

Mengentaskan Taraf Hidup Tanpa Mencederai Nahdliyin

Mengentaskan Taraf Hidup Tanpa Mencederai Nahdliyin
Penanaman pohon sawit untuk rakyat pada harlah ke-99 NU di Sumatra Selatan. (Foto: NOJ/KJA)
Penanaman pohon sawit untuk rakyat pada harlah ke-99 NU di Sumatra Selatan. (Foto: NOJ/KJA)

Upaya Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat, termasuk di dalamnya adalah warga NU atau Nahdliyin terus dilakukan. Meski baru beberapa pekan dikukuhkan, yang dilakukan pengurus harian, khususnya duet Rais Aam, KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf demikian membanggakan. Perhatian pertama dilakukan dengan memberdayakan masyarakat nelayan yang ada di kawasan Nusa Tenggara Timur. Demikian pula untuk kawasan lainnya, terus dilakukan. 


Secara khusus, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menyampaikan pada acara halaqah temu petani sawit di GOR Dempo Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatra Selatan. Dalam kesempatan tersebut, Kiai Miftah menjelaskan pentingnya meningkatkan kesejahteraan ekonomi Nahdliyin. Pasalnya, kesejahteraan ekonomi dinilai belum semaksimal bidang pendidikan dan kesehatan. Dikemukakan Pengasuh Pondok Pesantren Miftahussunnah, Kota Surabaya tersebut bahwa sejumlah ikhtiar telah dilakukan. Namun dalam kenyataannya belum berhasil secara prima, dan hal tersebut sudah lama. 


Mantan Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini mengemukakan bahwa sudah saatnya memakmurkan bumi demi menyejahterakan umat. Bagaimana ekonomi keumatan segera bisa diselesaikan karena mayoritas umat Islam adalah Nahdliyin, dan ini kewajiban. Kiai Miftah kemudian menceritakan sejarah tongkat Nabi Musa AS yang dipergunakan untuk amar ma’ruf nahi munkar. Selain itu, juga untuk meratakan kesejahteraan dan keadilan di saat melaksanakan tugas untuk umat. Bahwa membuat kesejahteraan merata dan keadilan serta kejujuran maka tongkat itu berubah menjadi ular. Dan manakala sudah selesai melaksanakan tugas, maka ular itu pun kembali lagi menjadi tongkat.. 


Kiai Miftah mengemukakan PBNU pada masa khidmah ini dan Harlah ke-99 NU sebagai momentum ungkapan terima kasih kepada muassis atau para pendiri yang digunakan untuk meningkatkan taraf kehidupan sosial ekonomi bagi Nahdliyin. Dengan demikian, upaya untuk semakin meningkatkan taraf hidup hendaknya terus dilakukan. Bahkan tamsil yang dikemukakan juga demikian menarik bahwa jika besok kiamat sementara di tangan masih ada benih tanaman yang siap ditanam, maka sudah selayaknya segera ditanam. 


Pada kesempatan berbeda, KH Yahya Cholil Staquf mengungkapkan bahwa di masa awal kepengurusan baru PBNU, respons dari berbagai kalangan juga membanggakan. Hal tersebut disampaikan bahwa para duta besar negara sahabat berebut ingin berkunjung ke Kantor PBNU. Hal ini selaras dengan dimensi ke depan NU yakni keterlibatan dalam masalah internasional. Para duta besar tersebut lanjutnya, berebut dijadwalkan untuk melakukan pertemuan dan datang ke PBNU. Sampai saat ini, duta besar yang sudah datang ke PBNU di antaranya dari Saudi Arabia, Mesir, Iran, Uni Eropa, Prancis, Amerika, dan Jepang. Termasuk yang sedang melakukan komunikasi untuk datang ke PBNU, namun masih dalam tahap penjadwalan yakni dari Ukraina dan Rusia yang saat ini sedang dilanda masalah peperangan. 


Para duta besar yang telah datang ke PBNU ini terang Gus Yahya memberikan apresiasi positif kepada PBNU dan juga menyampaikan harapan besar. Hal ini lanjut Gus Yahya, menjadi bukti bahwa NU berperan strategis dalam percaturan dunia dan menjadi tanggung jawab keluarga besar NU untuk merawat bukti bahwa NU bisa diandalkan oleh seluruh umat manusia. Tren positif ini juga lanjutnya, harus tetap dipertahankan karena jika berbicara tentang peradaban, maka bisa dipastikan harus terlibat dalam dinamika internasional. Terkait dengan peradaban inilah yang juga menginspirasi PBNU untuk mengangkat tema besar rangkaian Harlah tahun 2022 yakni ‘Merawat Jagad, Membangun Peradaban’.


Jangan Sampai Mencederai Nahdliyin
Upaya yang dilakukan PBNU ini mendapatkan respons dari berbagai kalangan. Terutama terkait kerja sama kerja sama yang dilakukan dengan Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Bahwa kesepakatan itu sebagai inisiasi kerja sama ekosistem perkebunan sawit berkelanjutan menjadi wujud formulasi gagasan NU dengan pemerintah dan pengusaha swasta.


Akan tetapi tanggapan sekaligus koreksi dilakukan sejumlah kalangan. Termasuk dari Komite Nasional Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam. Lewat pegiatnya, Muhammad Al-Fayyadl dikemukakan bahwa mewakili suara generasi muda NU pecinta lingkungan hidup menyatakan penolakan atas kerja sama PBNU dengan korporasi sawit.


Gus Fayyadl dalam keterangannya menyampaikan bahwa inisiatif untuk berkongsi dengan pengusaha sawit, tidak peka terhadap rasa keadilan. Karena dalam pandangannya bahwa 80 persen lebih konflik agraria masih diderita rakyat di areal-areal perkebunan sawit yang dikuasai korporasi. Pada saat yang sama masih banyak lahan rakyat yang diserobot pengusaha sawit, terutama masyarakat adat yang kehilangan hunian dan hutan alaminya.


Alumnus Filsafat Kontemporer dan Kritik Kebudayaan di Université de Paris VIII (Vincennes-Saint-Denis) Prancis ini kembali menegaskan, program tersebut bertentangan dengan gerakan PBNU sendiri yang mengampanyekan pemulihan lahan gambut. Gerakan yang diinisiasi Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) beberapa tahun terakhir. Hal tersebut menurutnya dianggap bahwa PBNU tidak konsisten.


Dikemukakan bahwa kebakaran hutan hebat yang melanda Indonesia, beberapa tahun lalu adalah disebabkan industri sawit sebagai penyebabnya dan telah jatuh korban. Oleh karenan itu dirinya menyebutkan bahwa rakyat hendaknya tidak kembali menderita karena dampak lingkungan yang diciptakan industri sawit. Demikian pula nostalgia mengutip kejayaan Sriwijaya juga dianggap mengada-ada. Karena di era Sriwijaya tidak ada industri sawit. Jika PBNU berkomitmen pada kejayaan masyarakat Nusantara, NU harus memiliki program pemulihan hutan alami, penyelamatan masyarakat adat, mendorong penghijauan masif, dan menolak ekspansi hutan tanaman industri (HTI) karena benar-benar merongrong negeri.


Di kesempatan berbeda, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terdapat 74 kejadian konflik agraria di sektor perkebunan dengan luas 276.162,052 hektare. Jumlah korban yang terdampak mencapai 23.531 kepala keluarga. Dari jumlah itu, lebih dari 50 persen di antaranya konflik terjadi di sektor perkebunan sawit. Rinciannya, 59 kejadian di perkebunan sawit, kelapa empat kejadian dan karet tiga kejadian. Masing-masing satu kejadian terjadi di perkebunan tebu, bawang, atsiri dan sengon.


Semua tentu harus memiliki prasangka yang positif atau husnuddzan terhadap apa yang dilakukan PBNU ini. Ikhtiar yang dilakukan tentu saja dalam kapasitas untuk memberikan perhatian dan kepedulian dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dan sebagai jamiyah yang terbuka, tentu saja juga harus menerima saran dan kritik demi kebaikan khidmat agar yang dilakukan sesuai harapan. 

 

Apalagi Gus Yahya mengemukakan bahwa yang dilakukan adalah sebagai upaya peremajaan kelapa sawit. Hal tersebut berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian alam lantaran peradaban tidak akan bisa bertahan jika tidak bisa menjaga alam. Ditegaskan bahwa Kerajaan Sriwijaya yang besar selama 700 tahun harus kehilangan kejayaannya karena gagal mengelola alam yakni ketidakmampuan dalam merawat sungai Musi sehingga terjadi pendangkalan. Karenanya, akses Sriwijaya terhadap dunia luar menjadi terputus.


Hal inilah yang mendasari NU untuk terus menjaga jagat (alam). Bahwa semua pihak di Indonesia dan seluruh dunia tidak akan mampu bertahan jika tidak mampu merawat alam. Dan kerja sama yang dilakukan adalah wujud formulasi gagasan NU bersama dengan pemerintah, dan pengusaha-swasta untuk berupaya mengikhtiarkan kemakmuran sekaligus merawat alam.


Jangan sampai yang dilakukan NU dengan menggandeng beragam kalangan tetap memberikan jaminan tidak menabrak, apalagi mencederai warga di akar rumput. Mempertimbangkan hal ini tentu sangat mendesak agar niat baik yang memang akan diusung tidak melukai pihak lain, utamanya Nahdliyin. Bila kebaikan bersama yang dilakukan, dengan memperhatikan beragam pertimbangan sejumlah kalangan, pasti Nahdliyin akan memberikan dukungan lahir batin bagi khidmat kepengurusan ini.  


Risalah Redaksi Terbaru