• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 26 Juni 2022

Risalah Redaksi

Ancaman Hepatitis dan Pesan Menjaga Pola Hidup Sehat

Ancaman Hepatitis dan Pesan Menjaga Pola Hidup Sehat
Hepatitis Akut. (Foto: NOJ/kompas)
Hepatitis Akut. (Foto: NOJ/kompas)

Bangsa Indonesia dan beberapa penduduk dari beragam negara di dunia tengah merayakan terbebasnya dari ancaman virus Covid-19. Setidaknya dalam dua tahun terakhir, hampir tidak ada agenda kunjungan. Baik itu di dalam negeri, apalagi ke luar negeri. Semua diperintah untuk tetap berada di rumah masing-masing demi memastikan tidak menyebar dan tertular virus Corona.

 

Imbas dari hal tersebut, jangankan mobilitas warga dengan jangkauan jarak yang demikian jauh, yang dekat saja tidak diperkenankan. Termasuk kegiatan ibadah turut terkena pengaruh. Masjid dan rumah ibadah yang awalnya demikian terbuka menggelar ibadah, akhirnya tidak bisa leluasa. Bahkan di kawasan tertentu, ibadah yang menghadirkan jamaah demikian besar seperti shalat jamaah, shalat id dan lainnya tidak bisa digelar. Kalaupun tetap akan menyelenggarakan, maka harus menaati sejumlah aturan secara ketat.

 

Dengan beragam ikhtiar, dari mulai membatasi pergerakan warga, vaksinasi dan sejenisnya, akhirnya perlahan namun pasti kegiatan mulai berubah. Puncaknya adalah diperkenankannya tradisi mudik, halal bihalal dan pertemuan serupa selama Ramadhan dan hingga Syawal ini. Euforia demikian dirasakan masyarakat yang antara lain dibuktikan macetnya jalanan karena tidak mampu menampung volume kendaraan dan mobilitas masyarakat.

 

Temuan Penyakit Baru

Belum leluasa merasakan kurnia Tuhan berupa terbebas dari ancaman virus Corona, Kementerian Kesehatan RI melaporkan telah menemukan dugaan kasus Hepatitis Akut yang belum diketahui penyebabnya kepada 18 orang. Kasus tersebut berasal dari Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kepulauan Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur dan Kalimantan Timur. Paling banyak di DKI Jakarta dengan 12 kasus.

 

Dari 18 kasus tersebut, 9 kasus masuk status pending classification, tujuh discarded, satu dalam proses verifikasi dan satu probable. 7 kasus discarded terdiri dari 1 orang positif Hepatitis A, 1 orang positif Hepatitis B, 1 orang positif Tifoid, 2 orang demam berdarah dengue, 2 lainnya berusia lebih dari 16 tahun. Selain itu, dari hasil investigasi kontak tidak ditemukan adanya penularan langsung dari manusia ke manusia.

 

Dari temuan yang ada, dilaporkan bahwa 7 dari 18 pasien diduga Hepatitis Akut dinyatakan meninggal, namun saat ini masih belum dipastikan apakah meninggal karena penyakit Hipertensi Akut atau ada faktor lainnya. Kepastian tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Kesehatan sekaligus Direktur Utama RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, dr. Mohammad Syahril dalam keterangan pers di Jakarta beberapa waktu berselang.

 

dr. Syahril mengungkapkan pasien yang diduga Hepatitis Akut ini memiliki rentang usia 0-20 tahun. Paling banyak anak yang berusia 5-9 tahun ada 6 orang, usia 0-4 tahun ada 4 orang, usia 10-14 tahun ada 4 orang, dan usia diatas 15-20 tahun ada 4 orang.

 

Adapun gejala yang ditemukan pada pasien dugaan Hepatitis Akut yakni demam, mual, muntah, hilang nafsu makan, diare akut, lemah, nyeri bagian perut, nyeri pada otot dan sendi, kuning di mata dan kulit, gatal-gatal, dan urine seperti air teh. Meski gejala yang ditemukan mengarah pada Hepatitis Akut namun belum bisa dipastikan pasien menderita Hepatitis Akut, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut.

 

Sebagai tindak lanjut, Kementerian Kesehatan RI bersama pihak terkait terus melakukan upaya investigasi dengan melakukan analisis pathogen menggunakan Whole Genome Sequencing (WGS) maupun penyelidikan epidemiologi lebih lanjut untuk memastikan penyebab dari kejadian Hepatitis Akut ini.

 

Solusi Agama

Dalam suasana seperti ini, ada baiknya semua kalangan melakukan refleksi dan mengevaluasi terhadap apa yang telah dilakukan selama ini. Pada saat yang sama, pihak pemerintah hendaknya melakukan kajian secara komprehensif demi memastikan bahwa penyakit tidak tersebar luas dan sebisa mungkin tertangani dengan baik. Karena bila tidak segera dilakukan tindakan yang terukur, bukan tidak mungkin pengalaman serupa sebagaimana Covid-19 akan terulang kembali.

 

Dan umat Islam, termasuk tentu saja di dalamnya adalah warga Nahdlatul Ulama menjadi garda terdepan dalam upaya meredam penyebarluasan penyakit ini dan juga keluhan kesehatan lain. Dan tentu saja yang dapat dilakukan adalah dengan membuka kembali literatur terkait pola hidup sehat yang telah terangkum dalam pesan agama.

 

Karena seperti diketahui bahwa hal pertama yang dikaji dalam sejumlah kitab fiqih adalah masalah kesucian fisik. Bab thaharah atau bersuci menjadi kajian awal di sejumlah kitab tentu saja memberikan sejumlah pesan penting bahwa kesucian fisik sebagai persyaratan utama saat akan melakukan ibadah. Tanpa itu, besar kemungkinan ibadah akan tertolak dan tidak mengindahkan prosedur kebersihan dan kesucian yang didengungkan.

 

Dari kajian awal tersebut, muallif atau pengarang kitab memberikan pesan bahwa Islam adalah agama yang sangat relevan dengan kesehatan dan kebersihan, dengan demikian mengatur semua hal tentang bersuci secara sangat detail. Umat Islam mengenal adanya hadats, najis, dan taharah atau bersuci dengan aturan yang lengkap. Upaya-upaya tersebut, khususnya bersuci dari najis sangat penting dalam mencegah potensi penularan hepatitis yang sekarang kembali merebak.

 

Karena dalam sejumlah kajian, penyebab hepatitis misterius diduga berasal dari adenovirus yang banyak terdapat pada kotoran manusia serta SARS CoV-2 yang menyebabkan Covid-19. Sumber kotoran pada tubuh manusia biasanya berasal dari sisa-sisa proses metabolisme yang dibuang melalui anus, kulit, maupun saluran kemih. Pembuangan yang normal dan wajar akan sangat penting bagi kesehatan. Ketidaknormalan pembuangan sampah tubuh yang berlebihan, tersumbat, atau mencemari lingkungan dapat melahirkan ketidaknyamanan dan menimbulkan penyakit. Hal-hal tersebut terjadi karena kotoran manusia mengandung bakteri maupun mikroba lainnya seperti virus yang berbahaya untuk kesehatan bila mengontaminasi manusia lainnya.

 

Sebagai contoh dari hasil pembuangan tubuh alami adalah air kencing, keringat, muntahan, tinja, lendir dahak, maupun pembuangan dari saluran rahim seperti darah haid dan cairan lainnya. Kecuali keringat dan lendir dahak, sampah-sampah yang disebutkan tersebut termasuk najis dan harus disucikan. Selain pengeluarannya harus normal, penanganan sampah-sampah alami dari tubuh tadi juga harus sesuai dengan kaidah kesehatan dan agama agar tercapai kesehatan serta kesucian. Apabila penyucian najis diabaikan, maka akan mengganggu keabsahan ibadah, merusak suasana pergaulan sosial, mencemari lingkungan, menimbulkan  bau dan penyakit yang merugikan kesehatan.

 

Sekali lagi, sejumlah upaya demi memastikan manusia memperhatikan masalah ini  tentu sangat mendesak diganungkan kembali. Pola hidup suci sebagaimana diingatkan para pengarang kitab klasik tentu saja masih demikian relevan untuk diterapkan dalam suasana yang masih kurang kondusif ini.

 

Hepatitis yang sekarang mulai menjangkit dan menimbulkan korban jiwa adalah sebagian alarm dari alam bahwa menjaga kesucian diri dan kebersihan lingkungan adalah hal tidak terhindarkan dalam perjalanan hidup dari masa ke masa. Karena alam memiliki hukumnya sendiri saat sejumlah hal ternyata dilanggar, apalagi secara kolektif. Dan Islam telah memberikan solusi agar manusia bisa hidup secara layak yang tentu saja ditunjukkan dengan menaati aturan yang ada.


Risalah Redaksi Terbaru