• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 18 Agustus 2022

Madura

Kader IPPNU Sumenep Diharap Jadi Kartini Milenial

Kader IPPNU Sumenep Diharap Jadi Kartini Milenial
Wakil Ketua PCNU Sumenep, KH Yusuf Efendi ajar kader IPPNU jadi Kartini milenial. (Foto: NOJ/ Firdausi)
Wakil Ketua PCNU Sumenep, KH Yusuf Efendi ajar kader IPPNU jadi Kartini milenial. (Foto: NOJ/ Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, KH Yusuf Efendi mengajak agar kader Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Sumenep dapat meneladani Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat atau RA Kartini sebagai sosok perempuan panutan.

 

Penegasan tersebut disampaikan saat sambutan dalam pembukaan Konferensi Cabang (Konfercab) ke-XXI IPPNU Sumenep. Kegiatan tersebut dipusatkan di Pondok Pesantren Nurul Islam Karang Cempaka Bluto, Sumenep, Sabtu (29/01/2022).

 

Ia menyebutkan, selama ini RA Kartini salah satunya dikenal sebagai penulis buku ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’. Namun sejatinya, ia juga merupakan santrinya KH Sholeh Darat dan belajar tafsir di sana. 

 

“Di usia 13 tahun, ia meminta kepada gurunya menafsirkan materinya pada bahasa Jawa. Akhirnya sang guru bersedia dan diterbitkan di percetakan Singapura. Karena pada saat itu Indonesia belum memiliki percetakan,” ujarnya. 

 

Ia mengajak kader IPPNU dapat meneladani pemikiran dan gerakannya. Yang paling penting adalah keraguan pada NU harus dienyahkan. Menurutnya, jika bukan peran dari pelajar NU, maka jangan salahkan para pelajar dan generasi muda bila nati tidak tertarik pada NU.

 

“Mari self correction, apa kita tidak menarik? Mari kita berikan nilai plus pada generasi muda, sehingga tanpa diajak mereka sudah tertarik sendiri dan istiqamah mengikuti ragam kegiatan organisasi,” sergahnya.

 

Selain itu, ia juga mengajak pada pengurus untuk bekerja sama secara lintas agama dengan syarat ada hal yang penting dan genting, sehingga gerakan IPPNU semakin terasa oleh khalayak luas.

 

“Semangat gerakan Islamiyah, wathaniyah dan basyariyah dicontohkan oleh muassis saat melawan keputusan raja Arab Saudi. Di mana kala itu, KH Abd Wahab Chasbullah meminta kepada raja untuk memberikan kebebasan kepada seluruh umat Islam, agar umat Islam se-Dunia melaksanakan ibadah haji sesuai dengan mazhabnya masing-masing. Dan permintaah itu dipenuhi,” curahnya.

 

Kiai Yusuf juga merefleksikan ulang momen Hari Santri merupakan bagian dari peran besar santri terhadap NKRI. Bagaimana perjuangan kalangan santri ketika melawan sekutu pada masa itu. Hanya saja kisah heroik tersebut ada yang tidak tercatat dan sebagian yang dihilangkan dari sejarah.

 

“Sebelum peristiwa berdarah tersebut terjadi, Bung Tomo sowan ke Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari hingga keluarlah fatwa Resolusi Jihad. Bayangkan, dalam sejarah dunia, angkatan laut Inggris belum pernah kalah. Hanya arek-arek Suroboyo lah bisa mengalahkannya. Di luar nalar, cukup pakai bambu runcing, senjata modern kalah pada senjata tradisional,” katanya.

 

Diceritakan pula, banyak pesawat tempurnya hilang, jendralnya mati di tangan santri. Sampai saat ini Inggris kagum pada santri. Bahkan penelitiannya tak mampu menembus dinding ghaib. 

 

“Ini semestinya dikaji, diteliti oleh pelajar NU. Sehingga peran pelajar di masa kini bisa mengambil hikmah,” tandasnya.


Madura Terbaru