• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 2 Oktober 2022

Madura

Makna Sabar Menurut Kiai Al-Faiz Sa'di

Makna Sabar Menurut Kiai Al-Faiz Sa'di
Kiai Al-Faiz beri tausiyah. (Foto: NOJ/Firdausi)
Kiai Al-Faiz beri tausiyah. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim 

KH Muhammad Al-Faiz Sa'di menceritakan pernyataan almaghfurlah KH M Amir Ilyas bahwa ibadah yang paling berat adalah sabar. Kisah ini disampaikan pada acara Haul Masyaikh Annuqayah dan Pelantikan Pengurus Ranting Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) se-Kecamatan Pragaan, Kamis (18/08/2022) di Pondok Pesantren An-Nusyur Aeng Panas, Pragaan, Sumenep.

 

"Sabar mencakup dua dimensi besar, yaitu sabar terhadap hal yang berada di wilayah kita dan sabar terhadap hal yang berada di luar wilayah usaha kita. Perintah dan larangan Allah masuk kategori sabar yang ada di dalam diri seseorang. Sedangkan bencana alam adalah sabar yang ada di luar wilayah kita. Ini semua membutuhkan kesabaran," terangnya mengawali tausiyah.

 

Menurut Al-Imam Al-Qusyairi, sabar itu menelan rasa pahit tapi raut wajahnya tidak cemberut. 

 

"Ibarat seseorang minum jamu, walaupun pahit dipaksakan, tapi wajahnya tetap mengkerut. Itu tandanya orang sabar tidak. Orang sabar seperti penikmat kopi, semakin pahit diseduh semakin tersenyum," ujarnya sembari melempar senyuman.

 

Dirinya menegaskan, teori kesabaran dipraktikkan oleh masayikh Annuqayah dalam kehidupan sehari-hari. Ia meyakini di masa lalu banyak masalah yang dihadapi masayikh. Namun perbedaan yang naik turun itu tidak menyurutkan kebersamaan untuk terus merawat pesantren. 

 

"Pesantren, santri, alumni tidak dijadikan sebagai korban," sergahnya.

 

Dewan masayikh Pondok Pesantren Jalaluddin Rumi Jenggawah, Jember itu menjelaskan, bagi umat Nabi Muhammad SAW, Rasulullah seperti orang tua bagi anaknya. Sama halnya dengan alumni yang di dalamnya ada hak yang berlaku bagi anak dan orang tua.

 

"Di antara hak masayikh yang harus dipenuhi oleh santri adalah tidak membicarakan apa yang beliau lakukan. Biarkan bapak ibu kita yang menyelesaikan masalahnya. Jangan sampai kita ada di tengah-tengahnya. Ini berlaku bagi anak biologis dan ideologis," ungkapnya.

 

Kiai Faiz mengingatkan, di atas sabar ada ridha atau meninggalkan kehendak diri dan memasrahkan diri serta tunduk pada kehendak guru. Prinsip yang dijunjung masayikh ialah memasrahkan diri dan mengembalikan segala sesuatu kepada Allah sehingga permasalahan terasa ringan dan menemukan jalan keluarnya.

 

"Engkau akan hidup tentram bahagia jika menerima segala apa yang Allah takdirkan. Dan engkau tidak akan mendapatkan kebahagiaan jika selalu menolak apa yang Allah tetapkan bagi hidupmu," pungkas dengan syairnya.


Madura Terbaru