• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 6 Oktober 2022

Tapal Kuda

Halal Bihalal di Unej, Prof Harisudin Ceritakan Kesabaran Abu Bakar

Halal Bihalal di Unej, Prof Harisudin Ceritakan Kesabaran Abu Bakar
Prof Harisudin saat mengisi halal bihalal di Fakultas Hukum Unej. (Foto: NOJ/ISt)
Prof Harisudin saat mengisi halal bihalal di Fakultas Hukum Unej. (Foto: NOJ/ISt)

Jember, NU Online Jatim
Semua orang bisa melakukan kesalahan, termasuk ulama. Seperti ulama besar Ibnu Daqiqil Id yang lahir pada 25 Sya’ban 625 H. Hal itu disampaikan Profesor M Noor Harisudin di hadapan ratusan dosen dan tenaga kependidikan pada acara halal bihalal Fakultas Hukum Universitas Jember (Unej) Senin (09/05/2022).


“Jadi jangan dikatakan kalau sudah ulama tidak pernah atau tidak boleh salah,” jelas Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam Jember tersebut.


Guru Besar Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) itu menyampaikan bahwa kesalahan yang dilakukan ulama adalah kodrat sebagai manusia. Namun, atas kesalahan itu menjadikannya introspeksi diri dan beritikad baik untuk bertobat.


“Islam adalah agama yang realistis, tidak mengharuskan semua umatnya seperti kertas putih tanpa noda. Oleh karenanya, semua orang memiliki noda hitam baik banyak atau sedikit. Atas dasar itu, maka Allah SWT membuka jalur pintu tobat,” jelas Ketua Komisi Pengkajian, Pelatihan dan Penelitian MUI Jawa Timur ini. 


Untuk memperkuat konsep manusia bisa salah dan khilaf ini, maka Islam mengajarkan untuk bisa memaafkan. Juga mengajarkan umatnya untuk memaafkan atas perilaku orang-orang yang meminta maaf. 


“Kita harus belajar kepada Abu Bakar dalam memaafkan, kendati difitnah oleh saudaranya yang miskin, Misthah bin Utsatsah yang dinafkahinya,” ungkap Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara ini.


Pada kisah Abu Bakar tersebut, kesabaran dan rasa rendah hati dalam memaafkan kerabatnya. Karena yang bersangkutan turut memprovokasi masyarakat bahwa Siti Aisyah berzina dengan seorang sahabat Nabi, Shofwan Muattal. 


“Kesabaran dalam memaafkan inilah yang patut dijadikan teladan bagi umat manusia, terlebih umat Muslim pada era ini,” kata Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember itu.


Sementara, bagi yang berbuat aniaya, ia harus minta dihalalkan atas perbuatan aniayanya agar tidak menjadi orang bangkrut di akhirat. Orang baik bukan orang yang tidak pernah berbuat salah. Namun, dikatakan baik jika seorang yang berbuat salah dan menyadari kesalahannya, mengoreksi dan tidak melakukan lagi. 


“Lebih hebat lagi jika melakukan kesalahan kecil seketika bertobat dan meminta maaf,” tegasnya.


Selain itu, Bayu Dwi Anggono selaku Dekan Fakultas Hukum Unej mengatakan bahwa, halal bihalal adalah tradisi lokal masyarakat Indonesia. Hal itu berawal dari kegelisahan Presiden Soekarno pada tahun 1948 dimana kondisi elit politik sedang konflik dan tidak bertegur sapa.


“Soekarno meminta solusi kepada tokoh NU yaitu KH Abd Wahab Chasbullah hingga tercetuslah halal bihalal dan manfaat terasa hingga hari ini,” ungkapnya.


Hari raya Idul Fitri adalah momentum untuk saling introspeksi diri terhadap kesalahan yang dibuat baik kepada Allah SWT atau kepada sesama umat manusia. 


“Tradisi halal bihalal penting untuk selalu digelorakan sebagai warisan positif budaya bangsa,” pungkasnya.

 

Penulis: Nury Khoiril Jamil dan Wildan Rofikil Anwar
 


Tapal Kuda Terbaru