• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 28 Februari 2024

Madura

Pegiat Media, Perhatikan 3 Karakter Penting ala Yūsya' bin Nūn

Pegiat Media, Perhatikan 3 Karakter Penting ala Yūsya' bin Nūn
KH M Zainur Rahman Hammam Ali, Wakil Rais PCNU Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)
KH M Zainur Rahman Hammam Ali, Wakil Rais PCNU Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

KH M Zainur Rahman Hammam Ali, Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, menyatakan bahwa literasi dan jurnalisme sudah ada sejak lama. Di awal berdiri, NU sendiri punya media bernama Suara Nahdlatul Ulama. Para pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH A Wahid Hasyim, dan lainnya turut berperan pada mati-hidupnya media tersebut.


"NU memiliki anak masa depan, tetapi tetap bergantung pada masa lalu. Kader NU boleh berinovasi, tetapi jangan tinggalkan masa lalu," kata Kiai Zainur kepada NU Online Jatim, Jumat (25/02/2022).


Kenyataan itu menjadi dasar bagi pengelola media, terutama pegiat media NU, untuk melaksanakan kegiatan jurnalistik.


"Pengelola media NU dan pesantren diperkenankan menyampaikan akhbar kepada khalayak, namun penyampaiannya harus ala Ahlussunnah wal Jamaah dan salafunas shalih. Sehingga yang disampaikan lewat media cetak ataupun online bermanfaat di dunia dan akhirat," ujarnya.


Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muqri Karang Kapoh, Prenduan, itu mengutarakan, bahwa karya tulis akan abadi. Walaupun pengarang atau penulisnya tutup usia, umur menua, tetapi tulisannya tetap bertahan di media.


"Awak media, terutama yang berbasis pesantren atau ormas keagamaan seperti NU, dalam menyampaikan berita atau informasi, seharusnya mengikat diri pada tiga karakter santri yang ditunjukkan oleh Sayyidinā Yūsya' bin Nūn, santri yang juga keponakan Nabi Mūsā 'alaihi-s Salām," ungkap anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur itu.


Pertama, lanjut dia, yattabi'uhū, yakni mengikuti jalan salafinā-sh shālihīn. Dalam praktik jurnalistik, sebelum menyampaikan kabar atau informasi, lebih dulu mempertimbangkan manfaat-mudharat, halal-haram, dan lain sebagainya.


Kedua, yakhdimuhū, yakni berorientasi pada khidmah dan pengabdian, bukan pada keuntungan finansial. Ketiga, wa ya'khudzu minhu al-'ilma, yaitu bertanggung jawab secara ilmiah dengan referensi dari referensi dan atau narasumber otoritatif (mu'tabar), valid dan terpercaya.


"Awak media boleh menulis apa saja, tetapi harus berpegang pada ulama salafunas shalih. Jika menulis hoaks, menyampaikan hoaks, haram. Dengan demikian, perpegang lah pada tiga karakter tersebut yang harus menjadi bagian dari kode etik di kalangan NU dan pesantren," pungkas Kiai Zainur.


Madura Terbaru