• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 4 Oktober 2022

Madura

Pelajar NU di Sumenep Diingatkan Tantangan Era Digital

Pelajar NU di Sumenep Diingatkan Tantangan Era Digital
Kiai Zamzami Sabiq Hamid saat memberikan pengarahan kepada pengurus PK IPNU-IPPNU Nasyrul Ulum. (Foto: NOJ/ Firdausi).
Kiai Zamzami Sabiq Hamid saat memberikan pengarahan kepada pengurus PK IPNU-IPPNU Nasyrul Ulum. (Foto: NOJ/ Firdausi).

Sumenep, NU Online Jatim

Sebelum masuk abad ke-1, sejak dulu NU terbiasa difitnah oleh sejumlah oknum. Mulai sejak masa Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari yang dituding pro-Jepang, KH Abd Wahab Chasbullah dikatakan pendukung Partai Komunis Indonesia (PKI), KH Abdurrahman Wahid difitnah pro-Yahudi, KH Said Aqil Siroj diklaim Syi’ah, hingga KH Yahya Cholil Staquf dibilang Yahudi pula.

 

Pernyataan ini disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nasyrul Ulum Aengdake, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Kiai Zamzami Sabiq Hamid di acara Pelantikan Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Nasyrul Ulum serta Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) pada Rabu (05/01/2022) di aula setempat.

 

“Pelajar NU harus siap dengan lonjakan fitnah yang bertubi-tubi ini. Lewat Badan Otonom, kalian akan dikuatkan ideologinya atau fikrah ke-NU-an,” ujarnya saat menyampaikan sambutan.

 

Tak sampai di situ, IPNU-IPPNU adalah Banom pertama yang harus ditempuh oleh pelajar NU. Jika para santri aktif, maka akan menjadi kader yang paham pada gerakan NU dan bisa melanjutkan ke Ansor atau pun di lembaga sebagai departementasi NU.

 

“Bisa jadi 4 tahun lagi, kalian yang akan melantik adik-adiknya di sini. Sebagaimana kami katakan tahun lalu bahwa Nasyrul Ulum berkomitmen agar regenerasi terus ada, sehingga kalian memiliki penerus,” ungkapnya.

 

Sekretaris Rabithah Ma’ahid Al-Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Sumenep itu menegaskan, tantangan NU sangat berat. Jika dulu santri menuntut ilmu atau mengaji kepada kiai, kenyataannya di era 5.0 pelajar lebih suka mengaji secara online.

 

“Tradisi sowan ke kiai dengan membawa kitab, saat ini pelajar menjadikan gadgetnya sebagai rujukan. Pergeseran tradisi ini sangat terasa, hanya saja tidak disadari oleh sebagian santri,” ungkapnya.

 

Dijelaskan pula, untuk merusak bangsa, butuh tiga hal. Pertama, merusak anak-anak dan pelajar. Nyatanya banyak pelajar yang kecanduan pada game online, bahkan ada yang terjerumus pada Narkoba. Penyakit tersebut akan membunuh kader NU. 

 

“Sudah ada pelajar yang tidak percaya lagi pada kiainya, naudzubillah. Jadikan IPNU-IPPNU sebagai tontonan yang mengenakkan agar rasa malas kalian hilang,” pintanya.

 

Kedua, merusak ibu-ibu melalui internet. Seperti kasus ibu-ibu yang bermain tik-tok di masjid. Dengan demikian, ia memberikan hipotesa bahwa yang sering mempengaruhi kaum wanita adalah shoping, chatting, dan watching. 

 

“Kalau belanja jelas kebutuhan perempaun. Tetapi chatting di WhatsApp, Facebook, Instagram dan platform lainnya adalah alat komunikasi di dunia maya. Sayangnya dijadikan ajang membuka aib dan sejenisnya. Sedangkan watching, sebagian ibu-ibu sudah hobi menonton YouTube sehingga lupa mendidik anaknya. Gadget terkadang membuat ibu-ibu malas untuk pergi ke pengajian,” keluh Kiai Zamzami.

 

Yang ketiga, menghancurkan kepercayaan kepada pemimpinnya. Menurut pandangan Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Cabang Sumenep tersebut, memfitnah berdampak pada kurangnya kepercayaan warga kepada pemimpinnya. 

 

“Kami tak bermaksud membanding-bandingkan warga Indonesia dengan Amerika. Kalau Amerika membela pemimpinnya, bahkan memiliki semboyan, yaitu Amerika benar atau salah adalah negaraku. Berbeda dengan warganet Indonesia yang mudah percaya kepada berita-berita hoaks,” tuturnya.

  

Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk itu mengimbau pada para anggota IPPNU agar mengetes calon suaminya dengan membaca qunut atau pun memimpin tahlil.

 

“Jika tidak tahu, perlu dipertanyakan ke-NU-annya,” tandasnya.


Editor:

Madura Terbaru