• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Juli 2022

Malang Raya

Muktamar NU, Rais Aam PBNU Ingatkan Pentingnya 4G bagi Nahdliyin

Muktamar NU, Rais Aam PBNU Ingatkan Pentingnya 4G bagi Nahdliyin
Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar. (Foto: NOJ)
Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar. (Foto: NOJ)

Malang, NU Online Jatim

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar menyampaikan, bahwa di era revolusi industri 4.0 sudah saatnya NU mengimbanginya dengan 4G, yaitu Grand Idea, Grand Desain, Grand Strategi, dan Grand Kontrol. 


“Tentunya yang sesuai dengan ajaran khas dan konsep besar NU,” ujar Kiai Miftach kala menyampaikan khutbah iftitah di pembukaan Muktamar ke-34 NU di Pondok Pesantren Darussa’adah, Lampung, Rabu (22/12/2021).


Pertama, yakni Grand Idea (ide), yang memiliki arti visi misi Nahdlatul Ulama sebagai instrumen untuk menyatukan langkah ke depan, baik secara struktural maupun kultural. 


Kedua, Grand Desain, yang memiliki arti munculnya program-program unggulan yang terukur. Ketiga, Grand Strategi, yang bisa dilakukan dengan mengintensifkan penyebaran inovasi yang terencana, terarah, dan dikelola dengan baik, serta distribusi kader-kader terbaik Nahdlatul Ulama ke ruang-ruang publik.


“Keempat, Grand Kontrol, yakni sistem dan gerakan NU yang harus bisa melahirkan garis komando secara organisasi, mulai dari PBNU sampai tingkat Pengurus Anakn Ranting (PAR),” kata Kiai Miftach. 


Dirinya menambahkan, bahwa ketika 4G tersebut bisa diimplementasikan dengan baik, maka akan berdampak baik bagi jamiyah Nahdlatul Ulama.


“Nantinya NU akan menjadi organisasi keagamaan dan sosial  yang bergerak secara sistemik, proaktif, dan responsive,” imbuhnya.


Di samping itu, Kiai Miftach juga menyampaikan bahwa NU adalah jamiyah diniyah-ijtimaiyah. Yaitu organisasi para kiai kampung dan desa yang memiliki potensi kekuatan dan kehebatan yang mendunia, sebagaimana Islam itu agama bagi dunia.


“Oleh karenanya, karakter-karakter mendunia harus digali dan diperkokoh. Tentunya sifat membebek atau latah harus segera dihilangkan. Kader NU harus mampu menunjukkan kepribadian dan semangat menuju kebaikan,” ungkapnya.


Pengasuh Pondok Pesantren Miftachussunnah Surabaya itu menyayangkan, bahwa kekuatan besar Nahdlatul Ulama belum sepenuhnya menjadikan warga NU yang berjamiyah atau berorganisasi. Karenanya, diperlukan gerakan satu komando bagi warga NU.
 


“Kekuatan Nahdlatul Ulama sebenarnya sangat luar biasa. Tetapi selama ini warga Nahdlatul Ulama yang masih banyak yang memosisikan diri sebagai jamaah, belum berjamiyah. Inilah yang perlu kita jamiyahkan. Jangan sampai warga NU tercerai-berai hanya untuk kepentingan sesaat,” pungkasnya.


Malang Raya Terbaru