• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 27 Juni 2022

Malang Raya

Telah Terbit, Buku Ulama Falak 'Biografi KH Moh Murtadlo Amin'

Telah Terbit, Buku Ulama Falak 'Biografi KH Moh Murtadlo Amin'
Sampul buku Ulama Falak. (Foto: NOJ/ Madchan Jazuli).
Sampul buku Ulama Falak. (Foto: NOJ/ Madchan Jazuli).

Malang, NU Online Jatim

Ulama satu ini piawai dalam pemahaman ilmu falak. Ilmu yang mempelajari lintasan benda-benda langit seperti bulan, matahari, dan bintang untuk menentukan waktu-waktu di permukaan bumi. Dialah KH Moh Murtadlo Amin.

 

Kiai Murtadlo lahir di Lamongan 8 Mei 1966 dan tutup usia pada hari Kamis 13 Agustus 2020 pukul 13.05 WIB di sebuah rumah sakit di Kepanjen Malang setelah sempat dirawat selama satu malam. Kiai Murtadlo wafat pada usia 54 tahun dengan meninggalkan seorang istri dan dua orang putra.

 

Selain menjadi Direktur Pesantren Ainul Yakin Universitas Islam Malang (Unisma), beliau juga salah satu pengasuh PP Sabilurrosyad Gasek bersama KH Marzuki Mustamar, dan KH Ahmad Warsito.

 

Tidak banyak yang tahu, masa kecil Kiai Murtadlo ternyata penuh dengan warna. Mulai dari kepolosannya, kegemarannya bermain layang-layang, hingga tragedi yang hampir merenggut nyawanya. 

 

Bukan hanya itu, tanda-tanda bahwa beliau kelak akan menjadi orang yang diperhitungkan, rupanya telah ada sejak masa kandungan. Bahkan, sebelum janinnya ada. Beliau juga hampir tidak pernah bercerita tentang kemuliaan nasab dan kejadian-kejadian di luar nalar pada masa kecil. 

 

Sehingga para santri, cukup ngelus (mengusap, red) dada ketika tahu begitu istimewanya Kiai Murtadlo, namun saat jasadnya telah tiada. 'Kok nggak biyen-biyen ngerti' (Kok tidak dulu-dulu mengerti) kira-kira itulah ungkapan yang dapat mewakili.

 

Kiranya sebagai santri juga perlu belajar bagaimana masa muda beliau dihabiskan. Mulai dari remaja hingga lulus kuliah. Tidak terhitung rentetan prestasi yang menyertai. Bisa dibilang, beliau adalah paket komplit dari sosok kiai. Sampai ada yang mengatakan, “Kiai Murtadlo itu manusia tanpa cacat. Dari muda kalau mengenang beliau itu yang diingat hanya tentang kebaikan”.

 

Perjuangan menuntut ilmu dan mengamalkannya juga luar biasa. Kata-kata motivasi yang sering beliau sampaikan dalam suatu kesempatan. “Seorang santri harus berjuang sekuat tenaga demi mendapat ridla dan menaati segala perintah kiai. Jangan sampai sedikitpun menyakiti hati dan mengecewakan guru (kiai)”.

 

Ternyata bukan hanya isapan jempol belaka. Betul-betul beliau praktikkan, hingga setelah purna (secara dhohir) menjadi santri, Kiai Murtadlo tetap dikenang oleh guru-gurunya. 

 

Perjalanan memperjuangkan cinta tak kalah istimewa. Jatuh berkali-kali rupanya tidak hanya milik santri, kiai pun mengalaminya. 

 

Tentu cinta yang dimaksud bukan urusan nafsu atau birahi. Lebih dari itu, beliau menyadari bahwa setelah perilhal ilmu cukup, tidak ada perhiasan terindah kecuali istri salihah. Upaya memelihara keharmonisan dalam mengarungi bahtera rumah tangga sayang untuk dilewatkan.

 

Penuturan-penuturan istri tercinta patut diabadikan agar dapat menjadi teladan bagi kita semua. Begitu pula cara beliau mendidik, melalui rekam memori putra-putrinya kita dapat belajar bagaimana menjadi sosok ayah yang baik.

 

Tentang perjuangannya, sahabat-sahabat dekat almarhum juga tidak mau ketinggalan. Saat dihubungi, mereka begitu antusias menceritakan sosoknya, kenangan-kenangan bersamanya, dan teladan-teladan yang diajarkannya. 

 

Menceritakan beliau merupakan kebahagiaan tersendiri, mempunyai kenangan dengan beliau seperti anugerah yang layak untuk disyukuri. Ada sebuah kebanggaan di dalamnya. Masing-masing punya kenangan yang khas nan membekas.

 

Buku Ulama Falak (Biografi KH Moh Murtadlo Amin) ini disusun oleh 18 santri Pondok Pesantren Sabilurrosyad dengan melibatkan 70 narasumber dari berbagai daerah. Namun, konsentrasi penelitiannya ada di empat tempat, yakni Lamongan, Gading, Gasek, dan Unisma. 

 

Kata demi kata disusun dengan sangat hati-hati dalam kurun waktu 7 bulan 29 hari untuk meminimalisir kesalahan penulisan. Naskah juga telah ditashih berulang kali sebelum benar-benar dirilis, baik dari keluarga Lamongan, Unisma, dan lainnya, khususnya keluarga ndalem dalam hal ini, Ibu Nyai Hj Hidayatul Hikmah.

 

Tak ketinggalan, saat-saat terakhir sebelum beliau dikebumikan juga telah kami rekam. Melalui para narasumber kunci yang langsung bersentuhan dengan almarhum, cerita-cerita itu kami bagikan agar dapat menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa “Setiap orang akan memperoleh apa yang ia niati”.

 

Kesaksian beberapa tokoh terkait kenangan atau kesan terhadap KH Murtadlo Amin diantaranya disampaikan KH Ahmad Arif Yahya, Pengasuh Ponpes Miftahul Huda, Gading, Kota Malang.

 

“Kiai Murtadlo niku sae mulai belajar (nyantri), kuliah, ngantos nikah, dados kiai, beliau niku tiyang sae riyen kulo nggih tumut ten nikahane. (Kiai Murtadlo itu orang baik, mulai dari belajar, nyantri, kuliah, hingga menikah menjadi seorang kiai beliau itu orang baik. Saya juga ikut dipernikahannya)," kata KH Ahmad Arif Yahya.

 

Sementara, KH Muhammad Baidlowi Muslich, Ketua Umum MUI Kota Malang dan Pengasuh Ponpes Anwarul Huda Karangbesuki menuturkan kealiman yang beliau miliki sungguh mumpuni.

 

“Bidang khusus yang beliau miliki yaitu ilmu falak. Beliau juga menulis buku dalam bidang ilmu falak praktis, dan juga mengajar ilmu hisab dan lain lain," terang KH Baidhowi Muslich.

 

Senada, Rektor Unisma, Maskuri memberikan kesaksian bahwa beliau ulama yang multibisa, ditengah pergolakan zaman santun menyejukkan.

 

 

“K.H, Murtadlo Amin adalah sosok ilmuwan yang kiat, pemikirannya cemerlang, solutif atas berbagai problem, sosok yang tenang tapi pasti. Beliau mudah bergaul dan populis, bicaranya santun dan murah senyum, sehingga mudah akrab dengan siapapun. Komitmen beliau di mana saja tampak sekali tidak mau bermasalah dengan teman atau orang di sekitarnya, hidup moderat, toleran dan harmoni," ungkap Maskuri. 

 

Penulis: Tim Abdi Literasi PP Sabilurrosyad, Gasek

Editor: Romza


Editor:

Malang Raya Terbaru