• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 28 Juni 2022

Metropolis

Alissa Wahid Ingatkan Tiga Teladan Penting dari Para Kiai

Alissa Wahid Ingatkan Tiga Teladan Penting dari Para Kiai
Alissa Wahid saat acara Seminar Nasional dalam rangka satu tahun wafatnya KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), Sabtu (06/02/2021). (Foto: NOJ/ Indra Nurdien Hakim).
Alissa Wahid saat acara Seminar Nasional dalam rangka satu tahun wafatnya KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), Sabtu (06/02/2021). (Foto: NOJ/ Indra Nurdien Hakim).

Surabaya, NU Online Jatim

Alissa Qotrunnada Munawaroh atau yang lebih dikenal dengan nama Alissa Wahid mengingatkan tiga teladan yang telah dicontohkan para kiai pendahulu. Ketiganya yaitu karakter, pemikiran, dan pergerakan.

 

Hal ini disampaikan Alissa dalam acara Seminar Nasional memperingati satu tahun wafatnya KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) secara virtual, Sabtu (06/02/2021). Dalam kegiatan ini dihadiri KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Profesor Haidar Nashir Ketum PP Muhammadiyah, dan KH Cholil Navis.

 

Dalam kesempatan itu, Alissa menjelaskan tentang teladan dari para kiai khususnya dhurriyah KH Hasyim Asy’ari. Menurutnya, tentang karakter itu adalah watak yang perlu diteladani dari para kiai diantaranya kejujuran, ikhlas, tanggung jawab, tasamuh. Kepeloporan, kepemimpinan, kesederhanaan, keteguhan hati, sikap kesatria, penghargaan terhadap perbedaan.

 

"Contohnya karakter itu, teladan seperti apa yang di terapkan kiai kepada masyarakat umum baik kaum nahdliyin maupun yang lainnya itu tadi," paparnya.

 

Adapun tentang pemikiran, Alissa menyampaikan bahwa pemikiran itu berkaitan dengan manajemen diri. Dimana para kiai memberi teladan melalui kiprahnya dalam mengelola perbedaan. Terutama dalam konteks perbedaan madzabiyah atau organisasi dalam Islam.

 

Kemudian kemandirian masyarakat yang utuh, praktik beragama yang moderat dan tidak ekstrim melalui Qanun Asasi NU. “Hadratussyaikh adalah penghulu resmi pertama. Penghormatan terhadap manusia secara utuh sehingga hadratussyaikh memberikan ruang sedemikian besar kepada perempuan untuk berkiprah,” ungkapnya.

 

 

Sementara tentang pergerakan, Alissa melanjutkan, kiai memeluk atau merangkul semua kalangan. "Oleh karena itu, kiai tidak hanya diakui oleh masyarakat Indonesia khususnya ulama. Tetapi juga diakui oleh seluruh negara-negara Islam di dunia Islam rahmatan lil alamin," pungkasnya.

 

Penulis: Indra Nurdien Hakim

Editor: Romza


Editor:

Metropolis Terbaru