• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Juli 2022

Metropolis

Soal Persatuan Dukun Nusantara, Ini Sikap NU Jatim

Soal Persatuan Dukun Nusantara, Ini Sikap NU Jatim
Ketua PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar. (Foto: NOJ/Ist)
Ketua PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar. (Foto: NOJ/Ist)

Surabaya, NU Online Jatim

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar tidak memberikan komentar terkait Persatuan Dukun Nusantara atau Perdunu di Banyuwangi. Hal tersebut karena belum mengetahui pasti gerakan yang dilakukan.
 

"Perdunu, kami gak bisa komentar karena kami tidak tahu mereka kayak apa. Masyarakat yang awam tetap manut (nurut) kepada ulama. Yang ulama bimbing umat berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah," katanya, Sabtu (06/02/2021).

 

Namun demikian, Pengasuh Pesantren Sabilurrosyad Kota Malang ini menjelaskan terkait istilah dukun di masyarakat. Bahwa ada yang menabrak syara dan ada yang tidak. Kata dukun mengalami perkembangan pengertian. Dicontohkanya orang yang pandai memijat juga disebut dukun.

 

"Di masyarakat itu yang pinter mijeti (memijat) bayi ya diarani (dijuluki) dukun, yang bantu ngelahirin bayi juga diarani dukun, mbah kiai yang alim pinter ngobati dengan berdoa kepada Allah juga diarani mbah dukun,” kata Kiai Marzuki.

 

Demikian juga ada yang gemar menebak nasib orang, sekian tahun lagi kiamat. “Yang tukang nyilakani wong (mencelakai orang), nyantet yo diarani dukun," jelasnya.

 

Namun, dirinya mengajak warta jangan memercayai orang (dukun) yang suka menebak-nebak suatu peristiwa.

 

"Kemudian yang mbedek-mbedek (menebak-nebak) hari kiamat hari segini, sok kemeruh (sok tahu) yang dibilang dukun. Itu yang kita gak boleh percaya," imbuhnya.

 

Jika percaya dan mengiyakan omongan dukun yang dimaksud, maka dipastikan syirik dan kafir.

 

"Kata Nabi, siapa yang sowan (mengunjungi) kepada orang yang seperti itu, lalu mempercayai omongannya dan dia yakin, maka kemudian dia menjadi syirik, menjadi kafir. Kemudian dia yang nyantet dan semacamnya jelas itu diharamkan dalam Islam," tambahnya.

 

Untuk itu, Kiai Marzuki kembali menegaskan agar masyarakat yang awam tetap manut atau nurut kepada ulama.

 

"Sebaliknya kalau yang dukun nyantet, teluh, sihir, mbedek-mbedek (menebak-nebak), kemeruh (sok tahu) ya mohon masyarakat gak usah percaya seperti itu," pungkasnya.


Editor:

Metropolis Terbaru