• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 26 September 2022

Metropolis

Empat Komponen Bernegara menurut KH Mutawakkil Alallah

Empat Komponen Bernegara menurut KH Mutawakkil Alallah
KH Mutawakkil Alallah. (Foto: NOJ/bs)
KH Mutawakkil Alallah. (Foto: NOJ/bs)

Surabaya, NU Online Jatim
Negara di berbagai dunia khususnya Indonesia memiliki karateristik yang berbeda. Dengan unsur-unsur yang berbeda Indonesia membutuhkan beberapa pondasi untuk hidup bermasyarakat dan bernegara. Karena manusia memiliki sifat-sifat yang harus diselaraskan oleh beberapa ajaran ilmu pengetahuan dan agama.

 

Pada acara istighatsah dan doa bersama dengan tema 'Memohon Keselamatan Bangsa dari Covid-19 dan Bencana', KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah mengatakan, jika dalam hidup bernegara ada empat dasar. Dasar yang pertama adalah pengetahuan dari cendekiawan dan agamawan. Kedua tersebut syarat mutlak guna memperbaiki kehidupan sekarang dan yang akan datang.

 

“Komponen pertama, adalah ilmil ulama. Ilmunya para ulama pasti dibutuhkan dalam pembangunan sebuah negara dan pasti membutuhkan ilmu pengetahuan. Di sinilah peran para ulama dan ilmuan,” katanya di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur, Kamis (11/02/2021).

 

Mantan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur itu menambahkan, ketika berpijak pada ilmu pengetahuan dan ulama akan tercipta negara yang sejahtera, tentram. Sebagaimana doa-doa yang dipanjatkan oleh orang Islam.

 

“Maka pembangunan, itu akan menciptakan kesejahteraan serta ketentraman lahir dan batin, sebagaimana yang selalu kita panjatkan dalam doa sapu jagat. Maka peran para ulama dan ilmuan ini sangat penting dan sentral, juga bertanggung jawab kemana pembangunan ini diarahkan,” tambahnya.

 

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur periode 2020-2025 menuturkan, untuk dasar yang kedua adalah adil dan cepat tanggap. Jawa Timur akan makmur apabila pemimpin-pemimpinnya memiliki kebiasaan adil. Baik dalam membuat kebijakan atau melaksanakan kebijakan.

 

“Yang kedua adalah, kita butuh mereka yang adil dan cakap. Di sini ada Ibu Gubenur, Khofifah Indar Prawansa sebagai pemegang otoritas politik yang membuat dan melaksanakan kebijakan, mengurus urusan masyarakat baik dengan peraturan maupun anggaran,” tuturnya.

 

Kiai Mutawakkil mengungkapkan, untuk dasar yang ketiga adalah kebiasaan orang yang dermawan atau murah hati kepada sesama. Selain itu, juga saling tolong menolong kepada orang yang tidak mampu, khususnya ketika dalam keadaan keterbatasan ekonomi.

 

“Yang ketiga yaitu, kedermawanan orang-orang kaya, konglomerat dan pedagang juga asosiasi pengusaha serta saudagar,” ungkapnya.

 

Pengasuh dan Ketua Yayasan Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo tersebut menutup dasar keempat dengan berdoa meminta pertolongan kepada Allah, baik ketika dalam keadaan berkecukupan atau kekurangan. Lebih-lebih doa-doa orang yang sedang membutuhkan pertolongan.

 

“Pilar yang keempat yaitu kita perlu doa-doanya orang fakir. Apabila kita menghormati mereka, maka doa dan harapan mereka mengalir serta diijabah oleh Allah,” pungkasnya.

 

 

Editor: Risma Savhira


Metropolis Terbaru