• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 21 Mei 2022

Metropolis

Gaya Hidup Minimalis ala Ning Nur Miftah Muthoharoh

Gaya Hidup Minimalis ala Ning Nur Miftah Muthoharoh
Pengasuh Asrama Darul Qur’an Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah Mojogeneng, Jatirejo, Mojokerto Ning Nur Miftah Muthoharoh. (Foto: NOJ/Boy Ardiansyah)
Pengasuh Asrama Darul Qur’an Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah Mojogeneng, Jatirejo, Mojokerto Ning Nur Miftah Muthoharoh. (Foto: NOJ/Boy Ardiansyah)

Sidoarjo, NU Online Jatim
Pengasuh Asrama Darul Qur’an Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah Mojogeneng, Jatirejo, Mojokerto Ning Nur Miftah Muthoharoh membagikan pengalaman hidupnya. Salah satu yang menarik adalah dengan memiliki barang minimalis di kediamannya.
 

Hal itu disampaikan saat mengisi talk series episode 4 Pondok Pesantren  Al-Rifaie, Ahad (23/01/2022) dengan tema ‘Slow Living: Being a Minimalist in Pesantren Environment’. Acara disiarkan melalui Instagram ikatan alumni Al-Rifa’ie.
 

“Jadi aku ingin membagikan tips bagaimana caranya membuang barang yang sudah tidak digunakan,” katanya.
 

Ning Haroh sapaan akrabnya membagi barang menjadi tiga jenis. Pertama fungsional, yang keberadaannya memang dibutuhkan. Kedua dekoratis, yaitu barang yang misalnya tidak dimiliki juga tidak berpengaruh yang bernilai keindahan. Dan ketiga adalah barang emosional, seperti tiket nonton film dengan suami pertama kali.
 

“Memang di zaman modern ini orang dinilai dengan barang apa yang dimiliki. Semakin banyak barang yang dipunyai, akan dinilai sebagai wanita yang kekinian daripada yang memiliki barang sedikit. Padahal orang tidak dinilai dari seberapa banyak barang yang dimiliki,” katanya.
 

Prinsip minimalis bagi Ning Haroh adalah sedikit barang, maka akan sedikit mengalami setres. Oleh karena itu lepaskan keterikatan kepada barang yang sekiranya tidak terlalu penting. “Seperti halnya saat kita akan mengikuti kemah pada acara pramuka. Maka akan membawa barang-barang seperlunya saja. Seperti panci kecil, sabun, dan alat-alat yang benar-benar dibutuhkan,” terangnya.
 

Menurut alumni Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta tersebut, orang kaya adalah yang merasa cukup dengan yang dimiliki. Dengan konsep ini maka kebahagiaan tidak lagi diukur dengan barang. Dan untuk memulai hidup minimalis, maka langkah pertama adalah dengan hidup dermawan.
 

“Aku lebih suka memberikan barang-barang yang sudah tidak terpakai daripada dijual. Kebetulan di sini ada santriwati ya sudah saya berikan untuk santri. Jadi biar dipakai mbak-mbak santri,’ ungkapnya.
 

Di akhir penjelasan, Ning Haroh menyarankan jika ingin hidup minimalis jangan ditunda. Mulai dari sekarang dengan hal-hal kecil. “Seperti langsung mencuci piring setelah makan, tidak menunggu menumpuk terlebih dahulu,” pungkasnya.  


Editor:

Metropolis Terbaru