• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 8 Agustus 2022

Metropolis

HAN 2021, Yenny Wahid Ajak Orang Tua Bimbing Anak Gunakan Gadget

HAN 2021, Yenny Wahid Ajak Orang Tua Bimbing Anak Gunakan Gadget
Yenny Wahid. (Foto: NOJ/Istimewa).
Yenny Wahid. (Foto: NOJ/Istimewa).

Surabaya, NU Online Jatim

Tidak hanya bagi orang-orang usia dewasa, anak-anak juga menjadi korban terdampak Covid-19. Dalam suasana pandemi, ruang gerak anak menjadi lebih terbatas. Tidak jarang anak merasa bosan terkungkung ketika di rumah saja.

 

Dalam kondisi demikian, orang tua kadang mencari jalan pintas untuk mengatasi kebosanan anak dengan membolehkan mereka bermain gadget sesukanya. Padahal pemakaian gadget yang berlebihan punya dampak negatif bagi anak.

 

“Misalnya stress, adiksi, depresi, cognitive development disorder, perkembangan otak yang tidak sehat, bahkan obesitas. Karena anak kurang gerak ketika bermain gadget,” ujar Yenny Wahid di Facebook-nya dengan nama yang sama, Jum’at (23/07/2021).

 

Yenny menambahkan, temuan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan, bahwa tidak sedikit anak yang harus dilakukan perawatan medis akibat kecanduan gadget. Hal ini dibuktikan dengan bahwa selama masa pandemi RSJ Cisarua, merawat 19 anak yang kecanduan gadget. Delapan di antaranya pasien baru pada tahun 2021.

 

“Maka, tidak heran jika kemudian World Health Organization (WHO) mencatat bahwa kecanduan gadget termasuk dalam sebelas penyakit yang harus diwaspadai,” tutur perempuan dengan nama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh ini.

 

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk membuat aturan dalam penggunaan gadget bagi anak. Sehingga anak tetap bisa menggunakan alat bantu teknologi, namun juga tidak sampai kecanduan, agar proses tumbuh kembangnya bisa lebih optimal.

 

“Dalam rangka Hari Anak Nasional 2021, saya ingin mengajak semua orangtua untuk membimbing anak-anaknya dalam pemakaian gadget tersebut,” ajak Yenny.

 

Lalu bagaimana tipsnya? Yenny menyebutkan, bahwa hendaknya orang tua dengan anak membangun kesepakatan tentang penggunaan gadget. “Semisal yang saya lakukan ialah anak diberi dua kali sesi atau kesempatan dalam sehari menggunakan gadget, masing-masing sesi diberi waktu maksimal 30 menit. Jika sudah sampai waktunya berhenti, maka tidak boleh tidak harus berhenti bermain gadget,” tuturnya.

 

Namun, tentu hal ini tidak nyaman bagi anak. Maka dari itu, hendaknya anak diberi hadiah waktu tambahan bermain gadget saat melakukan hal-hal positif. Misal, mereka baru saja selesai membaca satu buku, maka mereka berhak mendapatkan bonus satu kali sesi bermain gadget. Atau, misal mereka berhasil menghafalkan satu surat dalam Al-Qur’an, maka mereka juga berhak mendapatkan hadiah serupa.

 

“Jadi, gadget ini bisa menjadi sebuah reward atau hadiah atas perilaku positif yang dilakukan oleh anak,” imbuh putri kedua KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini.

 

Namun demikian, jika anak melakukan perilaku negatif, maka ia bisa kehilangan hak satu sesi untuk bermain gadget. “Dengan ini menunjukkan, bahwa sejak awal gadget digunakan sebagai kontrol bagi perilaku anak,” ujarnya.

 

Bagaimana Jika Terlanjur Kecanduan Gadget?

Menurut Yenny, jika anak sudah terlanjur kecanduan, maka yang bisa dilakukan orang tua adalah pengurangan waktu bermain gadget secara bertahap. Dari semula sehari bermain gadget 8 jam, maka esoknya bisa dikurangi jadi 6 jam waktu anak bermain gadget.

 

“Untuk ini, orang tua harus bersikap tegas kepada anak dan memberi hadiah jika anak patuh,” ungkap Magister Administrasi Publik di Harvard University tersebut.

 

Selain itu, orang tua juga harus menunjukkan tauladan atau menjadi contoh bagi anak. Semisal dengan membuat kesepakatan bersama, bahwa dalam suatu momen tertentu interaksi orang tua dengan anak harus tanpa gadget.

 

 

Bahkan, orang tua juga tidak hanya melarang anak bermain gadget, akan tetapi juga memberikan alternatif kegiatan pada anak. Orang tua harus turut aktif terlibat dalam menciptakan kegiatan-kegiatan bersama atau kegiatan yang bisa dilakukan oleh anak yang sifatnya non-gadget.

 

“Hal tersebut penting karena seorang anak punya hak untuk bermain. Tentunya, diberi dengan permainan yang positif,” pungkasnya.


Metropolis Terbaru