• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 13 Agustus 2022

Metropolis

Katib PCINU Jerman Ungkap Pentingnya Digitalisasi NU

Katib PCINU Jerman Ungkap Pentingnya Digitalisasi NU
Katib PCINU Jerman, Hendro Wicaksono saat menyampaikan paparan pentingnya digitalisasi NU. (Foto: NOJ/ Mukhzamilah)
Katib PCINU Jerman, Hendro Wicaksono saat menyampaikan paparan pentingnya digitalisasi NU. (Foto: NOJ/ Mukhzamilah)

Sidoarjo, NU Online Jatim

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) se-Dunia turut menyemarakkan Muktamar ke-34 NU dengan menggelar Webinar Pra-Muktamar, Sabtu (11/12/2021). Webinar tersebut mengusung tema ‘Seratus Tahun Nahdlatul Ulama: Transformasi Digital di Lingkungan NU dan Pesantren,  Perlukah?’

 

Adapun pemateri dalam webinar tersebut meliputi, Katib PCINU Jerman Hendro Wicaksono, llmuan IT Pusat Riset Kanker Jerman Wahyu Wijaya Hadiwikarta, dan Ketua Pengurus Pusat (PP) Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) KH Abdul Ghaffar Rozin.

 

Hendro Wicaksono menyampaikan paparan seputar urgensi digitalisasi Nahdlatul Ulama. Menurutnya, dibutuhkan pemetaan potensi Nahdliyin agar digitaliasi NU berjalan optimal. 

 

“Platform aplikasi berbasis super app yang dimiliki oleh NU sebaiknya tidak hanya berfokus pada keagamaan saja,  tapi juga berfokus pada seluruh kebutuhan Nahdliyin," ungkapnya.

 

Ilmuwan Industrial Engineering di Jacobs University Bremen itu juga menyampaikan, bahwa ada sejumlah dampak positif transformasi digital. Di antaranya kemudahan akses informasi, proses belajar yang semakin fleksibel dan makin terjangkaunya biaya komunikasi dan silaturahim. 

 

"Namun demikian, digitalisasi juga berdampak pada sifat manusia yang cenderung menjadi penonton pasif, suka mencampuri urusan pribadi orang lain, dan keinginan untuk ditonton," imbuhnya. 

 

Dirinya menyebutkan, bahwa era saat ini menghadapi peradaban yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap teknologi layar (screen civilazation). Beberapa hal negatif yang menyertainya antara lain adanya persimpangan informasi dan peradaban. 

 

“Serta semakin jauhnya hubungan manusia dan agama yang disebabkan banyaknya akses informasi dalam pencarian makna,” katanya. 

 

Untuk itu, pihaknya menyarankan bahwa cara terbaik untuk menghindari potensi negatif digitalisasi adalah melalui pemahaman komprehensif dan mencari kebenaran lebih dari satu sumber.

 

 

“Agar mendapatkan pemahaman komprehensif, hendaknya kebenaran dihasilkan dari lebih satu sumber,” tandasnya.

 

Editor: A Habiburrahman


Metropolis Terbaru