• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 5 Juli 2022

Metropolis

Ketua RA Gresik Ungkap Cara Luwes Ulama Pantura Berdakwah

Ketua RA Gresik Ungkap Cara Luwes Ulama Pantura Berdakwah
Ketua Rijalul Ansor Gresik Gus Atta saat acara haul di Pesantren Bungah. (Foto: NOJ/SH)
Ketua Rijalul Ansor Gresik Gus Atta saat acara haul di Pesantren Bungah. (Foto: NOJ/SH)

Gresik, NU Online Jatim 

Ketua MDS Rijalul Ansor Gresik Agus H Muhammad Atta Syifa Nugraha atau Gus Atta mengatakan bahwa ulama dahulu, khususnya di Pulau Jawa, memiliki ciri khas syiar dakwah yang cenderung mengedepankan 'Lakon Kemenungsan' atau perilaku kemanusiaan.

 

Hal itu disampaikan Gus Atta saat berbicara dalam Haul ke-81 KH Zainal Abidin dan ke-41 Kiai As’ad di Pesantren Zainal Abidin Desa/Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Sabtu (21/08/2021) malam. Dua ulama itu adalah pendiri pesantren tersebut.

 

Perilaku kemanusiaan, kata Gus Atta, ditunjukkan oleh para ulama dengan bersikap baik kepada masyarakat sekitar, tidak peduli siapa pun dan tidak memandang derajat. Sehingga masyarakat memandang para ulama adalah orang baik yang peduli terhadap kondisi sekitarnya.

 

"Ulama-ulama atau brahmana yang diperlihatkan di dunia adalah kebaikan manusia (sikap perilaku), ada orang sakit dijenguk, ada orang kelaparan dibantu. Sehingga dikenal sebagai orang yang baik, karena telah menanam budi kepada masyarakat. Akhirnya dikenal dengan orang yang tanam kebaikan, orang baik kepada sesama manusia," urai Gus Atta.

 

Cara syiar dakwah ulama dahulu juga cenderung menyederhanakan istilah-istilah maupun bahasa yang lebih mudah dipahami masyarakat. Tidak hanya syiar dakwah,, para ulama dahulu pun biasa berinteraksi dengan masyarakat melalui aktivitas sehari-hari, seperti bercocok tanam atau bertani, berdagang dan seterusnya.

 

"Ulama dulu lebih cenderung menyederhanakan bahasa yang bisa dipahami masyarakat Jawa, seperti shalat disebut sembahyang, puasa disebut poso. Kemudian para ulama dahulu juga menguasai ilmu seputar aktivitas mata pencaharian masyarakat sekitar,” tandas Gus Atta.

 

Oleh karena itu, Gus Atta mengajak para santri-santri untuk senantiasa berperilaku baik kepada siapa pun, terlebih terhadap sesama. "Karena yang dilihat adalah kebaikan kita, bukan yang lain, untuk itu mari kita semua berperilaku baik kepada manusia tidak peduli siapapun orangnya," ajaknya.

 

Editor: Nur Faishal


Metropolis Terbaru