• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 10 Agustus 2022

Metropolis

Pesantren Mahika Sidoarjo, Perpaduan Pondok Tebuireng dan Rejoso Jombang

Pesantren Mahika Sidoarjo, Perpaduan Pondok Tebuireng dan Rejoso Jombang
Sejumlah wali dan santri memasuki pintu gerbang Pesantren Mahika Sidoarjo saat sarasehan. (Foto: NOJ/Yuli R)
Sejumlah wali dan santri memasuki pintu gerbang Pesantren Mahika Sidoarjo saat sarasehan. (Foto: NOJ/Yuli R)

Sidoarjo, NU Online Jatim
Setiap pesantren memiliki sejarah panjang yang kadang penuh liku dalam merintis, hingga mengembangkan potensi yang ada. Generasi saat ini mungkin menyaksikan perkembangan yang demikian membanggakan dari sebuah pesantren. 

 

Keberhasilan dalam pengembangan Pondok Pesantren Manbaul Hikam (Mahika) patut dijadikan contoh pesantren lain. Pesantren yang berlokasi di Jalan Putat Utara 09/02 Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo ini didirikan oleh almaghfurlah KH M Khozin Mansur.

 

Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan terpercaya di Sidoarjo dan masih mempertahankan sistem pembelajaran majelis taklim yang merupakan cikal bakal Mahika, yakni kajian kitab kuning sebagai ciri khas pesantren salaf.

 

“Pesantren ini didirikan oleh almaghfurlah KH M Khozin Mansur bersama Nyai Hj Machniyah Musthofa,” kata KH Salim Imron, Sabtu (25/7). 

 

Ketua Yayasan sekaligus Pengasuh Mahika tersebut menjelaskan bahwa Kiai Khozin asalnya dari Peterongan Jombang dan merupakan santri dari KH M Hasyim Asy’ari Tebuireng. 

 

“Juga tercatat pernah nyantri ke KH Romli Thamim di Pesantren Darul Ulum, Rejoso Peterongan, Jombang,” kata KH Salim Imron pada acara sarasehan wali santri baru.

 

Dijelaskannya bahwa ilmu Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari sebagian sudah diserap oleh Kiai M Khozin Mansur. Kemudian pindah di Pesantren Rejoso sampai diangkat menjadi dewan guru. Setelah menikah dengan Nyai Hj Machniyah, tinggal di Putat, Tanggulangin, Sidoarjo. 

 

“Pesantren ini adalah hasil gabungan dari ilmu dan harta,” ungkapnya.

 

Ilmu yang diberikan Allah kepada KH Khozin dibawa dari Jombang ke Putat Tanggulangin. Mertuanya yakni Kiai Musthofa merupakan tuan tanah dengan kepemilikan tanah, sawah, dan tambak. Lebih lanjut diceritakan, dari gabungan ilmu Kiai Khozin dengan kekayaan Nyai Hj Machniyah, atas izin Allah kemudian didirikanlah Mahika.

 

“Awalnya Kiai Khozin mendirikan majelis taklim Darul Ulum pada 1977,” jelasnya.  Sebelumnya Kiai Musthofa telah menyediakan sekolah sederhana, dan 1978 mendirikan Thariqah Al-Qadiriyah wan-Naqsabandiyah, lanjutnya.

 

Selanjutnya majelis taklim Darul Ulum pada  1980 diubah namanya menjadi Madrasah Manbaul Hikam, lalu di tahun 1984 berdirilah Madrasah Diniyah Manbaul Hikam. Sampai sekarang madrasah diniyah menjadi ruhnya Mahika, ini khusus mencetak santri yang berkaitan dengan pendidikan agama Islam ala Ahlussunah wal Jamaah. 

 

“Kurikulumnya bersumber dari Pesantren Tebuireng dan Pesantren Rejoso,” ungkap kiai yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sidoarjo ini.

 

Tidak berhenti sampai di situ, perluasan terus dilakukan. Pada 1990 didirikan Tahfidzil Qur’an, Madrasah Tsanawiyah (1999), Madrasah Aliyah (2011), dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (2006). Atas usul wali santri dan masyarakat, pada 2020 didirikan Raudlatul Athfal dan rencananya akan dibuka Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada 2021.

 

“Sudah banyak alumni pesantren yang diterima di ITS, Unair, Unibraw, UI, sampai UIN di seluruh pulau Jawa,” ujarnya.

 

Kiai Salim Imron mengemukakan bahwa lulusan pesantren yang memiliki motto beriman, berilmu, bermoral, dan berkarya ini sudah bisa diterima semua pihak dan lembaga pendidikan. 

 

Pesantren sudah berbadan hukum dan diakui oleh Kementerian Agama (Kemenag). Keberadaan Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah juga telah diakui Kemenag. “Hari ini santri yang mondok di Pesantren Mahika sudah 1250 orang, dan saya diberikan amanat sebagai nakhodanya ,” ucapnya.

 

Sudah banyak prestasi membanggakan yang diraih baik di tingkat propinsi maupun nasional. Di antaranya juara tingkat nasional Musabaqah Khatthil Qur’an (MKQ).

 

“Alhamdulillah pesantren sering menjuarai lomba olahraga dan berbagai macam lomba tingkat kecamatan, kabupaten, propinsi, dan nasional. Itu semua karena pembinaan dan akan terus berlanjut,” tandasnya. 


Editor:

Metropolis Terbaru