• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 23 Mei 2022

Metropolis

Sebulan 21 Orang Meninggal karena DBD di Jatim, LKNU Perlu Turun

Sebulan 21 Orang Meninggal karena DBD di Jatim, LKNU Perlu Turun
Ilustrasi nyamuk penyebab DBD. (Foto: KlikDokter)
Ilustrasi nyamuk penyebab DBD. (Foto: KlikDokter)

Surabaya, NU Online Jatim

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) kian meningkat. Tak sampai satu bulan, 1 sampai 27 Januari 2022, sebanyak 1.220 orang di Jatim terjangkit DBD. Dari jumlah itu, 21 orang di antaranya meninggal dunia dengan usia rata-rata 5-14 tahun. Perlu kekompakan pemerintah dan masyarakat, termasuk Nahdlatul Ulama melalui Lembaga Kesehatan NU (LKNU), untuk melakukan pencegahan.

 

Mengacu pada data Dinas Kesehatan Jatim, jumlah  penderita DBD tertinggi di Jatim per 1-27 Januari 2022 ialah Kabupaten Bojonegoro 112 orang; Kabupaten Nganjuk 82 orang, Kabupaten Malang 73 orang; Kabupaten Ponorogo 64 orang, dan Kabupaten Tuban 61 orang. Adapun jumlah kematian DBD tertinggi yakni Kabupaten Pamekasan tiga orang; dan Kabupaten Bojonegoro serta Nganjuk masing-masing dua orang.

 

Angka ini meningkat bila dibandingkan tahun 2021 pada bulan Januari 2021 di mana penderita DBD di Jatim tercatat sebanyak 668 orang dengan jumlah kematian lima orang. Total penderita DBD tahun 2021 di Jatim sebanyak 6.417 orang, dengan total jumlah kematian sebanyak 71 orang.

 

“Untuk itu saya  meminta masyarakat jangan panik tapi terus tingkatkan kewaspadaan terhadap ancaman DBD ini. Bahwa selain Covid-19, kita juga harus berbagi perhatian dan kewaspadaan dengan DBD. Jadi ketika mengalami demam misalnya, selain Covid-19, kita harus mulai mempertimbangkan kemungkinan gejala DBD,” Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dalam keterangan tertulis diterima pada Jumat (28/01/2022).

 

Khofifah mengatakan, pencegahan kasus DBD ini bisa dilakukan melalui gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3 M Plus. Kegiatan Kegiatan 3M ini meliputi pertama, menguras (membersihkan) bak mandi, vas bunga, tempat minum binatang peliharaan, atau tatakan dispenser.

 

Kedua, menutup rapat Tempat Penampungan Air (TPA). Bagi TPA yg tidak mungkin dikuras atau ditutup, bisa berikan larvasida. Ketiga, menyingkirkan atau mendaur ulang barang bekas seperti botol plastik, kaleng bekas, dan lainnya.

 

Menurut Khofifah, 3M Plus ini ditambah dengan upaya memberantas larva melalui pemberian Larvasida, memelihara ikan pemakan jentik, memasang ovitrap /larvitrap/ mosquitotrap. Serta, menghindari gigitan nyamuk dengan menanam pohon pengusir nyamuk, memakai kelambu, repelent/anti nyamuk dan lain- lain.

 

“Kegiatan 3 M Plus ini minimal dilakukan satu minggu sekali melalui kegiatan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik. Jadi kami minta peran serta dan pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan setiap keluarga untuk pemeriksaan, pemantauan, pemberantasan jentik nyamuk untuk pengendalian penyakit tular vektor khususnya DBD,” kata orang nomor satu di Jatim.

 

Khofifah menegaskan, pencegahan dan penanganan masalah DBD ini harus dilakukan mulai hulu sampai hilir. Serta diperlukan kerjasama dan sinergi seluruh pihak baik masyarakat, pemerintah, sampai dengan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan. Nah, sinergi inilah yang perlu turut diambil oleh NU melalui LKNU-nya di seluruh tingkatan, mulai dari PWNU hingga PCNU.


Metropolis Terbaru