• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 28 September 2022

Metropolis

Temu Relawan, LPBINU Jatim Kuatkan Rasa Kemanusiaan dan Spiritual

Temu Relawan, LPBINU Jatim Kuatkan Rasa Kemanusiaan dan Spiritual
Kegiatan temu relawan yang diadakan PW LPBINU Jatim di Obis Camp, Desa Jatijejer, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. (Foto: NOJ/ Istimewa).
Kegiatan temu relawan yang diadakan PW LPBINU Jatim di Obis Camp, Desa Jatijejer, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. (Foto: NOJ/ Istimewa).

Mojokerto, NU Online Jatim

Pengurus Wilayah Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Jawa Timur terus menguatkan kemampuan relawannya. Kali ini LPBINU Jatim mengadakan temu relawan di Obis Camp, Desa Jatijejer, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

 

Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari sejak Jumat (27/11/2020) hingga Ahad (29/11/2020). Selain diberi materi pengetahuan tentang kebencanaan, penggulangan bencana, kerelawanan, peserta juga mendapat peningkatan kapasitas spiritual.

 

KH A Rifai saat menyampaikan materi tentang "Peningkatan Kapasitas Spiritual Relawan" memberikan arahan dan nasehat kepada seluruh peserta. Dalam sesi ini, ia menuturkan bahwa negara yang sukses berasal dari pemuda-pemudi yang berilmu dan bertaqwa. "Apabila pemuda berilmu dan bertaqwa maka sebuah negara akan menjadi negara yang sukses," tuturnya.

 

Ia juga mengingatkan, supaya aksi-aksi kemanusiaan dalam penanganan bencana membawa berkah, relawan LPBINU juga harus banyak mengaji. "LPBINU ingin barokah, ngaji," imbuhnya.

 

Menurutnya, keberadaan relawan NU dalam setiap aksi kemanusiaan merupakan hal yang krusial. Sebab selain menjaga atas nama kemanusiaan juga pada kesempatan yang sama mereka juga menjaga aqidah dan keimanan korban.

 

“Sehingga kehadiran NU langsung dirasakan oleh masyarakat yang terkena bencana saat itu. Ini sebagai nilai ibadah relawan sekalian ketika sudah menghibahkan tenaga untuk masyarakat melalui LPBINU,” ungkap Kiai Rifai.

 

Sementara itu, Direktur Utama TV9 Nusantara, Abdul Hakim saat memberikan materi Jurnalistik menegaskan bahwa pola penanggulangan bencana sudah harus diawali dari antisipasi awal, bukan sekedar tanggap darurat. Bahkan, pengetahuan terkait pelaporan, assessment dan komunikasi juga harus dipahami relawan.

 

“Pola komunikasi sekarang bergeser dari cara door to door menjadi one to many dan sekarang sudah harus many to many comunication,” ungkapnya.

 

Dalam pandangannya, pola komunikasi baru ini sangat bergantung pada keahlian komunikasi digital melalui sosial media ataupun media mainstream. Cara ini membutuhkan operasi khusus dari tim siber LPBINU di setiap cabang.

 

“Setiap gerakan harus terlaporkan dan terdata dengan baik. Sebab dapat jadi dasar konkret dalam penentuan dan mitigasi bencana serupa yang kemungkinan akan terjadi lagi,” beber Hakim. 

 

 

Dalam kegiatan ini, Pangarso Suryotomo, Subdit Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan, setiap bencana sangat mungkin akan berulang kejadiannya. Sehingga jika terdata dengan baik pola penanggulangannya, maka akan mudah mengantisipasi.

 

“Kita bergerak dan membesarkan jiwa relawan dalam kemanusiaan melalui LPBINU. Jadi bukan hanya membesarkan LPBINU semata dalam bergerak,” ujarnya.


Editor:

Metropolis Terbaru