• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 26 Juni 2022

Metropolis

Tiga Tantangan NU Menuju An-Nahdlah Ats-Tsaniyah

Tiga Tantangan NU Menuju An-Nahdlah Ats-Tsaniyah
Ilustrasi lambang Nahdlatul Ulama. (Foto: NOJ)
Ilustrasi lambang Nahdlatul Ulama. (Foto: NOJ)

Surabaya, NU Online Jatim

Peneliti Alvara Research Center, Hasanuddin Ali menyampaikan, Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Lampung, pada 23-25 Desember 2021 mendatang merupakan momentum sangat krusial. Ada tiga tantangan yang harus dihadapi oleh NU menyongsong usia Satu Abad NU atau An-Nahdlah Ats-Tsaniyah di tahun 2026.

 

“Denyutnya bisa disamakan dengan Muktamar NU di Situbondo pada 1984 yang menghasilkan keputusan menerima Pancasila sebagai asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Hasan dilansir NU Online, Selasa (26/10).

 

Pertama, manajemen organisasi yang efektif. Nahdlatul Ulama sebagai organisasi kemasyarakatan terbesar dituntut agar bisa menggerakan anggotanya. Menurutnya, relasi jamiyah dan jamaah yang kadang tidak sejalan harus ditemukan solusinya.

 

Kedua, NU sebagai organisasi yang berorientasi pada pelayanan umat perlu dilakukan semaksimal mungkin. Ia menjelaskan, bahwa setiap program yang dicanangkan NU hendaknya selaras dengan kebutuhan masyarakat di akar rumput.

 

“Salah satunya, layanan keagamaan dan sosial kemasyarakatan NU harus dirasakan secara nyata oleh masyarakat luas,” terang Ketua Litbang Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor itu.  

 

Ketiga, penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) Nahdliyin. Yakni, kompetensi Nahdliyin saat ini tidak hanya berkutat pada hal-hal berbau agama, akan tetapi semakin beragam sesuai kapasitas masing-masing.

 

“Mereka harus lebih banyak diberi ruang untuk beraktualisasi dalam menyumbangkan ide dan gagasannya," tegas Hasan.

 

Menurut Hasan, kebutuhan Nahdliyin ke depan tidak lagi melulu soal agama tetapi juga mengenai ekonomi, teknologi, dan berbagai kebutuhan dasar lainnya. Karena itu, lanjutnya, sumbangsih dari para diaspora Nahdliyin dari berbagai disiplin ilmu di berbagai belahan dunia sangat dibutuhkan.   

 

"Apapun hasil Muktamar nanti seharusnya (NU) mampu menjawab tiga tantangan tersebut. Apalagi sebentar lagi, tahun 2026, NU akan berusia 100 tahun dan akan memasuki abad kedua," katanya.   

 

Dari tantangan tersebut, NU membutuhkan nakhoda yang memiliki visi, gagasan besar, dan pandangan jauh ke depan. Ia pun membayangkan, NU di abad kedua nanti layaknya zaman Gus Dur. Yakni menjadi organisasi yang dinamis, adaptif, dan dipenuhi anak-anak muda progresif.

 

"Sehingga, NU menjadi organisasi kemasyarakatann yang disegani di percaturan dunia global dan juga NU yang mengakar kuat melayani umat, bangsa, dan negara," pungkasnya.


Metropolis Terbaru