• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 27 November 2022

Opini

Membincang Jaringan Ulama Indonesia dan Makkah

Membincang Jaringan Ulama Indonesia dan Makkah
katalog diterbitkan Musthafa Babi al-Halabi khusus berbahasa Nusantara. (Foto: NOJ/Istimewa)
katalog diterbitkan Musthafa Babi al-Halabi khusus berbahasa Nusantara. (Foto: NOJ/Istimewa)

Di sekitaran Masjidil Haram, selain orang Arab, Turki, Afrika dan orang dari Asia Selatan (Pakistan, India, Bangladesh), kita bakal banyak menjumpai orang Indonesia. Para askar, petugas kebersihan, maupun pedagang juga menguasai beberapa kosakata bahasa kita.

 

Saya membayangkan, satu-dua abad silam, kondisinya juga tidak jauh beda. Komunitas Jawi (orang Nusantara) punya segmentasi tersendiri dalam pergaulan internasional di kawasan Makkah. Jangan heran jika Belanda meminta Snouck Hurgronje mendatangi dan memata-matai Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, salah satu simpul terpenting jejaring Ulama Nusantara, pada 1884-1885. Sebab, ulama yang produktif berkarya ini menjadi guru, bukan hanya bagi orang Nusantara saja, melainkan bagi bangsa lain.

 

Sejak era Syekh Abdurrauf Assingkili, hingga zaman Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, bahasa Melayu juga digunakan sebagai pilihan berkomunikasi, baik dalam soal ekonomi maupun ideologi. Solidaritas dan identitas kultural sesama warga Nusantara juga menguat, termasuk pada saat melakukan pembelaan secara ilmiah atas hoaks yang beredar: orang Nusantara gemar makan ular!

 

Di awal abad XX, komunitas orang Nusantara memang dirusak karena makan belut. Orang Arab menganggap binatang ini sebagai ular. Maka, ramailah gosip jika kaum muslimin Nusantara suka melahap ular, binatang yang haram dikonsumsi. Karena hoaks ini semakin liar, maka Syekh Raden Mukhtar bin Atharid al-Bughury tampil mengklarifikasinya dengan menulis sebuah kitab. Tidak tebal, tapi cukup memberikan pemahaman mengenai seluk beluk belut dan hukum memakannya, berdasarkan keterangan ulama di kitab-kitab lawas. Kitab ini diberi judul As-Shawaiq al-Muhriqah li al-Awham al-Kadzibah fi Bayani hilli al-Belut wa ar-Raddu 'ala Man Harramahu. Kitab yang berarti Halilintar yang Membakar Prasangka Dusta; Kitab yang Menerangkan Kehalalan Belut dan Bantahan Terhadap Pihak yang Mengharamkannya ini diselesaikan pada tahun 1329 H/1911 M.

 

Dengan demikian, Syekh Mukhtar tidak hanya pasif dan diam saja melihat kabar liar dan olok-olokan soal belut. Yakni dengan tampil memberikan penjelasan komplit untuk menepisnya. Di hadapan para ulama non-Nusantara, Syekh Mukhtar memiliki independensi dan kepercayaan diri untuk tidak langsung menerima hukum keharaman memakan belut, melainkan justru memberikan sanggahan serta meluruskan hukum menyantapnya.

 

Keberadaan orang Nusantara memang membawa berkah. Penerbit Musthafa Babi al-Halabi, Mesir, bahkan mencetak kitab-kitab berbahasa Melayu dan Jawa karya ulama Nusantara untuk segmen pembaca di kawasan Haramain. Halaman yang saya foto ini merupakan bagian dari katalog yang diterbitkan Musthafa Babi al-Halabi khusus berbahasa Nusantara (kutub billughatil Jawiyyah), baik Melayu (seperti Sirath al-Mustaqim-nya Syekh Nuruddin Arraniri) maupun Jawa (Syarah Hikam Mriki, karya Syekh Sholeh Darat Assamarani). [Terimakasih Gurutta Ahmad Baso yang mengizinkan saya memfoto bagian dari katalog ini].

 

Berjubelnya orang-orang Nusantara di kawasan mulia ini mulai memudar seiring dominasi faham Wahabi yang semakin menguat di negara petrodolar ini dalam kurun 90 tahun terakhir. Filterisasi ideologi semakin menguat, dan keberadaan dua madrasah terkemuka yang menjadi jujugan orang-orang Nusantara di Makkah, Shaulatiyyah dan Darul Ulum, tidak lagi sekokoh fase keemasannya.

 

Yang pasti, kontribusi keilmuan para ulama Nusantara di Masjidil Haram menjadi salah satu era terbaik dan pembuktian bahwa ulama kita tidak kalah dengan para cendekia dari bangsa lain.

 

Amirul Ulum, dalam buku al-Jawi Al-Makki: Kiprah Ulama Nusantara di Haramain mencatat tidak kurang 25 ulama Nusantara yang berkiprah di Makkah di pengujung abad ke-19 hingga seabad setelahnya. Mereka berkontribusi pada keilmuan Islam melalui karya-karyanya, serta proses mengajarnya di Masjidil Haram, maupun di beberapa lembaga pendidikan.

 

Buku ini menarik, sebab banyak nama-nama ulama yang berkiprah di Makkah namun kurang populer di tanah leluhurnya, walaupun nama asal nenek moyangnya tetap disertakan di belakang namanya. Seperti Syekh Abdullah Durdum al-Fadani (Padang, Sumatera Barat), Syaikh Zakariya Bilah (Bela, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara), Syekh Abdul Fattah Al-Rawah (Rao, Pasaman, Sumatera Barat), Syekh Abdul Qadir al-Mindili (Mandailing, Tapanuli), Syekh Jinan as-Sariaki, Syekh Abdul Ghani al-Bimawi, Syekh Ali al-Banjari, Syekh Zainuddin al-Baweyani, dan sebagainya.

 

Di antara yang paling mencorong, tentu saja Syekh Yasin bin Isa Al-Fadani. Selain karena jaringan para muridnya yang luas, reputasi keilmuannya yang mencorong, juga karena karya tulisnya yang berjibun. Beberapa kali kunjungannya ke beberapa pesantren di Indonesia juga turut serta dalam melambungkan reputasinya sebagai al-Musnid ad-Dunya.

 

Wallahu a'lam bisshawab


Bersambung.....


Rijal Mumazziq Z adalah Rektor Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong, Jember dan mahasiswa program doktor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. 


Editor:

Opini Terbaru