• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 4 Februari 2023

Opini

Rahasia dan Keagungan Hari Tarwiyah dan Arafah

Rahasia dan Keagungan Hari Tarwiyah dan Arafah
Suasana di Arafah saat musim haji. (Foto: NOJ/FGv)
Suasana di Arafah saat musim haji. (Foto: NOJ/FGv)

Tahun ini, pelaksanaan ibadah haji seperti tahun kemarin tidak dapat dilaksanakan karena pandemi. Namun demikian harus diketahui bahwa Dzulhijah selain sebagai puncak ibadah haji, juga merupakan memiliki hari-hari yang sangat bersejarah. Tepatnya pada tanggal delapan dan sembilan, atau yang lebih dikenal dengan hari Tarwiyah dan hari Arafah. 

 

Sebenarnya kalau tidak ada wabah, pada hari tersebut semua umat Islam yang sedang melaksanakan ibadah haji berkumpul di Tanah Suci Makkah. Pada hari itu pula, mereka melebur menjadi satu, menghilangkan perbedaan dunia, dan menghapus segala sisa-sisa kemusyrikan dan kesombongan. Mereka berkumpul dari segala penjuru dunia sebagai manifestasi diri sebagai hamba Allah yang taat. Namun demikian dijelaskan bahwa mereka yang sudah memenuhi segala ketentuan haji, berbondong-bondong untuk memulai ibadah pada hari tersebut, dan puncaknya bertepatan pada 10 Dzulhijah.   

 

Disebut Tarwiyah
Imam Fakhruddin Ar-Razi (544-606 H) dalam salah satu masterpiece-nya mengatakan bahwa hari Tarwiyah merupakan hari kedelapan Dzulhijah yang mempunyai makna berpikir atau merenung. Karenanya, hari Tarwiyah identik dengan keadaan berpikir dan merenung tentang peristiwa yang masih dipenuhi keraguan.

 

 
Ia mengutip beberapa pendapat ulama perihal alasan di balik penamaan hari tersebut dalam kitabnya:


   فَفِيهِ ثَلَاثَةُ أَقْوَالٍ أَحَدُهَا: أَنَّ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَمَرَ بِبِنَاءِ الْبَيْتِ، فَلَمَّا بَنَاهُ تَفَكَّرَ فَقَالَ: رَبِّ إِنَّ لِكُلِّ عَامِلٍ أَجْرًا فَمَا أَجْرِي عَلَى هَذَا الْعَمَلِ؟ قَالَ: إِذَا طُفْتَ بِهِ غَفَرْتُ لَكَ ذُنُوبَكَ بِأَوَّلِ شَوْطٍ مِنْ طَوَافِكَ، قَالَ: يَا رَبِّ زِدْنِي قَالَ: أَغْفِرُ لِأَوْلَادِكَ إِذَا طَافُوا بِهِ، قَالَ: زِدْنِي قَالَ: أَغْفِرُ لِكُلِّ مَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الطَّائِفُونَ مِنْ مُوَحِّدِي أَوْلَادِكَ، قَالَ: حَسْبِي يَا رَبِّ حَسْبِيي. وَثَانِيهَا: أَنَّ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ رَأَى فِي مَنَامِهِ لَيْلَةَ التَّرْوِيَةِ كَأَنَّهُ يَذْبَحُ ابْنَهُ فَأَصْبَحَ مُفَكِّرًا هَلْ هَذَا مِنَ اللَّهِ تَعَالَى أَوْ مِنَ الشَّيْطَانِ؟ فَلَمَّا رَآهُ لَيْلَةَ عَرَفَةَ يُؤْمَرُ بِهِ أَصْبَحَ فَقَالَ: عَرَفْتُ يَا رَبِّ أَنَّهُ مِنْ عِنْدِكَ وَثَالِثُهَا: أَنَّ أَهْلَ مَكَّةَ يَخْرُجُونَ يَوْمَ التَّرْوِيَةِ إِلَى مِنًى فَيَرْوُونَ فِي الْأَدْعِيَةِ الَّتِي يُرِيدُونَ أَنْ يَذْكُرُوهَا فِي غَدِهِمْ بِعَرَفَاتٍ   

 

Artinya: Ada tiga pendapat di balik penamaan hari Tarwiyah. Pertama, karena Nabi Adam Alaihis Salam diperintah untuk membangun sebuah rumah, maka ketika ia membangun, ia berpikir dan berkata: Tuhanku, sesungguhnya setiap orang yang bekerja akan mendapatkan upah, maka apa upah yang akan saya dapatkan dari pekerjaan ini?’ Allah Subhânahu Wa Taala menjawab: Ketika engkau melakukan tawaf di tempat ini, maka aku akan mengampuni dosa-dosamu pada putaran pertama tahwafmu. Nabi Adam memohon: Tambahlah (upah)ku. Allah menjawab: Saya akan memberikan ampunan untuk keturunanmu apabila melakukan tahwaf di sini. Nabi Adam memohon: Tambahlah (upah)ku. Allah menjawab: Saya akan mengampuni (dosa) setiap orang yang memohon ampunan saat melaksanakan tawaf dari keturunanmu yang mengesakan (Allah). 

Kedua, sesungguhnya Nabi Ibrahim bermimpi ketika sedang tidur pada malam Tarwiyah, seakan hendak menyembelih anaknya. Maka ketika waktu pagi datang, ia berpikir apakah mimpi itu dari Allah atau dari setan? 


Ketika malam Arafah mimpi itu datang kembali dan diperintah untuk menyembelih, kemudian Nabi Ibrahim berkata: Saya tahu wahai Tuhanku, bahwa mimpi itu dari-Mu. 


Ketiga, sesungguhnya penduduk Makah keluar pada hari Tarwiyah menuju Mina, kemudian mereka berpikir tentang doa-doa yang akan dipanjatkan pada keeseokan harinya, di hari Arafah. (Fakhuddin Ar-Razi, Tafsir Mafatihul Ghaib, [Bairut, Darul Fikr: 2000], juz V, halaman: 324). 

 

Syekh Nidhamuddin Al-Hasan bin Muhammad bin Husein An-Naisaburi dalam kitab Tafsir an-Naisaburi menyatakan bahwa hari Tarwiyah mempunyai sejarah yang sangat luar biasa. Yaitu menjadi hari persiapan untuk bekal menuju ibadah haji. Orang-orang mengumpulkan air yang sangat banyak untuk dibagikan kepada calon jamaah haji. Mereka akan memberikan kepada jamaah setelah merasakan lelah dan dahaga ketika menempuh perjalanan menuju kota Makkah, atau mereka akan membagikan air-air yang telah dikumpulkan kepada para jamaah saat melaksanakan ibadah haji, mengingat gersangnya tanah Arab dan sedikitnya air saat itu. 

 

Ibaratnya, yang sedang melaksanakan ibadah haji merupakan orang yang sangat haus atas rahmat Allah. Karenanya, Allah telah mempersiapkan rahmat-Nya kepada mereka setelah melakukan ibadah, dengan diampuninya dosa. (Nidhamuddin An-Naisaburi, Tafsir an-Naisaburi , [Bairut, Dârul Kutub: 1999], juz I, halaman: 489). 

 

Disebut Arafah 
Hari Arafah merupakan hari kesembilan Dzulhijah. Sedangkan berkaitan dengan makna kata Arafah, ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan Arafah diambil dari kata i’tiraf (pengetahuan), karena pada hari Arafah umat Islam mengetahui dan membenarkan Al-Haqq (Allah) sebagai satu-satunya Dzat yang harus disembah, Allah merupakan Dzat Yang Agung. 

 

Ada juga ulama yang berpendapat bahwa Arafah diambil dari kata Arafa yang mempunyai makna bau yang harum. Artinya, dengan melaksanakan ibadah haji di Arafah, menunjukkan bahwa orang ingin bertobat kepada-Nya, melepas semua kesalahan yang pernah dilakukan, dan menghindar dari perbuatan dosa. Dengan demikian, secara tidak langsung orang sedang berusaha untuk mendapatkan surga di sisi Allah, dan kelak akan memiliki bau yang harum di dalam surga. 

 

Allah berfirman:

   يُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَها لَهُمْ (محمد: 6)   

 

Artinya: Dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenankan-Nya kepada mereka. (Muhammad: 6) 

 

Maksud ayat di atas sebagaimana yang disampaikan Imam Fakhruddin Ar-Razi adalah, sesungguhnya orang-orang yang berdosa ketika bertobat di tanah Arafah, sungguh mereka telah terlepas dari kotoran dosa, dan berusaha dengan (ibadah)nya di sisi Allah sehingga akan menjadi jiwa yang harum (terbebas dari dosa dan kesalahan). 

 

 

Menurut Ar-Razi, ada delapan alasan di balik penamaan tanggal sembilan Dzulhijah disebut hari Arafah.   
Pertama, sesungguhnya hari itu merupakan momentum dipertemukannya dua pasangan suami istri. Kerduanya sudah bersama dalam surga kemudian diusir ke dunia, dan akhirnya oleh Allah pada hari itu dipertemukan di tanah Arafah, Makkah, yaitu pertemuan Nabi Adam Alaihis Salam dengan Sayyidah Hawa. Dengan pertemuan itu, keduanya menjadi tahu (arafa) antara satu dengan lainnya. 

 

Kedua, malaikat Jibril mengajarkan tata cara melakukan ibadah haji pada Nabi Adam Alaihis Salam, dan ketika sampai di tanah Arafah, Jibril berkata kepadanya: Apakah engaku sudah tahu? Nabi Adam menjawab: Ya, tahu.  Karenanya, hari itu dikenal dengan hari Arafah (tahu).   

 

Ketiga, karena pada hari itu Nabi Ibrahim Alaihis Salam mengetahui (Arafah) kebenaran mimpi menyembelih putranya Ismail, yang ia alami dan membingungkan itu. 

 

Keempat, pada hari itu malaikat Jibril mengajarkan tentang tata cara melaksanakan ibadah haji kepada Nabi Ibrahim Alaimas Salam, dan membawanya menuju Arafah. Dan sesampainya di sana, Jibril bertanya: Apakah engkau tahu tentang cara tawaf dan di mana tawaf dilakukan? Nabi Adam menjawab: Ya, tahu.  

 

Kelima, Nabi Ibrahim pergi menuju Syam dan meninggalkan anaknya Nabi Ismail dan Istrinya Sayyidah Hajar di Makkah. Mereka tidak pernah bertemu selama beberapa tahun, kemudian oleh Allah dipertemukan tepat pada hari Arafah. 

 

Keenam, disebabkan peristiwa mimpi Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya Nabi Ismail sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.     

 

Ketujuh, karena pada hari itu orang yang sedang melakukan ibadah haji menamainya dengan kata Arafah ketika berhenti di tanah Arafah. 

 

Kedelapan, karena pada hari itu Allah memberitahukan (yata’arrafu) dan memberikan kabar gembira kepada orang yang sedang melaksanakan ibadah haji dengan ampunan (maghfirah) dan rahmat. (Ar-Razi, Tafsîr Mafâtîhul Ghaib, juz V, halaman 325).   

 

Keutamaan Tarwiyah dan Arafah 
Membahas keutamaan dan keagungan hari Tarwiyah dan Arafah atas tentu juga menjadi sangat penting dan perlu dipahami oleh semua umat Islam. 

 

Tentang keutamaan dan keagungannya, kedua hari tersebut mempunyai nilai yang sangat besar di sisi Allah. Terbukti dalam Al-Qur’an Allah berfirman: 

 

وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ (الفجر: 3)   

 

Artinya: Demi yang genap dan yang ganjil. (Al-Fajr: 3)   

 

Syekh Abu Hafs Umar bin Ali bin ‘Adil Ad-Dimisyqi mengutip pendapat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma yang berpendapat, maksud ayat di atas adalah hari Tarwiyah dan hari Arafah. Dalam kitabnya disebutkan:


   قَالَ ابْنُ عَبَّاس (الشَّفْعِ) يَوْمُ التَّرْوِيَةِ وَعَرَفَةَ (وَالْوَتْرِ) يَوْمُ النَّحْرِ   

 

Artinya: Ibnu Abbas berkata: (Maksud ayat) wassyaf’i yaitu hari Tarwiyah dan hari Arafah, dan maksud ayat wal watri, yaitu hari kurban. (Abu Hafs Ad-Dimisyqi, Al-Lubab fi Ulumil Kitab [Bairut, Dârul Fikr: 2005), juz III, halaman: 418).   

 

Kemuliaan dan keagungan kedua hari tersebut sangat nyata, di mana pada ayat di atas Allah bersumpah secara langsung atas nama kedua hari mulia itu. 
 

 

Wallahu A’lam. 
 

Sunnatullah, Pengajar di Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop Bangkalan.


Editor:

Opini Terbaru