• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 27 Juni 2022

Pendidikan

Halang Rintang Pementasan Teater di Tengah Pandemi

Halang Rintang Pementasan Teater di Tengah Pandemi
Anggota teater PBSI Unisma. (Foto: NOJ/humas)
Anggota teater PBSI Unisma. (Foto: NOJ/humas)

Malang, NU Online Jatim

Teater merupakan seni yang sulit dilakukan selama pandemi. Proses latihan panjang, serta begitu rumitnya produksi pentas membuat beberapa saat tidak ada pementasan. Begitu juga yang terjadi di Universitas Islam Malang (Unisma). Namun, kondisi pandemi tidak menjadi alasan untuk tidak berkarya. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Unisma berhasil melakukan pementasan virtual, dengan segala halang rintang. 

 

Pementasan mahasiswa PBSI Unisma tetap terlaksana meski kondisi pandemi. Pementasan tersebut berlokasi di sanggar kebudayaan Desa Caru Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Malang. Tidak seperti pementasan teater di masa normal, pementasan teater di tengah pandemi harus menerapkan protokol kesehatan. Pementasan yang dilakukan  dari hari Sabtu (23/01/2021) hingga Senin (25/01/2021) menampilkan empat naskah yaitu Kebo Nyusu Gudel karya Dheny Jatmiko, Pada Suatu Hari karya Arifin C Noer, RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang, serta Madekur dan Tarkeni karya Arifin C Noer. Teater tersebut merupakan pemenuhan dari tugas akhir mata kuliah praktik drama teater. Empat naskah dengan empat sutradara dilakukan melalui live YouTube dan Instagram. 

 

Bagi mahasiswa PBSI Unisma upaya untuk melakukan digitalisasi pementasan teater dilakukan dengan persiapan yang matang. Persiapan tersebut dilakukan selama tiga bulan guna memaksimalkan saat pementasan yang dilakukan secara virtual. Di samping itu, dalam pementasan juga sangat diperhatikan terkait protokol kesehatan. Ahmad Tabrani, Dosen Pascasarjana PBSI Unisma sekaligus pengampu mata kuliah praktik drama teater mewanti-wanti dan mengawasi secara penuh untuk menerapkan protokol kesehatan.

 

“Karena kami tidak mau menanggung resiko, mahasiswa kami bimbing untuk membuat pementasan virtual, tentu dengan protokol kesehatan yang memadai seperti ketersediaan alat pengukur suhu, hand sanitizer, dan masker itu wajib. Pementasan itu sendiri tidak seperti pada umumnya, yang melibatkan banyak orang. Kami konsep secara sederhana saja, dengan pengambilan video di suatu gedung melibatkan beberapa instrumen penting dalam teater mulai aktor, tata rias, tata panggung, dan pencahayaan,” katanya.

 

Sutradara naskah Kebo Nyusu Gudel bernama Lita Yudanti menjelaskan jika latihan mereka dilakukan secara tertutup dengan menerapkan protokol kesehatan.

 

“Jadi memang banyak rintangan, melakukan pementasan teater di tengah pandemi covid-19. Kami berupaya patuh pada protokol, bahkan pada setiap latihan kami batasi jumlah orang dan dilakukan secara berjarak,” ungkap Lita Yudanti Wahyusanti.

 

Sama dengan Lita, pimpinan produksi naskah RT Nol RW Nol berharap hasil latihan yang dilakukan dengan jerih payah dan tantangan dua kali lipat karena persiapan ekstra bisa memuaskan penonton.

 

“Dalam setiap pementasan, kami menggunakan tiga kamera, agar video yang dihasilkan lebih maksimal. Aktor sudah diinstruksikan untuk tetap jaga jarak,” jelas Komariyah, mahasiswa semester lima PBSI Unisma.

 

Bagi Mukti Irawan, sutradara naskah Madekur dan Tarkeni pementasan teater sebagai upaya katarsis di tengah pandemi.

 

“Kami berupaya menyajikan jalan keluar bagi kesuntukan masyarakat yang ada di rumah. Teater sebagai refleksi, naskah yang kami angkat rata rata tidak jauh dari permasalah masyarakat yang dihadapi saat ini. Kami berharap penampilan yang terlaksana secara virtual ini mampu menjadi bahan tontonan yang baik,” terang mahasiswa PBSI Unisma tersebut.

 

 

Editor: Risma Savhira


Pendidikan Terbaru