Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Bagaimana Cara Khusu saat Shalat?

Bagaimana Cara Khusu saat Shalat?
Sejumlah cara dapat dilakukan agar bisa khusu kala shalat. (Foto: NOJ/PIO)
Sejumlah cara dapat dilakukan agar bisa khusu kala shalat. (Foto: NOJ/PIO)

Materi khusu ini dibahas setelah istikamah atau rutinitas ibadah kita. Kalau istikamah menyangkut kuantitas, maka khusu ini berurusan dengan kualitas. Dalam ibadah, kuantitas didahulukan baru kita bicara kualitas. Seberkualitas apapun kita beribadah tapi kalau tidak rutin atau musiman saja, maka itu tidaklah lebih baik. Disebutkan bahwa istikamah atau rutinitas ibadah itu lebih baik dari seribu karamah atau seribu kemuliaan.

 

Nah setelah istikamah, baru kita perbaiki kualitas ibadah kita dengan cara khusu. Khusu ini adalah terkait kesempurnaan ibadah. Dalam khusu ini kita bicara kualitas, bukan sekadar formalitasnya.

 

Kita bicara khusu di dalam shalat. Khusu tidak masuk rukun shalat. Aktivitas yang masuk rukun shalat hanya tuma’ninah, yaitu diam sejenak sekira berucap subhalallah. Khusu tidak masuk sebagai rukun. Tapi subtansi shalat itu sebenarnya ada pada khusu itu.

 

Apakah khusu itu? Kita kembalikan ke pada ayat 45-46 dari surat al-Baqarah:

 

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

 

Artinya:  Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu. (Al-Baqarah: 45)

 

ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُوا۟ رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

 

Artinya: (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (Al-Baqarah: 46)

 

Dari ayat tersebut kita mendapatkan keterangan bahwa khusu adalah konsentrasi, kita sedang atau akan menemui Tuhan ketika kita sedang shalat. Orang yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika sedang shalat, terutama ketika sujud. Saat merendahkan diri serendah-rendahnya (pantat lebih tinggi dari kepala) lalu berucap Subhanallah Mahasuci Allah yang Maha Luhur Maha Tinggi, maka saat dekat itulah kita harus khusu. Pandangan kita selama shalat adalah ke tempat sujud.

 

Khusu itu ada di dalam shalat, namun harus kita persiapkan sebelum shalat. Caranya, selesaikan semua urusan sebelum shalat. Jangan sampai punya tanggungan yang masih kita pikir kan pada saat shalat: rapat, air cucian, kompor, lapar/makan, nonton drakor, ada tamu dan seterusnya. Selesaikan dulu.

 

Bisa jadi shalat tidak harus di awal waktu agar kita bisa khusu. Kita selesaikan dulu urusan, agar shalat bisa khusu. Jika urusan tidak mungkin selesai (belum titik), maka dipastikan sebelum shalat kita sudah merampungkan satu tahap (sudah koma), agar bisa khusu.

 

Perlu diingat, makmum biasanya lebih berpeluang untuk lebih tidak khusu, karena hanya mengikuti imam; melamun tidak konsentrasi. Keabsahan shalat makmum sudah ikut dengan keabsahan imam, namun khusu ini urusan makmum sendiri.

 

Sama dengan makmum adalah ketika kita shalat sendiri. Karena tidak sedang diawasi orang, kita kurang berkonsentrasi terhadap shalat. Kadang-kadang kita cepet-cepetan. Kadang-kadang lambat, bacaannya panjang tapi hayalan ke mana-mana. Tenangkan diri, tenangno atimu.

 

Cara khusu berikutnya adalah membiasakan berdzikir dan berdoa setelah shalat, biar kita tidak cepet-cepetan shalat lalu setelah itu lalu kabur. Secara psikologis kebiasaan dzikir setelah shalat akan menjadikan kita lebih tenang karena ketika shalat tidak membayangkan segera pergi, ada hal baik yang akan kita lakukan lagi setelah ini, yakni dzikir dan doa. Dan doa setelah shalat wajib adalah doa yang paling mudah diijabah Allah SWT, sama dengan doa di tengah malam.


Editor:
F1 Bank Jatim