Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Hadapi Tantangan ke Depan, Ketua NU Sidoarjo Ingatkan Pengurus untuk Berinovasi

Hadapi Tantangan ke Depan, Ketua NU Sidoarjo Ingatkan Pengurus untuk Berinovasi
Ketua PCNU Kabupaten Sidoarjo KH Maskhun, menyampaikan sambutan dalam acara pembukaan Konferensi MWCNU Waru, di Pesantren Mambaul Ulum, Kecamatan Waru, Ahad (07/02/2021). (Foto: NOJ/Yuli Riyanto)
Ketua PCNU Kabupaten Sidoarjo KH Maskhun, menyampaikan sambutan dalam acara pembukaan Konferensi MWCNU Waru, di Pesantren Mambaul Ulum, Kecamatan Waru, Ahad (07/02/2021). (Foto: NOJ/Yuli Riyanto)

Sidoarjo, NU Online Jatim

Menjelang satu abad usianya, Nahdlatul Ulama (NU) mengusung konsep tentang Islam Nusantara yang dilahirkan dalam Muktamar ke-33 NU di Jombang. Islam Nusantara memiliki tiga karakter utama, yaitu akulturasi dengan kultur, kontekstualisasi ajaran Islam, serta perangkulan nasionalisme (yang didefinisikan sebagai hubbul wathan) sebagai bagian dari iman.

 

Tidak sedikit tokoh dan ulama dunia yang berharap bahwa Islam akan bangkit dari Indonesia. Hal tersebut didasarkan pada situasi dan kondisi yang terjadi di negara-negara Islam Timur Tengah saat ini, yakni perang saudara yang tak kunjung usai. Oleh karenanya, mereka yakin dan optimis bahwa Islam akan bangkit dari negara berpenduduk muslim terbesar di seluruh dunia ini.

 

“Ini tentu menjadi tantangan besar bagi kita bersama. Besarnya harapan seiring dengan besarnya tantangan, apalagi pada saat kita nanti sudah memasuki era pasar bebas. Artinya, bahwa konsep Islam nusantara dan amaliah yang ada di bumi nusantara ini tentunya nanti akan diimpor oleh orang-orang Islam yang ada di luar,” kata Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sidoarjo KH Maskhun, saat menyampaikan sambutan dalam acara pembukaan Konferensi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Waru, di Pesantren Mambaul Ulum, Kecamatan Waru, Ahad (07/02/2021).

 

Menurut Kiai Maskhun, di Indonesia banyak ras, suku, agama, bahasa, tetapi bisa hidup damai sekali. Karena Islamnya adalah Islam model jamiyah NU. Hal inilah yang akhirnya dijadikan sebagai referensi oleh mereka. Sekaligus berharap bahwa Indonesia ke depan harus bisa menjadi negara dengan era kebangkitan umat islam.

 

“Ketika nanti kita sudah mengalami pasar bebas, NU yang diekspor keluar tidak hanya amaliahnya, bahkan juga ekonominya. Home industri kita ke depan harus bisa bersaing dengan produk-produk luar negeri,” tuturnya.

 

Dirinya menegaskan, bahwa kader-kader NU juga harus bisa mempersiapkan diri diantaranya melalui konferensi, dan di dalam materi konferensi ini harus ada evaluasi, sekaligus merencanakan progam, serta memilih pengurus baru yang akan diberi amanah.

 

“Program-program yang akan disusun, kalau kita klasifikasikan ada tiga. Yang pertama, kegiatan itu bersifat inovatif murni keinginan yang berbasis kearifan lokal yang bersifat infaq, selanjutnya kegiatan yang bersifat aspiratif ini harus seimbang dan saling sinergi dengan program, kegiatan di MWCNU Kecamatan Waru,” tegas Kiai Maskhun.

 

Adapun yang ketiga, kegiatan itu bersifat responsif  atau spontanitas dan tidak direncanakan. Contohnya saat pandemi dibentuk Satgas Covid-19 di tingkat ranting sampai cabang, atau kegiatan yang ada kaitannya dengan penguatan keagamaan.

 

“NU sudah punya perangkatnya, tinggal bagaimana kita bisa mengoptimalkan perangkat itu.Kita punya Nu Care-Lembaga Amil, Zakat, Infaq, Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) sebagai mobilisator dana dan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) yang bisa diterjunkan ke lokasi bencana. Jadi klasifikasi kegiatan ini harus dibingkai dalam program kerja kedepan,” pungkasnya.

 

 

Editor: Risma Savhira

PWNU Jatim