Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Ini Sejumlah Persyaratan yang Harus Dimiliki Pendidik Zaman Now

Ini Sejumlah Persyaratan yang Harus Dimiliki Pendidik Zaman Now
Halaqah dalam rangka Pelantikan HMP-PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UINSA Surabaya. (Foto: NOJ/Dawi FA)
Halaqah dalam rangka Pelantikan HMP-PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UINSA Surabaya. (Foto: NOJ/Dawi FA)

Surabaya, NU Online Jatim
Pendidikan merupakan hal penting karena menjadi salah satu faktor untuk menyejahterakan manusia. Namun di pihak yang salah, pendidikan justru menjadi sumber kehancuran.  

 

Sejumlah poin ini yang mengemuka pada halaqah sekaligus pelantikan Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HMP- PAI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Selasa (25/2). Kegiatan yang dipusatkan di gedung Self Acces Center (SAC) lt 3 kampus setempat tersebut membahas kebutuhan generasi pendidik menghadapi zaman now yakni Revolusi Industri 5.0. 

 

Mohammad Faizin selaku narasumber pertama menjelaskan bahwa dalam kehidupan tidak ada yang abadi. 

 

“Penggambaran dinamisnya kehidupan seperti anak kecil yang mulanya merangkak akan terus mengalami perubahan sampai akhirnya mampu untuk berjalan,” katanya. 

 

Disampaikannya bahwa untuk menjadi pendidik yang baik, seorang guru tidak cukup mentransfer keilmuan yang telah diperoleh. 

 

“Pengajar yang baik tidak mengajarkan apa yang diterima pada masa lalu, kemudian ditransfer pada masa sekarang. Kalau hanya seperti itu maka akan kalah dengan google,” ucapnya.

 

Karenanya, pendidik harus mampu menyeimbangkan dengan zaman saat ini. Untuk mempersiapkan generasi pendidik di masa mendatang, maka seorang guru harus menjadi humanistik. Maksutnya, tidak boleh mengolok-olok murid, namun memperlakukan seperti teman, kawan bahkan sahabat.

 

“Jangan menghina siswa yang kita ajar. Mungkin 10 tahun lagi ia akan menjadi orang yang berhasil. Bisa saja nasib mengalahkan nasab,” tegas Kepala Program Studi PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut.

 

Merujuk pada Undang-Undang guru dan dosen tahun 2005, maka seorang pendidik harus menguasai 4 kompetensi dasar, yaitu kompetensi paedagogik, kompetensi pendidikan, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

 

“Pada kompetensi paedagogik, guru diharapkan mampu mengajar yang baik. Seorang pendidik harus memahami perangkat pembelajaran dan metode pembelajaran,” jelasnya. 

 

Selanjutnya yaitu kompetensi kepribadian yakni pada kompetensi ini sosok guru harus bisa dicontoh sekaligus menjadi cermin bagi setiap peserta didiknya. 

 

Lalu ada juga kompetensi sosial dan profesional dengan memahami cara mengajar serta mampu menjadi sosok uswatun hasanah, menyediakan kebutuhan-kebutuhan di masyarakat. 

 

“Dan saya mengingatkan bahwa hal tersebut tidak akan maksimal tanpa adanya penguasaan materi mengajar dengan kompetensi profesional.  Maka, pendidikan seorang guru minimal S-1,” tegasnya.

 

Sedangkan menurut Muhammad Fahmi selaku pemateri kedua, ada 3 hal yang perlu disiapkan pendidik di era Revolusi Industri 5.0. 

 

Pertama, penguasaan teknologi karena hal ini dapat dilihat dari perlunya generasi Z terhadap teknologi.

 

“Meski tidak ahli, pendidik harus menguasai teknologi,” ungkap Sekretaris Program Pendidikan PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini.

 

Penguasaan pendidik pada teknologi membuat pembelajaran semakin menarik. Selain itu diingatkan bahwa maksimal kemampuan manusia dalam mendengarkan hanya pada 15 hingga 20 menit pertama, setelahnya konsentrasi akan pecah. 

 

“Jika seorang pendidik hanya berpacu pada metode menjelaskan, hal ini bisa menjadi sebab tidak maksimalnya sebuah pembelajaran,” urainya.

 

Hal kedua yang harus diperhatikan guru harus menjadi sosok rahmatal lil alamin. Yakni bahwa seorang guru harus mapu memagari peserta didiknya dari ajaran-ajaran Islam radikal. 

 

Dirinya menjelaskan banyak kelompok yang tidak toleran dalam mengajarkan Islam. Padahal, ajaran Islam di pendidikan formal ialah apa yang telah diwarisi dari Nabi Muhammad SAW yakni mengajar bukan mengejek, merangkul bukan memukul, dan beragumen tanpa sentimen. 

 

“Inilah yang harusnya diteladani dan diterapkan dalam mendidik,” ungkapnya.

 

Yang juga penting adalah menghargai orang lain dan tidak harus sama persis dengan pendapatnya. Yang terpenting ialah saling menghargai satu sama lain. 

 

Diterangkan pula bahwa dalam pembelajaran terdapat tiga poin penting, yaitu humanisasi, liberarisasi, dan transedensi. 

 

“Liberarisasi yang dimaksud ialah pendidikan Islam mampu menjadi pembebasan dari kemiskinan, ketidakberdayaan dan keterbelakangan. Sedangkan maksud dari transedensi ialah peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT,” terangnya. Kehidupan tidak hanya berhenti pada dunia, juga harus mempersiapkan kehidupan usai kematian, lanjutnya.

 

Hal berikutnya yang harus diperhatikan pendidik yakni profesional dan penguasaan materi. Bahwa untuk menjadi pendidik di era Revolusi Industri 5.0 seorang guru sebaiknya menjadi sosok yang humanistik dan profesional.

 

“Juga mampu menguasai teknologi, serta menjadi sosok yang rahmatan lil alamin,” pungkasnya.

 

Kontributor: Dawi FA
Editor: Syaifullah
 

PWNU Jatim Harlah