Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Ziarah Virtual Muassis di Pesantren Tebuireng, Ini Pesan Gus Kikin

Ziarah Virtual Muassis di Pesantren Tebuireng, Ini Pesan Gus Kikin
KH Abdul Hakim Mahfud saat sambutan dalam acara ziarah virtual muassis NU, Kamis (25/02/2021). (Foto: NOJ/ Abu Aman).
KH Abdul Hakim Mahfud saat sambutan dalam acara ziarah virtual muassis NU, Kamis (25/02/2021). (Foto: NOJ/ Abu Aman).

Surabaya, NU Online Jatim

Ziarah Muassis secara virtual dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-98 Nahdlatul Ulama (NU) dilaksanakan di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Kamis (25/02/2021). Kegiatan ini diikuti dari 98 titik se-Jawa Timur (Jatim).

 

KH Abdul Hakim Mahfud mengatakan, acara ziarah makam muassis NU di Jombang penting untuk dilaksanakan. Terutama dalam rangka memperingati Harlah NU. Hal ini tidak lepas guna menghormati, menghargai kontribusi serta teladan ulama-ulama NU terdahulu.

 

“Ini sangat penting. Satu hal kita berhikmat kepada NU. Itu termasuk salah satunya, kita harus menghormati muassis,” kata Gus Kikin sapaan KH Abdul hakim Mahfud saat memberikan sambutan dalam acara ziarah muassis virtual.

 

Pengasuh Pondok Pesantren Teuireng tersebut menambahkan, berhikmat di NU seharusnya mengikuti serangkaian kegiatan dan ajaran muassis.

 

“Kemudian kalau kita berhidmat di dalam organisasi, di dalam jam’iyah Nadlatul Ulama ini, saya sendiri ingat yang ditinggalkan oleh hadaratussyeikh (KH Hasyim Asy’ari) dalam tulisan beliau di Risalah Ahlussunah wal Jamaah, bahwasannya NU ini mulai muncul dari apa yang dirintis oleh leluhur kita, yaitu dari golongan Ahlusunnah wal jamaah,” tambahnya.

 

Gus Kikin menceritakan, sejak lama Mbah Hasyim menginginkan NU tidak meninggalkan Indonesia dengan Islam yang berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits.

 

“Yang mana dimuali sejak zaman kerajaan dahulu. Jadi di situ, Hadratussyeikh menuliskan bahwa sejak zaman dahulu kala di Indonesia khususnya di Nusantara ini memang Islam itu Islam Ahlussunah Wal jamaah,” ceritanya.

 

Ia melanjutkan ceritanya, zaman dahulu Indonesia memiliki satu aliran imam dalam melaksanakan ajaran Islam. Sehingga dengan satu aliran tersebut, tidak ada yang namanya percekcokan ataupun perdebatan.

 

“Dengan satu madzhab yaitu madzhab Imam Syafii, dan itu berlangsung cukup lama dan tidak pernah ada perselisihan di dalam menjalankan kegiatan-kegiatan keagamaan,” lanjutnya.

 

Gus Kikin meneruskan, semenjak ada golongan-golongan berada di Indonesia, menimbulkan beberapa perselisih paham serta membuat masyarakat kebingungan. Padahal dari sejarahnya, Indonesia hanya mengimami Madzhab Syafii.

 

 

“Kemudian sejak tahun 1300 hijriah, banyak aliran-aliran macam-macam masuk ke Indonesia. Sehingga membingungkan masyarakat di Indonesia yang mana selama ini mengikuti satu madzhab yaitu Madzhab Imam Syafii,” pungkasnya.

 

Editor: Romza

Iklan promosi NU Online Jatim