Surabaya, NU Online Jatim
Sebagaimana yang kerap diperingati dalam setiap tahunnya, Gerakan Pemuda Ansor atau GP Ansor lahir pada 24 April 1934 M. Hal tersebut berdasarkan hasil ketetapan Muktamar ke-9 NU di Banyuwangi, Jawa Timur.
Tepat hari ini, pada Kamis, 24 April 2025, adalah Hari Lahir (Harlah) ke-91 GP Ansor. Harlah kali ini mengusung tema ‘Satu Barisan Membangun Negeri’.
ADVERTISEMENT BY OPTAD
Sejak awal berdirinya, GP Ansor telah mengalami 13 pergantian ketua umum, mulai dari KH M Thohir Bakri pada masa khidmat 1934-1949 di masa awal, hingga kepemimpinan H Addin Jauharuddin yang menakhodai GP Ansor di masa sekarang.
Berdasarkan data yang tercantum pada laman NU Online dan Ensiklopedia Khittah NU Jilid 2 yang ditulis Nurkholik Ridwan, para Ketua Umum GP Ansor ialah sebagaimana berikut:
ADVERTISEMENT BY ANYMIND
- KH M Thohir Bakri (1934-1949)
- KH Chamid Wijaya (1949-1954)
- KH Imron Rosyadi (1954-1963)
- KH Chamid Wijaya (1963-1967)
- KH Yahya Ubaid (1967-1980)
- KH Chalid Mawardi (1980-1985)
- KH Slamet Effendi Yusuf (1985-1995)
- H M Iqbal Assegaf (1995-1999)
- H Saifullah Yusuf (Pjs. 1999-2001)
- H Saifullah Yusuf (2001-2010)
- H Nusron Wahid (2010-2015)
- H Yaqut Cholil Qoumas (2015-2024)
- H Addin Jauharuddin (2024- sekarang)
Sejarah GP Ansor
Kelahiran GP Ansor dari rahim Nahdlatul Ulama (NU) diawali situasi “konflik” internal dan tuntutan kebutuhan alamiah. Kelahiran GP Ansor diwarnai oleh semangat perjuangan, nasionalisme, pembebasan, dan epos kepahlawanan.
Dilansir dari NU Online, konflik dimaksud berawal dari perbedaan antara tokoh tradisional dan tokoh modernis yang muncul di tubuh Nahdlatul Wathan, organisasi keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan Islam, pembinaan mubaligh, dan pembinaan kader.
ADVERTISEMENT BY OPTAD
KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai tokoh tradisional dan KH Mas Mansyur yang berhaluan modernis, akhirnya menempuh arus gerakan yang berbeda, justru saat tengah tumbuhnya semangat untuk mendirikan organisasi kepemudaan Islam.
Dua tahun setelah perpecahan itu, pada 1924 para pemuda yang mendukung KH Abdul Wahab –yang kemudian menjadi pendiri NU– membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air). Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor setelah sebelumnya mengalami perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO).
ADVERTISEMENT BY ANYMIND
Nama Ansor ini merupakan saran KH Abdul Wahab, seorang ulama besar sekaligus guru besar kaum muda saat itu, yang diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah.
Meski ANO (yang kelak disebut GP Ansor) dinyatakan sebagai bagian dari NU, secara formal belum tercantum dalam struktur organisasi NU. Hubungan ANO dengan NU saat itu masih bersifat hubungan pribadi antar tokoh. Baru pada Muktamar ke-9 NU di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain: Ketua H.M. Thohir Bakri; Wakil Ketua Abdullah Oebayd; Sekretaris H. Achmad Barawi dan Abdus Salam. (Diolah dari berbagai sumber).
ADVERTISEMENT BY ANYMIND