• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Keislaman

Hikmah Hijrah Nabi Muhammad ke Madinah

Hikmah Hijrah Nabi Muhammad ke Madinah
Ilustrasi sedang melakukan hijrah (Foto:NOJ/bincangsyariah)
Ilustrasi sedang melakukan hijrah (Foto:NOJ/bincangsyariah)

Kata hijrah mengingatkan pada kisah Nabi bersama sahabat lainnya saat melakukan hijrah dari kota Makkah ke Madinah. Hijrah dilakukan karena ada tekanan, ancaman, dan tindakan yang membahayakan Nabi bersama sahabat lainnya.


Sejarah mencatat, beragam upaya dilakukan pemuka Quraisy untuk menghentikan dakwah Nabi di Makkah, salah satunya adalah memancing dan memperalat Abu Thalib (paman Nabi) agar membujuk Nabi meninggalkan dakwahnya.


Berhubung Abu Thalib sangat cinta pada keponakannya, Abu Thalib mencoba membujuk, khawatir bakal ada kekerasan yang akan mencederai Nabi dan sahabatnya. Bujukan tersebut membuat Nabi tidak melunturkan keyakinannya. Rasulullah berkata.


وَاللهِ يَاعَمٌّ، لَوْ وَضَعُوْا الشَّمْسَ فِى يَمِيْنِيْ وَالْقَمَرَ فِى يَسَارِيْ عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الْأَمْرَ (أى نَشْرَ الْإِسْلَامِ) مَاتَرَكْتُهُ حَتَّى يُظْهِرَ اللهُ أَوْ أَهْلِكَ دُوْنَهُ. رَوَاهُ أَبُو إِسْحَاقَ وَابْنُ سَعْدٍ عَنِ الْإِمَامِ عَلِيّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ


Artinya : Demi Allah wahai paman. Seandainya mereka itu menaruh matahari di sebelah kananku dan bulan di sebelah kiriku dengan niat agar aku meninggalkan tugas ini (menyebarkan syariat Islam), tak akan kutinggalkan hingga Allah memproklamirkan (mensukseskannya) atau lebih baik binasa karenanya.


Dalam riwayat lain menyatakan.


يَاعَمَّاهُ، وَاللهِ لَوْ وَضَعُوْا الشَّمْسَ عَنْ يَمِيْنِي وَالقَمَرَ عَنْ يَسَارِيْ عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يُظْهِرَهُ اللهُ أَوْ أَهْلِكَ فِيْهِ مَاتَرَكْتُهُ، ثُمَّ بَكَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَامَ فَلَمَّاوَلَّى نَادَاهُ أَبُوطَالِبٍ فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ أَوْ قَالَ، إِذْهَبْ يَا ابْنَ أَخِيْ فَقُلْ مَا أَحْبَبْتَ وَاللهِ لَا أُسَلِّمُكَ لِشَيْءٍ أَبَدًا. بإسناد لابأس به


Artinya : Wahai paman, demi Allah. Seandainya mereka meletakkan matahari di sebelah kananku dan bulan di sebelah kiriku, agar aku meninggalkan persoalan ini (penyebaran agama Islam), tak akan kutinggalkan hingga disukseskan oleh Allah atau lebih baik aku gugur karenanya. Kemudian Nabi mencucurkan air mata dan bangkit (berdiri). Dan pada saat beliau melengahkan kaki akan pergi, dipanggil oleh Abu Thalib, maka datang menghadaplah beliau. Dan berkata, "Silahkan pergi wahai putra saudaraku (keponakanku). Dan katakanlah apa saja yang engkau hendaki. Demi Allah aku tak akan menyerahkanmu kepada siapa dan untuk apapun jua.


Puncak tekanan yang sangat membahayakan nyawa Nabi adalah pasca wafatnya Abu Thalib, karena pimpinan yang sebelumnya dipegang oleh Bani Hasyim jatuh pada Abu Lahab, sehingga sanak famili Nabi lainnya tidak memberikan perlindungan. Selain itu, atas petunjuk Allah lewat mimpinya, Nabi memerintahkan pada sahabat untuk melakukan hijrah secara bergelombang, baik dilakukan sendiri ataupun berkelompok.


وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِين 


Artinya: Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya. (QS Al-Anfal: 30).


Kitab Khulasah Nurul Yaqin menceritakan, Nabi menyusul rombongan lainnya dengan alasan, yang paling dimusuhi adalah Nabi sendiri. Untuk mengelabuhi musuh, Nabi mengambil jalur berbeda dengan jalur yang biasa ditempuh masyarakat Makkah. Sebelum fajar menyingsing, Nabi mengambil jalur gua Tsur yang berjarak 6-7 kilometer dari Makkah.


Berbeda dengan masyarakat Madinah yang terang-terangan menyatakan siap menerima dan membantu mensyiarkan Islam. Di sanalah Nabi membina dan menyiarkan Islam secara bebas dan perlahan membentuk front untuk melawan kekejaman orang-orang yang tidak suka pada Islam. 


Jika dianalisa, begitu rapinya strategi Nabi merancang dakwah, meskipun banyak tantangan yang dihadapinya. Sebagai pemimpin, Nabi bertanggung jawab atas kesemalatan umat dan negaranya (Madinah). Dengan demikian, hijrah tidak sekedar diartikan berpindah tempat, tetapi berpindah dari tempat yang tidak baik menuju ke tempat yang lebih baik. 


Keislaman Terbaru